#Infaq Dakwah CenterDAERAH

Dua Yatim Kakak Beradik Ini Butuh Bantuan untuk Masuk Pesantren

Bekasi – Nama lengkapnya Dicky Hamonangan Valentino Nainggolan (12). Meski ditakdirkan menjadi anak yatim dan usia keislamannya baru genap satu tahun, tapi semangat hijrah totalitas menjadi muslim kaffah benar-benar bulat.

Setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat pada 17 Februari 2017 di Masjid Al-Ikhlas Dukuh Bima Bekasi, bocah berdarah Batak ini melakukan prosesi khitan sebulan kemudian. Hari-hari berikutnya disibukkan dengan sekolah, membantu sang ibu di warung dan belajar agama di mushalla dan masjid dekat rumahnya, kawasan Tambun Bekasi.

Bulan Ramadhan tahun ini, setamat dari SD Negeri Tambun, Valen –sapaan akrabnya– ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP di pondok pesantren untuk mengejar cita-cita sebagai ulama pejuang Islam. Masyaallah, jejaknya untuk memperdalam agama (tafaqquh fiddin) ini diikuti sang kakak, Ayu Febriansari (14) yang saat ini baru naik ke kelas 2 SMP umum.

Sayangnya, cita-cita kedua anak masa depan Islam ini terkendala finansial yang membutuhkan biaya sebesar 24 juta rupiah untuk masuk pesantren terbaik di Karawang. Profesi sang ibu sebagai pedagang warung kopi kecil-kecilan tak cukup untuk menyediakan dana

Tanpa bekal dana yang memadai, Relawan IDC membawa Valen dan Ayu ke pesantren Islam Karawang pada Ahad (6/5/2018) dan Selasa (29/5/2018).

Alhamdulillah dari hasil tes seleksi santri baru, Valen dan Ayu dinyatakan lulus tes dengan catatan keduanya harus memulai ulang dari kelas 1 SMP. Untuk masuk pesantren ini, keduanya harus melunasi biaya pesantren sejumlah 24 juta rupiah yang meliputi: biaya pendaftaran, infaq bangunan, wakaf sarana santri, pengembangan pendidikan, seragam, eskul, P3S, raport, kartu santri, spp, dan lain-lain.

MANTAN KRISTEN JEMAAT HKBP YANG TAAT

Sebelum menerima hidayah Islam, Valen adalah pengikut Kristen yang taat, mengikuti didikan kedua orang tuanya, Ronald Nainggolan dan Yuliani Boru Simanjuntak. Selaku kepala rumah tangga, Ronald benar-benar mengajarkan dan menanamkan afeksi anak-anaknya terhadap Kristus.

Sebagai anggota jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), mereka bangga dan meyakini sebagai keluarga terkuduskan (sanctified family) yang sudah diselamatkan (saved family) karena sudah menapaki tahapan hidup kristiani yang sempurna, antara lain: menerima Yesus sebagai Juruselamat, lahir baru berpusat kepada Kristus, dan dibaptis. “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Markus 16:16).

Sepeninggal Ronald dalam usia 42 tahun setelah menderita sakit keras, Yuliani Simanjuntak yang pindah domisili ke Bekasi. Di lingkungan baru ini ia berinteraksi dengan pergaulan baru yang lambat laun mulai mendapat pencerahan Islam. Sikapnya berpikir yang logis dan hati yang lurus ikhlas, memudahkan datangnya hidayah Allah. Berbagai pergolakan iman dilalui dengan mudah sehingga akhirnya beralih meninggalkan doktrin Trinitas Ketuhanan Yesus, hijrah menuju kedamaian Tauhid Islam. Ia pun mengikrarkan dua kalimat syahadat pada tahun 2015.

Yuliani Simanjuntak mendapat hidayah melalui cara yang unik. Allah memanggilnya ke jalan yang benar melalui panggilan azan yang berkumandang lima waktu dari masjid tak jauh dari tempat tinggalnya. Setiap mendengar lantunan azan shalat fardu, hatinya tergetar dan ia kerap meneteskan air mata, meski ia belum mengenal ajaran Islam sama sekali.

Tahun demi tahun ia lewati dengan pertentangan batin yang dahsyat. Namun iman di dadanya terus bertumbuh, bergolak dan makin tak bisa dibendung. Setelah sepuluh tahun bergumul dalam pergolakan iman, Yuliani pun pasrah kepada takdir Allah. Ia memberanikan diri berhijrah, siap dengan segala resikonya.

Meski berbeda iman dengan anak-anaknya yang masih beragama Kristen, Yuliani tidak pernah memaksa anak-anaknya masuk Islam. Cinta kasih dan akhlakul karimah diamalkan sesempurna mungkin dalam keluarga, sehingga anak-anaknya bisa melihat dan merasakan Islam benar-benar rahmatan lil-alamin dalam diri sang ibu.

Setiap hari melihat sang ibu menunaikan kewajiban shalat dan ibadah ke masjid dengan suka cita, diam-diam dalam hati Valen terbesit keinginan untuk merasakan suka cita shalat dan ke masjid. Ia pun bertanya pada sang ibu, “Mah, kapan Valen bisa shalat terus bisa masuk masjid?”

“Nak, kamu bisa belajar shalat, terus masuk masjid setelah ikrar syahadat, habis itu disunat dulu,” terang Yuliani.

Valen pun mengikuti jejak sang ibu hijrah masuk Islam, lalu diikuti sang kakak satu tahun kemudian.

Dengan status muallaf baru, Valen mulai belajar membaca Al-Qur’an, saat ini sudah sampai Iqro’ jilid III. Ia juga aktif bergaul di perkumpulan remaja masjid sekitar rumah kontrakan ibunya.

“Alhamdulillah, anaknya walau pendiam tapi sering ikutan juga dengan anak-anak lain, perkumpulan remaja anak-anak masjid dekat rumah, anaknya masih belajar mengaji,” ujar Yuliani kepada Relawan IDC.

Yuliani sangat bersyukur anak-anak yatimnya itu masuk Islam, meski diiringi dengan kesedihan karena sang suami meninggal dalam kondisi kafir.

Kini keluarga yatim muallaf ini hidup damai sejahtera dalam Islam. Namun problem ekonomi menjadi kerikil dalam keluarga. Untuk mengatasi problem ini, IDC sudah membantu modal usaha warung bagi sang ibu, tapi problem keluarga belum teratasi penuh. Kini kedua anaknya butuh biaya 24 juta rupiah untuk mengejar cita-cita menjadi generasi pejuang dan dakwah Islam.

“Saya ingin masuk pesantren belajar agama Islam, supaya bisa shalat dan mengaji dengan baik, semoga saya diterima di pesantren ini,” ujar Valen kepada Relawan IDC.

Yuliani terharu, bangga, bahagia dan bersyukur terhadap keinginan anak yatimnya itu. Ia berharap para dermawan terpanggil membantu mewujudkan cita-cita anaknya.

“Semoga Allah SWT memudahkan langkah kami semua sebagai keluarga muallaf karena tantangan kami juga cukup besar. Saya pingin anak saya menjadi anak yang shalih supaya bisa menjadi penerus. Itu kerinduan dan keinginan kami, saya ucapkan terimakasih kepada lembaga IDC yang telah banyak membantu saya, semoga Allah membalasnya dengan berlipat ganda,” tutur Yuliani dengan mata berkaca-kaca saat mendampingi anaknya mengikuti test masuk pesantren.

INFAQ & ZAKAT UNTUK YATIM MUALLAF YANG FAKIR DAN SEDANG MENUNTUT ILMU

Allah SWT menyebutkan 8 asnaf kriteria orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu: fakir, miskin, amil zakat, golongan muallaf, memerdekakan budak belian, gharimin (orang yang berutang), fisabilillah (di jalan Allah), dan ibnu sabil (Qs At-Taubah 60).

Valentino Nainggolan dan kakaknya sangat berhak mendapat zakat karena memiliki 3 kriteria asnaf yaitu fakir, muallaf dan menuntut ilmu di jalan Allah. Dalam sebuah hadits disebut sebagai inti sasaran zakat: “Zakat itu diambil dari orang yang kaya dan diberikan kepada orang fakir.”

Zakat untuk beasiswa yatim muallaf adalah salah satu alternatif terbaik bagi yatim dan dhuafa yang sedang menuntut ilmu. Karena dengan ilmu itulah mereka bisa mandiri dan menghilangkan kefakirannya.

Anak-anak yatim muallaf dhuafa yang sedang menuntut ilmu di pesantren ini, selain masuk kategori fakir dan miskin, mereka juga masuk dalam kategori muallaf dan Fisabilillah. Karena sebagian ulama memasukkan orang-orang yang memperdalam ilmu keislaman (ilmu syariat) dalam kategori fisabilillah, sehingga mereka sangat berhak mendapatkan beasiswa dari dana zakat.

Valentino (kanan) dan kakaknya.

KEPEDULIAN KITA ADALAH SENYUM MASA DEPAN YATIM-MUALLAF

Di dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, maka wajib hukumnya bagi umat Islam untuk mengeluarkan zakat. Di dalam infaq dan zakat itu ada senyum masa depan fakir miskin yatim muallaf. Dengan infaq dan zakat itu kita menggantungkan masa depan surga kita di akhirat, karena setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya pada hari Kiamat nanti (HR Al-Baihaqi, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah).

Mari bantu yatim muallaf Valentino Nainggolan dan kakaknya menuntut ilmu di Pesantren demi cita-cita dan masa depannya di Jalan Allah. Dengan menyantuni anak yatim akan membuka peluang masuk surga bersama Nabi SAW sedekat dua jari, sesuai dengan sabdanya:

“Aku dan pengasuh anak yatim kelak di surga seperti dua jari ini.” (HR. Bukhari). Rasulullah bersabda demikian sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya.

Semoga dengan membantu keluarga yatim ini, kita dijauhkan Allah dari golongan Pendusta Agama:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Qs Al-Ma’un 1-2).

Peduli kasih dan donasi untuk biaya pesantren yatim muallaf ini bisa disalurkan melalui program Infaq/Zakat Cerdas:

Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:
Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 2.000 (dua ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.002.000,- Rp 502.000,- Rp 202.000,- Rp 102.000,- 52.000,- dan seterusnya.
Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqDakwahCenter.com.
Donasi disampaikan dalam bentuk beasiswa sampai tamat insya Allah.
Bila biaya program ini sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
Video: https://youtu.be/MbQIgPsBX6E
Info & Konfirmasi: 08122.700020.

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close