TELADAN

Ada Keberkahan di Balik Sebutir Nasi Tersisa

Kadang kita dengan mudah tidak menghabiskan makanan, atau membuang makanan bila tidak habis. Kita sering menganggap sepele. Padahal dalam setiap bulir makanan itu ada keberkahan dan tak ternilai harganya.

Budaya bergelimang makanan dengan menu mewah terhampar di meja makan, padahal hanya beberapa suap yang bisa masuk kedalam perut, makanan sisa berhamburan tak termakan.

Begitu banyak keberkahan yang terbuang sia sia, dilain sisi bisa jadi tetangga kita kelaparan, bisa jadi dibelahan pulau bahkan dunia para balita menjerit kelaparan.

Sementara kita dengan ringannya membuang makanan tanpa rasa bersalah dan berdosa. Allah Ta’ala, berfirman,

وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“…dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” (QS. An-Nur 24: Ayat 15)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyisakan makanan, bahkan ia akan mengambil makanan yang jatuh dan membersihkan jari-jari dari sisa makanan yang ia makan. Yang jatuh saja ,yang mungkin kita tidak sengaja, kita diminta mengambil, lantas layakkah kita sampai membuang makanan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ
و حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ ح و حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ كِلَاهُمَا عَنْ سُفْيَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَفِي حَدِيثِهِمَا وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا وَمَا بَعْدَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: *”Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkannya dimakan setan, dan janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah.”* Dan telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami Abu Dawud Al Hafari; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakannya kepada kami Muhammad bin Rafi’; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razaq keduanya dari Sufyan dengan sanad ini. Di dalam Hadits keduanya di sebutkan; ‘Dan janganlah dia meyapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya atau di jilati.’ (HR.Muslim no 3793)

Terkadang karena satu butir nasi bisa menimbulkan rasa sombong. Letak kesombongan ada di hati. Kadang-kadang, satu butir nasi saja jatuh, kita agak malu untuk mengangkatnya kembali: “Ah, cuma sebutir kok. Biarin saja lah. Masih punya beras yang banyak.”

Padahal, satu butir nasi itu bisa sampai di piring kita karena proses yang teramat panjang: ditanam, tanahnya dibajak, memakai sapi/kerbau/traktor, petaninya berkeringat di tengah terik matahari sehari penuh, mengairi, dicangkul, sampai panen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sesudah jadi beras pun, harus didistribusikan ke pasar, sampai ke warung beras, dibeli ibu kita sampai ke dapur, dibersihkan, ditanak sampai matang, dan tersaji di hadapan kita.

Ada banyak tangan yang memiliki andil dalam sebutir nasi. Orang-orang tua kita pada zaman dahulu selalu mengajarkan untuk menghargai prosesnya. Sehingga kita bisa bersyukur dengan dan menghargai apa yang kita makan. Namun kadang dalam rizki yang sangat kecil (sebutir nasi) saja kita lupa untuk bersyukur, bagaimana bisa kita akan bersyukur untuk hal-hal yang besar?

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

ARTIKEL TERKAIT

Close