AKHLAK

ilustrasi

Banyak orang yang mengira bahwa masa jahiliyah telah berakhir bersamaan dengan datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalllahu ‘Alaihi Wa Sallam. Bahkan mereka mengira bahwa kejahiliyahan hanya terdapat pada masyarakat Arab sebelum Islam. Hal ini tidak dapat disalahkan secara mutlak. Karena makna jahiliyah adalah “Apa saja yang terkait dengan masyarakat sebelum diutusnya Rasulullah Shalllahu ‘Alaihi Wa Sallam. Namun, sebagaimana yang disebutkan Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, inilah yang disebut dengan jahiliyah mutlak. Selain jahiliyah mutlak, ada juga yang disebut jahiliyah muqayyadah (terbatas).

Sebenarnya kejahiliyahan ada pada setiap pribadi (Syakhsun), tempat (Makan) dan waktu (Zaman). Dengan kata lain, kejahiliyahan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Inilah yang disebutkan dengan jahiliyah muqayyadah, yaitu jahiliyah yang dibatasi pada pribadi tertentu dan tidak pada pribadi yang lain, tempat tertentu dan tidak pada tempat yang lain dan waktu tertentu dan bukan pada waktu yang lain. Disinilah letak pentingnya untuk memahami lebih lanjut apa itu jahiliyah yang sebenarnya. Umar bin Khattab berkata:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺗُﻨْﻘَﺾُ ﻋُﺮَﻯ ﺍﻟْﺈِﺳْﻼَﻡِ ﻋُﺮْﻭَﺓً ﻋُﺮْﻭَﺓً ﺇِﺫَﺍ ﻧَﺸَﺄَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻼَﻡِ ﻣَﻦْ ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻑَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔَ

“Sesungguhnya akan terurai ikatan Islam ini sehelai demi sehelai, ketika dalam Islam orang yang tidak mengetahui tentang jahiliyah.”

Jenis Jahiliyah Modern

Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman tentang jahiliyah yang penggunaannya untuk tiga hal.

Pertama. Jahiliyah dalam Ketuhanan

Banyak orang yang paham dengan berbagai ilmu. Akan tetapi mereka tidak paham dan tidak mengenal Allah Ta’ala. Padahal salah satu hal yang wajib dipelajari oleh seorang mukmin adalah mengetahui siapa sebenarnya Allah Ta’ala. Maka pandainya ia dalam berbagai hal, akan tetapi tidak memahami hal ini tetap dianggap bodoh. Lihatlah kisah Bani Iisrail yang memohon kepada Rasulullah untuk dibuatkan sembahan sebagaimana sembahan orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman :

ﻭَﺟَﺎﻭَﺯْﻧَﺎ ﺑِﺒَﻨِﻰ ﺇِﺳْﺮَﺍﺀِﻳﻞَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮَ ﻓَﺄَﺗَﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻜُﻔُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺻْﻨَﺎﻡٍ ﻟَّﻬُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎﻣُﻮﺳَﻰ ﺍﺟْﻌَﻞ ﻟَّﻨَﺂ ﺇِﻟَﻬًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺀَﺍﻟِﻬَﺔً ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻗَﻮْﻡٌ ﺗَﺠْﻬَﻠُﻮﻥَ

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab: *“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang jahil”. (Al ‘Araf [7]: 138).

Kedua, Jahiliyah dalam Akhlak

Kata Jahiliyah juga digunakan oleh Allah Ta’ala untuk menamakan akhlak atau prilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya penampilan seorang wanita yang tidak islami, sikap sombong, perzinahan dll. Allah Ta’ala berfirman :

ﻭَﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ ﻭَﻻَ ﺗَﺒَﺮَّﺟْﻦَ ﺗَﺒَﺮُّﺝَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﺍﻷُﻭﻟَﻰ

Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu (Al Ahzab [33]: 33).

Mujahid berkata, yang disebut bertingkah laku sebagaimana orang jahiliyah adalah keluarnya wanita dari rumahnya dan berjalan melewati para lelaki (Tafsir Ibnu Katsir).

Terdapat juga firman lain yang artinya: Ketika orang-orang kafir menanamkan ke dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min (Al Fath [48]: 26).

Dan ayat yang menggambarkan kejahiliyahan dalam bentuk pembicaraan yang tidak bermanfaat adalah firman Allah yang artinya: “ Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil” (Al Qoshos [28]: 55).

Ketiga, Jahiliyah dalam Hukum

Dalam masalah hukum, Allah Ta’ala juga menggunakan kata jahiliyah untuk hukum-hukum selain dari hukum Allah atau hukum yang bertentangan dengan hukum-Nya. Allah berfirman:

ﺃَﻓَﺤُﻜْﻢَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻳَﺒْﻐُﻮﻥَ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣُﻜْﻤًﺎ ﻟِّﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin (Al Maidah [5]: 50).

Dari sejumlah dalil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa setiap aspek kehidupan yang tidak berdasarkan aturan Allah dan RasulNya maka hakikatnya itu berada dalam kejahiliyahan. Wallahua’lam.

Ustaz Reza Prima
Komunitas Akhlak Mulia

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close