#Ramadhan Karim 1439HNASIONAL

Hajriyanto: Pewaris Otentik Ahmad Dahlan itu Lazismu

Jakarta (SI Online) – Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari berseloroh, satu-satunya lembaga di lingkungan Muhammadiyah yang mewarisi spirit pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, adalah Lazismu. Lembaga yang lain, kata Hajriyanto, kurang otentik karena masih harus berbayar.

“Semangat voluntarisme, kerelawanan dengan membentuk rumah sakit, kepanduan, Hizbul Wathan dengan semangat kedermawanan dan kerelawanan. Semangat ini diwarisi pertama oleh Lazismu,” kata Hajriyanto dalam ceramah “Tebar Kado Ramadhan dan Mudikmu Aman”, di Aula KH Ahmad Dahlan, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore, 8 Juni 2018.

Karena itu, canda Hajriyanto, kalau mau mewarisi semangat Kyai Ahmad Dahlan harus masuk Lazismu. “Lazismu ini mewarisi Ahmad Dahlan dalam hal melakukan modernisasi pengumpulan zakat infak sedekah,” kata Wakil Ketua MPR RI Periode 2009-2014 itu.

Peringkat kedua lembaga yang mewarisi spirit Ahmad Dahlan yang memiliki semangat filantropi, kata Hajriyanto, adalah MDMC atau Muhammadiyah Disaster Management Center. “Sekarang ini dengan dibiayai Lazismu, MDMC hilir mudik ke Bangladesh,”imbuhnya.

Sebelumnya Hajriyanto mengingatkan, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan adalah sosok perintis filantropisme di Indonesia.

Ahmad Dahlan, kata Hajriyanto, telah mengajarkan cinta kasih kepada sesama dengan sifat kedermawanan yang melampaui perbedaan suku, bangsa dan agama apalagi perbedaan mazhab atau aliran. Sebagai bukti, pada 1923 Kyai Amad Dahlan telah mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Pidato pertama Kyai Ahmad Dahlan saat mendirikan PKO dengan membuat klinik pertama di Yogya, kata Hajriyanto, berbunyi, “Hajatnya (pekerjaan, red) Penolong Kesengsaraan Oemoem adalah memberikan pertolongan kepada orang-orang yang sedang mengalami sengsara tanpa melihat perbedaan suku, bangsa dan agamanya.”

Dengan pidato ini, Hajriyanto juga berkeseimpulan, Muhammadiyah tidak perlu lagi diajari tentang kemajemukan dan kebhinekaan. “Terlalu tua untuk diajari. Masa yang lahirnya tahun ’65 berani mengajari Muhammadiyah,” kata dia.

red: shodiq ramadhan

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close