DAERAH

Jangan Ikuti Pemimpin yang Menyimpang dari Ajaran Allah

Bogor (SI Online) – Ada dua rukun iman yang sering disatukan dalam ayat-ayat Aquran maupun hadits Nabi yaitu Iman kepada Allah dan Iman kepada hari akhir. Inilah ajaran tauhid yang didakwahkan dan diyakini oleh setiap muslim untuk dijadikan dasar setiap perilakunya.

“Dengan demikian dakwah harus ditujukan untuk menyembah Allah bukan untuk menyimpang dari ajaran Allah. Soal hidayah adalah hak Allah. Yang penting seruan dakwah itu hanya ditujukan untuk tauhid penyembahan kepada Allah,” demikian dikatakan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MSc dalam kajian Tafsir di Masjid Al Hijri Kota Bogor, Ahad (22/7/2018)

Menurutnya, dakwah harus dilakukan dengan cara yang baik dan simpatik, hal tersebut sesuai firman Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl ayat 125)

Kyai Didin menambahkan, konsekuensi iman kepada hari akhirat adalah menjadikan orang yang beriman bertanggung jawab dan takut akan azab Allah. “Karena semua yang ada dalam diri kita (ilmu, harta, kedudukan, jabatan dan lain-lainnya) adalah amanah dan karunia dari Allah, yang semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya,” jelasnya.

Terkait pertanggungjawaban, Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadisnya: Tidak akan bergeser langkah kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak, kecuali akan ditanyakan (dimintai pertanggung jawabannya) tentang 4 hal yaitu, umurnya; dihabiskan umurnya itu untuk apa, kemudaannya (badannya yg sehat) dilusuhkan untuk apa, hartanya; dari mana ia peroleh dan kemana dihabiskan untuk apa?

Apa yang akan terjadi di yaumil akhir kelak pun Allah jelaskan di dalam Alquran. Surat Saba’ ayat 32 dan 33 menjelaskan terjadinya kondisi perbantahan sesama orang kafir dan orang yang sesat, ketika mendapatkan pembalasan tentang kekafiran dan penyimpangannya.

Termasuk para pemimpin yang zalim, mereka mengelak bertanggung jawab terhadap ajakan kepada rakyatnya untuk menyimpang dari jalan Allah. Sementara rakyatnya bersaksi bahwa mereka menyimpang karena terpaksa dan dipaksa mentaati pemimpin mereka. “Allah gambarkan penyesalan dan perbantahan mereka itu dalam ayat tersebut. Maka kesudahan dan akibat yang diterima oleh kedua golongan itu adalah sama yaitu siksaan azab dan ancaman neraka,” jelas Kyai Didin.

Oleh karena itu, ia berharap semoga pembahasan ini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak mengikuti siapapun termasuk para pemimpin bahkan yang mengaku ulama namun menyimpang dari ajaran agama Allah.

rep: dhani
red: adhila

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: