BEAUTY

Perempuan Bersinar dengan Islam

Allah Swt telah memberikan fitrah yang berbeda, baik kepada laki-laki maupun perempuan. Oleh karenanya, tidaklah proporsional jika menempatkan setara laki-laki dan perempuan secara dipaksa, apalagi terkait dengan fungsi dan perannya masing-masing. Namun, tetaplah kedudukan mereka adalah sama di mata Allah Swt dan pada hakikatnya yang membedakan adalah ketakwaan dan amal sholeh mereka masing-masing. Allah Swt berfirman:

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat ayat 13).

Perempuan Masa Pra-Islam

Masa pra-Islam, perempuan dipandang sebelah mata. Perempuan dianggap sebagai makhluk pemuas hawa nafsu lelaki saja. Mereka lebih sering menjadi komoditas yang diperjualbelikan, bahkan oleh ayah atau suami mereka sendiri. Bahkan dua peradaban besar saat itu, Yunani dan Romawi, menganggap perempuan sebagai sumber malapetaka dan bencana besar.

Begitu pula dengan ajaran agama Nasrani yang juga memiliki persamaan dengan ajaran agama Yahudi dalam menempatkan kaum perempuan di lingkungan masyarakat. Bahkan lebih kejam lagi, dimana mereka memandang perempuan sebagai pangkal dari segala kejahatan, kesalahan dan dosa.

Tak jauh berbeda, peradaban di India, Cina, dan bangsa Arab pada masa jahiliyah, semuanya menempatkan posisi kaum perempuan dalam posisi yang teramat rendah dan hina. Pada zaman jahiliyah, orang Arab mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup karena malu. Hal ini digambarkan Al Quran dalam Surat At Takwir ayat 8-9 yang artinya: “Apabila bayi perempuan dikubur hidup-hidup bertanya, karena dosa apakah ia dibunuh?”

Begitulah gambaran perempuan pada zaman sebelum Islam datang, begitu kelam dan suram. Namun, Islam datang dengan cahaya, membebaskan perempuan dari kondisi jahiliyah dan kesengsaraan.

Perempuan Bersinar dalam Khilafah

Islam dan seperangkat aturannya yang lengkap dan komprehensif mampu melepas belenggu perempuan dari keterpurukan. Derajat serta kehormatan perempuan terangkat, hingga mereka mampu ‘berkompetisi’ melalui fitrahnya sebagai ummu wa robatul bayt yaitu sebagai ibu dan manajer rumah tangga.

Namun, Islam tak membatasi perempuan cukup dengan hal itu. Seperti lelaki, perempuan pun dibebaskan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, berkiprah di ranah politik melalui dakwah, serta menciptakan karya yang berkontribusi bagi umat.

Pada masa kenabian terlihat dari majelis-majelis ilmu yang dipimpin oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw., tak hanya melibatkan para sahabat, melainkan juga para sahabiyât. Perempuan masa itu mendapatkan hak untuk menimba ilmu, mengkritik, bersuara dan berpendapat. Atas permintaan muslimah pula Rasulullah saw. memimpin satu majelis terpisah khusus untuk muslimah agar mereka berkesempatan lebih banyak berdialog dan berdiskusi dengan beliau.

Sejarah mencatat betapa istri Rasulullah dan banyak para perempuan di masa Rasulullah patut dijadikan teladan. Ummul Mukminin Khadijah r.a. adalah salah satu kampium bisnis pada masa itu. Sementara Aisyah r.a. adalah perawi hadist dan banyak memberikan fatwa karena kecerdasannya.

Sosok Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah, seorang sahabat wanita yang agung lagi pemberani, sang perisai Rasulullah Saw di perang Uhud, yang juga banyak terjun di medan peperangan lainnya. Siti Rufaidah binti Saad, perawat profesional Islam pertama dalam sejarah Islam dari kaum Anshor, ia mengabdikan diri merawat kaum muslim yang sakit, ia menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.

Selama Khilafah berdiri 13 abad, Islam telah melahirkan sosok-sosok muslimah berprestasi serta dari rahimnya terlahir tokoh-tokoh besar yang karyanya masih hidup hingga saat ini. Imam Syafi’i terlahir dari ibundanya Fatimah binti Ubaidillah, yaitu seorang mujahidah yang terkenal cerdas dan gigih. Begitu pula dengan Imam Ahmad juga Imam al-Bukhari terlahir dari didikan ibundanya seorang diri, yang terus menyemangati untuk mengkaji dan mempelajari Islam.

Islam telah memberi jalan yang seluas-luasnya agar muslimah mampu mengeksplorasi diri tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Begitulah seharusnya perempuan berkiprah, tetap bersinar dalam koridor syariah. Wallahu’alam bi asshawab

Ariefdhianty Vibie H., S.S.  
(Pengamat Sejarah, Sosial, dan Politik Perempuan)

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close