AKHLAK

Menjaga Rahasia

ilustrasi

Salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dikenal penjaga rahasia. Beliau adalah Hudzaifah Ibnul Yaman. Beliaulah yang diberitahu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang sahabat sahabat yang munafik. Hanya beliau satu satunya sahabat yang mengetahui hal itu. Beliau menjaga rahasia ini sampai meninggal dunia. Semua sahabat sangat khawatir tentang diri mereka masing masing Bahkan sahabat sekaliber Umar bin Khatab bertanya kepadanya apakah dia termasuk salah satu di dalamnya.

Allah Ta’ala, berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا الَّتِى هِىَ أَحْسَنُ  ۚ  إِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ  ۚ  إِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْإِنْسٰنِ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 53)

Menjaga rahasia adalah salah satu tugas yang berat. Tidak banyak manusia yang lolos dari ujian ini. Bahkan ada orang yang tidak senang bila apa yg diketahuinya belum disampaikan kepada orang lain. Suatu rahasia akhirnya diketahui banyak orang. Tidak jarang muncul masalah di tengah-tengah masyarakat karena rahasia yang bocor.

Allah Ta’ala menyuruh hamba-Nya agar menjaga mulutnya dari ucapan yang tidak bermanfaat apalagi sampai mencelakakan orang lain. Ucapan seseorang kadang bisa membawa malapetaka kepada dirinya sendiri. Ucapan memang sangat berbahaya bila tidak dijaga dengan baik. Itulah sebabnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melihat banyak kaumnya di neraka karena mereka kurang berhati-hati menjaga mulutnya.

Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أتَى عَلَيَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَأنَا ألْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ ، فَسَلمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثَني إِلَى حاجَةٍ ، فَأبْطَأتُ عَلَى أُمِّي . فَلَمَّا جِئْتُ ، قالت : مَا حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لِحَاجَةٍ ، قالت : مَا حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ : إنَّهاَ سرٌّ . قالت : لا تُخْبِرَنَّ بِسرِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحَداً ، قَالَ أنَسٌ : وَاللهِ لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أحَداً لَحَدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثَابِتُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’”

Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk sesuatu keperluannya.”

Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?”

Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.”

Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kepada siapapun juga.”
Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk perkara yang harus dijaga kerahasiaannya adalah rahasia rumah tangga. Hendaknya seorang suami menjaga rahasia keluarganya dengan tidak menceritakan hubungan pasutri-nya kepada orang lain. Demikian juga istri, hendaknya dia tidak menceritakan kepada orang lain bahwa semalam dia dan suaminya telah melakukan perkara demikian dan demikian, yakni menceritakan hubungan ranjangnya kepada orang lain.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ مِنْ أشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأةِ وتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruknya manusia di sisi Allah dalam hal kedudukannya pada hari kiamat ialah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dan istrinya itu pun menyetubuhinya, kemudian menyiar-nyiarkan rahasia istrinya itu.” (HR. Muslim)

Perkara ini adalah perkara yang haram, dan pelakunya akan mendapatkan seburuk-buruknya kedudukan di sisi Allah ta’ala kelak. Bahkan wajib bagi pasangan suami istri untuk menutupi rahasia mereka. Bukan hanya masalah ranjang saja, tapi juga permasalahan rumah tangga yang lainnya.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: