AKHLAK

Terhibur Boleh, Banyak Tertawa Jangan

ilustrasi

Orang yang konsisten hendaknya bersikap serius dalam menghadapi perkara-perkara hidupnya, tahu waktu untuk bersenda gurau dan setiap sesuatu ia laksanakan sesuai dengan keperluan agar tidak berlebih-lebihan dan juga tidak melalaikan. Apabila seorang yang konsisten terbiasa untuk tertawa dan bersenda gurau maka hatinya akan menjadi keras, sebagai akibatnya adalah bila dinasihati maka tidak akan berguna baginya nasihat itu di dalam kehidupannya, apabila diingatkan maka ia tidak pernah sadar karena hatinya terlanjur dipenuhi canda, gurau dan tawa, hingga menjadikannya lemah.

Tawa adalah expresi suara atau merupakan pencerminan keriangan atau kebahagiaan, atau dalam perasaan dari keceriaan dan tekanan (tawa dalam perasaan). Merupakan hasil dari canda, mengelitik dan simultan lainnya.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam telah menerangkan kepada kita tentang bahaya banyak tertawa, yaitu dapat melenyapkan fungsi hati, dimana bisa berubah dari hidup menjadi mati.

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far dari Ibrahim bin Abdullah bin Hunain dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah: 4183)

Bahkan sebagian ada yang berlebihan dalam tawa hingga senda guraunya itu menjurus pada perbuatan dosa-dosa besar, menghina saudara-saudara muslim dan memperolok-olok mereka hanya untuk mendapatkan tawa dari teman-temannya lalu senda gurau itu berkembang pada perbuatan dusta untuk mendapatkan tawa dari khalayak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang lain tertawa, celakalah baginya dan celakalah baginya”.(HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Imam Al-Manawi dalam kitab Faidh Al-Qadhir berkata: “Kalimat: “Celakalah baginya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ulang-ulang hingga tiga kali, sebagai pernyataan besarnya azab orang itu, karena perbuatan semacam itu merupakan sumber dari perbuatan hina dan merupakan sumber dari segala perbuatan memalukan, maka jika perbuatan dusta itu dipadukan dengan perbuatan untuk memancing tawa manusia yang dapat mematikan hati dan menyebabkan manusia lupa akan dirinya serta dapat menyebabkan sikap kasar maka perbuatan itu adalah keburukan yang paling buruk”

Terlalu sering ketawa juga menunjukkan bahwa orang tersebut seperti lupa akhirat. Ia lalai dan tidak mencerminkan sikap seorang muslim yang berorientasi akhirat. Karena jika seorang muslim ingat akhirat maka ia akan sangat jarang tertawa, karena ia belum tentu masuk surga dan belum tentu dihindarkan dari siksa neraka yang kekal.

Kita tidak dilarang menunjukkan perasaan suka terhadap sesuatu. Cuma yang dilarang ialah berterusan gembira dengan ketawa berlebihan.

Sebaik-baik cara bergembira ialah seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam , Beliau tidak terbahak-bahak, tetapi hanya tersenyum menampakkan gigi tanpa bersuara kuat. Beberapa sahabatnya pernah berkata: Ketawa segala nabi ialah tersenyum, tetapi ketawa syaitan itu terbahak-bahak.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Close
Close