INTERNASIONAL

Amerika Klaim Serangan Koalisi ke Suriah Capai Target

Ilustrasi Serangan Amerika ke Suriah (foto rmol)

Washington (SI Online) – Kekuatan militer gabungan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis menyatakan telah melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Suriah. Secara total mereka mengklaim sudah melesatkan 105 rudal, demikian dilansir bbci (16/4)

Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, mengatakan AS dan sekutunya telah mengambil “aksi yang tepat” terhadap “infrastruktur senjata kimia” pemerintah Suriah.

Rangkaian serangan itu terjadi satu pekan setelah dugaan serangan kimia ke Douma—kota yang dikuasai kelompok oposisi..

Pemerintah Presiden Bashar al-Assad berulang kali membantah pernah menggunakan senjata kimia. Sementara sekutu kuncinya, Rusia mengatakan memiliki bukti bahwa peristiwa ‘serangan kimia’ Douma itu ‘dibuat-buat.’ Apa yang ditargetkan dalam gempuran ke Suriah?

Ketua Gabungan Kepala Staf AS, Jenderal Joseph Dunford, mengklaim pihak sekutu telah meluncurkan rangkaian rudal yang mengenai dan menghancurkan tiga target “yang secara spesifik berkaitan dengan program senjata kimia milik rezim Suriah”.

Rudal-rudal itu dilesatkan dari sejumlah pesawat jet tempur dan beberapa kapal perang yang berada di Laut Merah, sebelah utara Teluk, dan bagian timur Laut Mediterania.

1. Pusat Riset dan Pengembangan Barzeh, Damaskus

Lembaga yang merupakan cabang dari Pusat Riset dan Kajian Sains (SSRC) ini berada di Distrik Barzeh, sebelah utara ibu kota Suriah. Menurut Jenderal Dunford, lembaga ini berfungsi sebagai “pusat riset, pengembangan, produksi, serta pengujian teknologi senjata kimia dan biologi”.

Letnan Jenderal Kenneth McKenzie selaku direktur Staf Gabungan militer AS mengatakan, sebanyak 76 rudal telah diarahkan ke lokasi tersebut. Rinciannya, 57 rudal jelajah Tomahawk dan 19 rudal yang ditembakkan dari pesawat.

“Tinjauan awal adalah target ini telah hancur. Akibatnya program senjata kimia Suriah bakal mundur beberapa tahun ke belakang,” ujarnya.

Kantor berita pemerintah Suriah melaporkan sejumlah rudal telah mendarat di lokasi SSRC sehingga “menghancurkan sebuah gedung, termasuk laboratorium sains dan pusat pelatihan”.

SSRC merupakan lembaga pemerintah yang secara resmi ditugasi mengembangkan dan mengoordinasikan kegiatan sains di Suriah.

Akan tetapi, sebuah badan intelijen dari salah satu negara Barat mengatakan kepada BBC pada Mei 2017 bahwa cabang SSRC di Barzeh—kemudian satu di Dummar (Jamraya) dan lainnya di Masyaf, Provinsi Hama—dipakai memproduksi senjata kimia dan biologi sekaligus melanggar Konvensi Senjata Kimia (CWC).

Badan intelijen tersebut menengarai bahwa fasilitas di Barzeh secara khusus digunakan untuk memasang muatan senjata kimia pada rudal jarak jauh dan artileri.

Kegiatan pembuatan dan perawatan amunisi itu berlangsung di bagian yang tertutup sehingga luput dari jangkauan para inspektur OPCW (Organisasi Pelarangan Senjata Kimia).

AS sejatinya pernah memberlakukan sanksi ekonomi kepada 217 karyawan SSRC yang disebut “punya keahlian kimia dan disiplin ilmu terkait dan/atau pernah bekerja mendukung program senjata kimia SSRC sejak setidaknya 2012”.

Walau adanya tuduhan-tuduhan itu, OPCW melaporkan bahwa pihaknya telah menjalankankan dua pemeriksaan di fasilitas Barzah dan Dummar (yang juga dikenal dengan nama Jamraya) pada Februari dan November 2017.

Dari pemantauan tersebut, OPCW mengaku tidak menemukan “aktivitas apapun yang tidak sejalan dengan kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur CWC”.

2. Lokasi penyimpanan senjata kimia Him Shinshar, sebelah barat Homs

Kepala staf gabungan militer AS, Jenderal Joseph Dunford, mengatakan bahwa AS meyakini ini adalah “lokasi utama pembuatan Sarin di Suriah beserta perlengkapan produksi bahan bakunya”.

Disebutkan Letnan Jenderal Kenneth McKenzie selaku direktur Staf Gabungan militer AS, sebanyak 22 rudal menghantam lokasi ini dengan rincian sembilan rudal Tomahawk AS, delapan rudal Storm Shadow milik Inggris, serta lima rudal jelajah dan dua rudal SCALP milik Prancis.

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan fasilitas ini digunakan untuk “menyimpan bahan baku senjata kimia sehingga melanggar kewajiban-kewajiban Suriah di bawah Konvensi Senjata Kimia”. Bahan baku senjata kimia di lokasi tersebut ditengarai mampu menghasilkan gas beracun seperti Sarin.

“Dengan menggunakan analisa sains secara sangat hati-hati, ditentukanlah lokasi terbaik menargetkan Storm Shadows untuk memaksimalkan penghancuran stok bahan kimia sekaligus meminimalkan risiko kontaminasi di daerah sekitar,” papar Kementerian Pertahanan Inggris.

Kantor berita pemerintah Suriah melaporkan sejumlah rudal menargetkan posisi militer di Provinsi Homs, namun rudal-rudal itu telah “ditangkal dan dialihkan dari jalurnya”.

Sebanyak tiga warga sipil luka-luka dalam serangan itu, menurut kantor berita pemerintah Suriah, tanpa menjelaskannya secara rinci.

3. Ruang bawah tanah senjata kimia Him Shinshar, sebelah barat Homs

Jenderal Dunford mengatakan ruang bawah tanah, yang berada sekitar tujuh kilometer dari lokasi penyimpanan senjata kimia, “berisi fasilitas penyimpanan perlengkapan senjata kimia dan pos komando penting”.

Menurut Letnan Jenderal Kenneth McKenzie selaku direktur Staf Gabungan militer AS, sebanyak tujuh rudal SCALP diterjunkan dan “sukses mengenai” ruang bawah tanah tersebut.

Dia menambahkan, serangan AS, Inggris, dan Prancis “mampu membuat sistem pertahanan udara Suriah kewalahan. Kami percaya diri bahwa semua rudal kami mencapai targetnya. Pada akhir misi serangan, semua pesawat kembali ke pangkalan dengan selamat,” ujarnya.

Militer AS memperkirakan Suriah meluncurkan beberapa  rudal dari darat ke udara. Namun, “peluncuran-peluncruan itu terjadi setelah rampungnya serangan kami,” kata McKenzie.

Apa yang dikatakan Rusia?
Juru bicara militer Rusia, Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi, mengatakan kepada para wartawan di Moskow bahwa “sejumlah landasan udara militer Suriah, industri, dan fasilitas riset” menjadi target serangan rudal AS, Inggris, dan Prancis.

Menurutnya, laporan awal menunjukkan sebanyak 103 rudal jelajah telah dilesatkan ke Suriah dalam serangan tersebut. Sistem pertahanan udara Suriah yang sebagian besar dipasang pada era Uni Soviet, menurutnya, “secara sukses menangkal serangan udara dan laut”. Sebanyak 71 rudal jelajah berhasil ditangkis, kata Rudskoi.

Data militer Rusia juga menunjukkan:

– Empat rudal menyasar ke Bandara Internasional Damaskus
– 12 rudal menargetkan pangkalan udara Dumayr, sebelah timur Damaskus. Namun, semuanya ditembak jatuh.
– 18 rudal menargetkan pangkalan udara Marj Ruhayil (Bulay) di sebelah selatan Damaskus.
– 12 rudal menargetkan pangkalan udara Shayrat, namun semuanya ditembak jatuh.
– Empat dari sembilan rudal yang menyasar pangkalan udara militer Mezzeh ditembak jatuh.
– 13 dari 16 rudal yang menargetkan “kubah udara Homs” ditembak jatuh.
– 30 rudal menargetkan fasilitas yang diduga berkaitan dengan dugaan program senjata kimia Suriah di Barzeh dan Jaramana di sebelah tenggara Damaskus. Sebanyak tujuh rudal ditembak jatuh. Fasilitas-fasilitas itu sebagian hancur, namun sudah lama tidak digunakan, kata Rodskoi.

“Rusia menganggap serangan itu adalah respons dari kesuksesan angkatan bersenjata Suriah dalam memerangi terorisme internasional dan membebaskan wilayahnya, alih-alih respons terhadap dugaan serangan kimia,” ujar Rudskoi.

Red : msa
Sumber : bbc

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close