NASIONAL

Azyumardi Sebut Banyak Dosen Jadi Agen Radikalisme

Jakarta (SI Online) – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra mengatakan dosen memiliki peranan yang cukup sentral dalam menumbuhkan paham radikal, intoleransi, bahkan antipancasila kepada mahasiswa di perguruan tinggi. Bahkan dia menilai, banyak dosen yang menjadi ‘agen’ penyebaran paham radikal, teori rekayasa dan konspirasi di kalangan mahasiswa akademika.

“Dosen-dosen perlu diberikan pemahaman tentang persepektif keagamaan secara mendalam dan menyeluruh,” kata Azyumardi pada sebuah diskusi yang digelar oleh BARA UI di Graha Cimb Niaga Sudirman, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Mardi mengingatkan untuk tidak menggeneralisasi PT secara keseluruhan, meski saat ini ada gejala peningkatan radikalisme dikalangan sivitas akademika perguruan tinggi (PT), baik mahasiswa, dosen dan juga staf administrasi. Karena menurut dia, mayoritas mutlak sivitas akademika tetaplah orang-orang damai yang memiliki kesetiaan pada NKRI, UUD1945, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika.

Dia menyebut, hingga saat ini rekrutmen ideologis kelompok radikal, ekstrem dan teroristik terus berlanjut. Karena itu, Mardi menegaskan, sudah saatnya pimpinan PT memberikan prioriotas khusus untuk menangkal radikalisme di kampus.

“Perguruan tinggi tidak hanya bertugas dalam transfer dan transmisi ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampila. Tetapi juga dalam membentuk warganegara aktif dan bertanggungjawab bagi masa depan umat Islam dan negara-bangsa,” jelas Azyumardi.

Dia menambahkan, dalam menangkal radikalisme pertama-tama harus dihadapi dengan kontra-ideologi dan perspektif keagamaan-keindonesiaan yang utuh. Karena ideologi radikal dan teroristik tidak bisa dihadapi hanya dengan wacana, atau bahkan dengan tindakan represif aparat sekalipun.

“Kita perlu melihat kembali kurikulum, dalam hal ini, tidak perlu ‘redesain’ kurikulum secara menyeluruh karena dapat mengganggu stabilitas akademis-keilmuan. Tetapi sebaliknya yang mendesak dilakukan misalnya adalah revitalisasi beberapa mata kuliah relevan yang dapat bersifat ‘ideologis’ seperti mata kuliah Pancasila, Sejarah, PAI dan lainnya,” ungkap dia.

sumber: republika online

ARTIKEL TERKAIT

Close