SIRAH NABAWIYAH

12 Poin Penting yang Jarang Terungkap dalam Peristiwa Hijrah ke Habasyah

“Betapa kehidupan dunia ini tanpa wahyu, bagaikan tanah tandus tanpa hujan”

Hijrah ke Habasyah merupakan hijrah hakiki (fisik) yang pertama kali dilakukan umat Rasulullah Muhammad SAW, peristiwa tersebut terjadi bulan Rajab tahun kelima kenabian. Tidak sampai dua tahun setelah dimulainya fase dakwah jahriyyah (terang-terangan) Rasulullah SAW.

Sebab terjadinya hijrah ke Habasyah sebagaimana dituturkan sejarawan Mesir Muhammad Husain Haikal adalah karena “gangguan terhadap Muslimin semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Waktu itu Muhammad SAW menyarankan mereka (umatnya) pergi terpencar-pencar. Ketika ditanya ke mana mereka akan pergi, mereka diberi nasihat untuk pergi ke Abisinia (Habasyah) yang rakyatnya menganut agama Kristen.” (Muh. Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, h. 130). Ada beberapa point penting yang jarang diungkapkan dalam kitab-kitab sirah Nabawiyah, berikut ulasan sejarahnya.

Pertama, memang pada dasarnya hijrah ini adalah guna menentukan satu tempat baru yang bisa mengkondisikan para sahabat agar bisa hidup aman. Kaum Muslimin membutuhkan tempat yang aman dan kondusif dalam menjalankan agamanya. Namun demikian, adalah keliru menganggap bahwa para sahabat tersebut takut akan siksaan dan ujian. Para sahabat radhiallahu’anhum akan tetap beriman dengan segala kondisi, karena mempertahankan keimanan itu sendiri memang dibutuhkan kesabaran. Tetapi di sini penekanannya ada pada sisi Rasulullah SAW. Rasulullah memang harus tetap berdakwah apa pun yang terjadi, seberat apa pun rintangannya, tetapi jangan lupa bahwa beliau memiliki hubungan emosi dan kecintaan yang besar pada umatnya. Maka agar beliau bisa tenang dalam berdakwah, sebagian dari umatnya diperintahkan agar hijrah ke Habasyah. Sabda Rasulullah kepada umatnya, “Sesungguhnya di negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorang pun terzhalimi di bawah perlindungannya” menunjukkan beliau tidak ingin melihat sahabat-sahabatnya dizhalimi sedemikian rupa di Makkah, karena itu beliau memerintahkan mereka untuk berhijrah.

Kedua, mayoritas kaum Muslimin banyak dari kaum muda yang masih bersemangat, bergejolak dan pemberani maka hijrah ini juga berguna demi menghindari konfrontasi fisik para sahabat dengan Quraisy. Dengan berhijrah ke Habasyah, gejolak emosi karena ditindas, serta pertentangan fisik yang bakal terjadi dapat dihindari (Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah (Jakarta: Qisthi Press, 2006), h. 131). Hijrah untuk menyelamatkan sebagian sahabat yang lemah ini diisyaratkan Allah SWT melalui surat Az-Zumar ayat 10,“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan, bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Ketiga, tidaklah benar jika dikatakan hijrah ke Habasyah hanya kebetulan semata, melainkan sudah direncanakan dengan matang oleh sayyidul mursalin. Rasulullah sebagai orang yang mumpuni dalam hal menerima kabar dan informasi dari berbagai negeri sudah mengetahui bahwa Ashamah An-Najasyi, raja Habasyah ketika itu, adalah seorang raja yang adil. Keadilan Ashamah bisa digambarkan dari orang-orang asing yang ada di wilayah kekuasaannya. Bagi raja Habasyah tersebut, orang-orang asing yang berada di wilayahnya akan dianggap sebagai tanggung jawabnya, orang asing dan pengunjung punya kedudukan setara dengan rakyatnya sendiri, maka ia pun dikenal luas sebagai raja yang adil. Hubungan Habasyah dan Makkah sudah terjalin sejak dahulu kala khususnya di bidang perdagangan, oleh karena itulah pertukaran berita-berita dan informasi seputar Habasyah-Makkah berjalan dengan baik. Secara strategis, kerajaan Habasyah punya hubungan erat dengan Makkah melalui laut merah, jaringan dagang melalui pelabuhan Syu’aibah (kadang disebut Syaiban), dengan ekspor dan impor yang telah berjalan sejak lama. Sebelum Makkah jadi pusat perdagangan di jazirah Arab, ada pelabuhan di Yaman yang menjadi pusat perdagangan, tetapi karena di wilayah itu perdagangannya mundur, maka sebagai gantinya pelabuhan utama jazirah Arab mendekat ke Makkah sebagai pusat perdagangan, pelabuhan tersebut tidak lain adalah Syu’aibah.

Keempat, Raja Najasyi adalah raja Nasrani yang punya kekuatan serta kedaulatannya sendiri. Memang boleh juga dikatakan Habasyah semacam “negara satelit” Romawi Byzantium di Abad Pertengahan akan tetapi sekte Kristennya berbeda dengan gereja Byzantium dan Romawi Barat. Ashamah An-Najasyi sendiri secara pribadi tidak meyakini teologi trinitas sebagai doktrin ajaran Kristen yang telah umum di kala itu.

Kelima, umat Islam yang berhijrah berjumlah 16 orang, dengan terdiri dari 12 orang laki-laki dan empat orang wanita. Mereka dipimpin oleh seorang sahabat yang juga saudagar dan terpandang kedudukannya yakni Utsman bin Affan. Utsman mengajak pula istrinya yang juga putri Rasulullah, Ruqayyah binti Muhammad SAW. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan dalam kitab Zadul Ma’ad bahwa Rasulullah SAW bersabda “Mereka berdua adalah penduduk Baitul-Haram pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth,” sebagaimana yang tercantum pula dalam kitab Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Rombongan yang dipimpin oleh Utsman bin Affan ini membuktikan bahwa sejak awal wanita Muslimah sudah terlibat akan geliat perjuangan dakwah Islam karena Utsman sendiri ditemani istrinya yang juga putri dari Rasulullah SAW, Ruqayyah. Ikut sertanya Ruqayyah sebagai istri ‘ketua diplomat’ Utsman dan juga putri dari Rasulullah SAW pembawa risalah Islam, dapat semakin meyakinkan Raja An-najasyi bahwa mereka itu ditindas dan dizhalimi oleh kaumnya sendiri (Quraisy). Bahkan tentu kehormatan tersendiri sebagai raja yang dikenal adil menerima kedatangan putri pembawa risalahnya, yang juga istri dari saudagar terkenal Quraisy yang punya jaringan dagang di Habasyah.

Keenam, kaum Muslimin yang juga pembesar Quraisy seperti Utsman bin Affan telah lama memiliki akses dagang ke Habasyah. Utsman juga keturunan Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay yang merupakan saudara Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay (kakek buyut Rasulullah). Hasyim, Abdu Syams dan saudara-saudaranya telah memiliki akses dan perjanjian dagang yang terkenal disebut ilaf, baik ke negeri Syam, Habasyah, Persia maupun Yaman. Nah, Abdu Syams inilah yang kebagian memegang ilaf ke wilayah Habasyah. Dalam rombongan itu ada dua pria keturunan Adu Syams yakni Utsman bin Affan dan Abu Hudzaifah bin Utbah, tentunya keduanya memiliki keluarga besar yang sudah lama berhubungan dengan raja-raja Habasyah. Itu mengapa Utsman yang ditunjuk sebagai pemimpin rombongan. Dengan itu, Raja Habasyah pun tidak akan menganggap kaum Muslimin sebagai kaum yang benar-benar asing dan tak dikenal.

Ketujuh, Jika ditelaah lebih mendalam, ada hal unik di dalam peristiwa hijrah ke Habasyah yang pertama, yakni hijrah itu seharusnya untuk menyelamatkan kaum Muslim yang lemah dan tertindas, akan tetapi pada kenyataannya yang hijrah ke Habasyah pada gelombang pertama justru merupakan orang-orang kuat, berkedudukan dan terpandang di Makkah, terutama Utsman bin Affan dan Abu Hudzaifah bin ‘Utbah dari Bani Abdu Syams, Zubair bin Awwam dari Bani Asad, Mus’ab bin Umair dari Bani Abd Dar, serta Abdurrahman bin Auf dari Bani Zuhrah. Nama para sahabat yang dipandang lemah seperti Bilal, Shuhaib, Khabbab, atau Amar bin Yasir justru tidak ikut berhijrah. Bisa dikatakan dari 16 orang yang berhijrah tidak ada satu pun orang yang dipandang lemah di masyarakat Makkah. Rata-rata orang yang berhijrah ke Habasyah yang pertama merupakan para pedagang dan saudagar. Suatu pelajaran yang dapat dipetik, dipilihnya para saudagar yang memiliki jaringan dagang kuat ini tidak lain untuk akses ke raja Ashamah An-Najasyi. Kaum Muslimin berlatar belakang saudagar adalah para pionir hijrah ke Habasyah demi memperlancar akses dan proses diplomasi, dengan demikian secara tersirat Rasulullah akan mengirimkan gelombang muhajirin berikutnya untuk berhijrah ke Habasyah.

Kedelapan, Selain itu Rasulullah juga dalam rangka menanamkan tarbiyah Islamiyah agar sahabat yang memiliki darah Quraisy, berkedudukan terpandang dan memiliki kekayaan bisa belajar meninggalkan tanah air mereka tercinta Makkah, demi menjaga aqidah Islam. Itu sebagai penyiapan jiwa (mental) dan latihan, kaum lemah, baik dari kalangan budak dan non-Quraisy mereka bukan penduduk asli dan tidak memiliki ikatan kuat dengan Makkah. Latihan menghilangkan ikatan kesukuan, kebangsaan dan cinta tanah air, sebaliknya demi meningkatkan kecintaan dan ikatan aqidah Islam lebih dari sesuatu apa pun. Makkah dipandang bangsa Arab secara keseluruhan sebagai “ummul qura” pusat keramaian dan kegiatan keagamaan bangsa Arab. Para sahabat yang berasal dari pembesar Quraisy diharuskan meninggalkan itu semua demi aqidah Islam dan keluasan menjalankan ibadah.

Kesembilan, berbeda dengan umumnya narasi kitab-kitab sirah Nabawiyah yang menyatakan ketika muhajirin berhijrah ke Habasyah secara kebetulan ada kapal-kapal di pelabuhan Syu’aibah yang hendak bertolak ke negeri Habasyah. Kapal-kapal tersebut sesungguhnya sudah memilki jadwal ke Habasyah, tidak benar disebut kebetulan, melainkan sudah diperhitungkan dengan matang oleh Rasulullah dan para sahabat yang berasal dari kalangan saudagar Quraisy.

Kesepuluh, Bukan hanya hijrah, motif lain para muhajirin berhijrah adalah menyebarkan agama Islam di luar Makkah. Itu terbukti saat Hijrah ke Habasyah kedua (gelombang kedua) yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib, ada riwayat pernyataan dari Ja’far bahwa ia mendapat amanah dari Rasulullah SAW untuk menyebarkan Islam. Ashamah An-Najasyi sendiri nampaknya tidak berkeberatan dan tidak memperlakukan mereka sebagai orang asing seperti layaknya raja-raja di masa tersebut. Itu karena kemampuan bayan dakwah dari Ja’far mengungkapkan ketinggian nilai-nilai ajaran Islam dan mengungkapkan persamaan-persamaannya dengan Nasrani meskipun demikian aqidah pokok bahwa Isa adalah hamba dan rasul Allah tetap dilontarkan Ja’far pada raja dan pembesar Habasyah. An-Najasyi sebagai raja Habasyah memperlakukan kaum muhajirin seperti rakyatnya sendiri, bahkan punya perhatian khusus kepada mereka. Bukti lain ialah pertemuan Ja’far dengan Abu Musa Al-Asy’ari beserta rombongannya ketika tiba di negeri Habasyah, Ja’far berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus kami ke sini dan menyuruh kami tinggal di sini, maka tinggalah bersama kami.” (Shahih Al-Bukhari, al-Fath 5/237) Umat Islam memberikan keteladanan dan menunjukkan adab-komunikasi yang baik terhadap An-Najasyi dan para pembesar Habasyah. Kaum Muslimin sengaja mengikat hati para pembesar Habasyah sebelum meminta perlindungan dan mengakui bahwa An-Najasyi adalah raja yang adil (klimaksnya ada dalam pidato Ja’far di hijrah habasyah kedua yang terkenal itu). Sudah sepatutnya kaum Muslimin saat ini mempelajari bayan dakwah Ja’far di hadapan An-Najasyi dan para pembesar Habasyah itu, diplomasi dan pidatonya itu merupakan metode dakwah yang sangat berharga.

Kesebelas, turut sertanya Abdurrahman bin Auf juga bisa mengakomodasi orang-orang yang akan hijrah ke habasyah selanjutnya, mengingat di kalangan Quraisy, Abdurrahman adalah seorang saudagar yang sukses.

Kedua belas, sahabat Nabi dari Bani Asad kerabat Khadijah dan keponakan beliau, Zubair bin Awwam sang hawari Rasulullah, sangat berpotensi menjelaskan karakteristik agama Nasrani kepada rekan-rekan muhajirinnya untuk bekal di hadapan pembesar Habasyah. Mengingat beberapa pamannya seperti Utsman bin Huwairits serta Waraqah bin Nufail, adalah para pakar agama Nasrani dan mengetahui prinsip-prinsip agamanya. Sangat memungkinkan pemuda pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah ini punya andil besar dengan pengetahuannya mengenai agama Nasrani, sebagai agama resmi di Habasyah, mengingat setidaknya ada dua anggota keluarganya yang pakar agama Nasrani.

Ilham Martasyabana
Penggiat Sirah Nabawiyah & pemegang ijazah sanad hadits Arbain Imam Nawawi

ARTIKEL TERKAIT

Close