SURAT PEMBACA

Optimalisasi Peran Ulama untuk Kebangkitan Umat

Pada 3-7 Juli 2018 telah digelar Pertemuan Ulama dan Dai se Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke- 5 di Hotel Grand Cempaka Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut dihasilkan 10 point rekomendasi. Diantaranya adalah menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non Muslim (Hidayatullah.com)

Misi Rasulullah saw diutus memang untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Namun rahmat itu saat ini belum kita rasakan. Yang terjadi justru realita dunia hari ini sangat menyedihkan. Penjajahan dan pemecahbelahan umat, eksploitasi sumber daya alam oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat terhadap dunia ketiga, 1,214 miliar orang miskin, 78% balita kekurangan gizi, 11.000 anak perhari mati kelaparan, 200 juta anak per hari menderita kurang gizi, protein dan kalori. Lebih dari 800 juta orang kelaparan dan 70% adalah wanita dan anak-anak (Shukor Rahmat, World Food Program, News Straits, Malaysia Time, 2001).

Di Indonesia tak kalah mengerikan. Hutang negara mencapai hampir 5000 triliun. Kriminalitas meningkat. Dalam setiap 1 menit 32 detik terjadi satu tindak kriminal (www.boyyendratamin.com) , kemiskinan masih tinggi yakni sekitar 10,12% atau lebih dari 26 juta penduduk (tirto.id), pergaulan yang semakin bebas, perusakan akidah dan sederet masalah lain.

Jika kondisi dunia hari ini seperti tercermin dalam fakta diatas, penyebabnya adalah perbuatan tangan manusia yang merusak dan jauh dari ajaran Allah. (Lihat Q.S.ar Rum [30]:4). Sistem yang digunakan manusia untuk mengatur kehidupan saat ini adalah sistem buatan manusia yaitu sistem sekuler yang rusak dan merusak. Oleh karena itu perubahan atas keadaan tersebut adalah sebuah keniscayaan. Perubahan ke arah diterapkan Islam sebagai sebuah sistem kehidupan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Misi Rasulullah SAW

Disamping sebagai Rasul, Rasulullah SAW juga mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan risalah yang diembannya, mempertahankannya, dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Hal itu ditegaskan oleh Allah SWT “Dan Kami tidaklah mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS al-Anbiya [21]:107).

Makna “rahmat” bagi seluruh alam di sini adalah, dengan diutusnya Nabi, seluruh alam akan terhindar dari keburukan, kerusakan dan kehancuran, serta memperoleh kebaikan dan kemaslahatan. Kapan? Ketika Islam diterapkan dimuka bumi secara kaffah.

Karena itu misi risalah Nabi bukan hanya menyampaikan risalah, tapi juga menunaikan amanah Allah untuk membumikan risalah itu di tengah-tengah kehidupan manusia. Untuk mewujudkan visi memimpin dunia dengan Islam, Rasulullah mendirikan Negara Islam di Madinah untuk menerapkan hukum-hukum Islam di dalam negeri dan melaksanakan dakwah dan jihad ke luar negeri. Dengan negara yang didirikan oleh Rasulullah ini, hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun telah sempurna risalah Islam di seluruh Jazirah Arab. Delegasi dari berbagai suku di Arab pun menyatakan tunduk pada Rasul SAW dan menyatakan keislaman mereka.

Pasca wafatnya Rasulullah SAW, kekuasaan Islam dilanjutkan oleh para khalifah. Para Khalifah melakukan futuhat hingga hampir 2/3 dunia masuk dalam wilayah Daulah Islam. Saat itu, Islam betul-betul menjadi rahmat bagi dunia. Muslim dan non-muslim hidup berdampingan dibawah aturan Islam.

Namun pada 3 Maret 1924 Daulah Islam runtuh. Dan hingga kini kaum Muslimin belum memiliki Daulah islam yang menerapkan Islam secara kaffah. Akibatnya krisis multidimensional mendera kaum Muslimin.

Perjuangan Politik

Kesadaran umat untuk mengembalikan kerahmatan Islam kini tampak kian meningkat. Bahkan kalangan pesantren, para ulama, Dai mulai menyadari pentingnya politik bagi perjuangan Islam. Banyak diantara mereka yang terjun ke dunia politik, berlomba mencalonkan diri sebagai anggota dewan atau giat berkampanye untuk mendukung pasangan calon-calon pemimpin baik di pusat maupun daerah yang mereka anggap bisa mengakomodir keinginan umat yang mau menerapkan Islam dan mendukung dakwah islam. Pertanyaannya, apakah perjuangan politik ini sudah pada koridor yang benar, baik dari sisi kesesuaiannya dengan syariat Islam maupun kelayakannya untuk menyelesaikan persoalan umat? Atau justru semakin menjauhkan umat dari perjuangan politik yang benar hingga umat tetap terpuruk?

Harus dipahami bahwa perjuangan politik hanyalah sarana untuk meraih ketaatan kepada Allah SWT. Perjuangan politik diperlukan agar kekuasaan berada di tangan yang tepat yaitu di tangan orang yang akan menerapkan syariah secara kaffah. Dan itu tiada lain di tangan Khalifah. Oleh karena itu perjuangan politik yang dilakukan oleh umat saat ini adalah perjuangan politik yang bisa menghantarkan pada penerapan syariat Islam kaffah. Perjuangan politik hendaknya difokuskan untuk merobohkan sistem sekuler yang kufur dan menggantinya dengan sistem islam dalam wadah Daulah Khilafah.

Perjuangan politik dilakukan bukan semata mendudukkan pemimpin yang baik tapi juga memastikan bahwa pemimpin tersebut memimpin dengan aturan yang baik (syariah kaffah) dari Allah Yang Maha Baik.

Optimalisasi Peran Ulama

Perjuangan politik untuk melakukan perubahan mendasar yaitu perubahan ke arah penerapan syariat kaffah dalam wadah Khilafah adalah tanggungjawab seluruh kaum Muslimin. Tetapi bagi Ulama, maupun Dai tentu tanggungjawab itu lebih besar karena pengaruh mereka ditengah umat.

Dengan ilmu dan pemahaman Islam yang dimiliki, mereka memiliki peran strategis dalam proses penyadaran umat. Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah karena kedalaman ilmunya.

Diantara karakter ulama adalah mereka menjadi lambang keimanan, menjadi tumpuan dan harapan umat karena selalu memberi petunjuk yang bersumber dari Islam. Mereka adalah pewaris para Nabi (waratsatul anbiya). Kedudukan mereka dijelaskan oleh Nabi : “Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang-bintang yang ada di langit yang menerangi gelapnya bumi dan laut. Apabla padam cahayanya maka jalan akan kabur.” (HR Ahmad).

Ulama adalah orang yang sangat takut pada Allah SWT baik di dalam hati, ucapan maupun perbuatannya dan berpegang teguh kepada aturan Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya mereka yang takut kepada Allah di antara hamba hambaNya hanyalah ulama.” (TQS al Fathir [35]:28).

Mereka tidak pernah mendiamkan, menyetujui dan mendukung kedzaliman dan siapapun yang berbuat dzalim.

Karakter ulama sebagaimana dijelaskan diatas, tentulah menjadi karakter para Dai. Mereka memiliki ilmu agama yang sangat luas. Optimalisasi peran mereka dalam membangkitkan umat melalui perjuangan politik untuk penegakan syariah kaffah dan Khilafah sebagaimana Rasul telah mencontohkan, Insyaallah akan menjadi sarana turunnya pertolongan Allah berupa diberikannya kekuasaan yang menolong (sultoonan nashiiro).

Diantara peran yang harus dilakukan oleh para ulama adalah : Pertama, membina umat dan menjaga kejernihan pemikirannya. Keterpurukan umat di segala lini adalah konsekwensi dari mundurnya cara berpikir umat. Kemunduran berpikir ini terjadi karena umat dijauhkan dari al Quran dan as Sunnah.

Umat dicekoki dengan berbagai pemikiran kufur sehingga pola pikir dan pola sikapnya keliru. Ulama bertanggungjawab untuk mengarahkan umat agar menjadikan Islam sebagai standar dalam pola pikir dan pola sikap sehingga memiliki kepribadian Islam. Kedua, membangun kesadaran politik umat, yaitu kesadaran bahwa urusan mereka semuanya harus diatur dan diurus sesuai dengan akidah dan syariat islam. Ulama wajib mengajak umat untuk peduli terhadap urusan kaum Muslimin baik nasional maupun internasional.

Mengajak umat peduli terhadap peristiwa yang menimpa kaum Muslimin, memahami apa penyebab dari berbagai peristiwa tersebut, apakah ada kepentingan politik ideologi kufur dibalik berbagai peristiwa tersebut yang akan membahayakan Islam dan umat Islam, kemudian juga menjelaskan bagaimana seharusnya pandangan Islam terhadap peristiwa tersebut. Ketiga, memberikan solusi Islam terhadap berbagai permasalahan kehidupan dengan penyelesaian yang selalu mengacu kepada al Quran dan as Sunnah dengan solusi yang ideologis. Keempat, melakukan muhasabah lil Hukkaam. Yaitu mengingatkan dan menasehati penguasa agar hanya menerapkan hukum Allah SWT dalam menjalankan pemerintahannya.Kelima, Membela, menjaga dan mendukung upaya penegakan syariah dan Khilafah demi terwujudnya Islam rahmatan lil ‘alamin.

Sungguh mulia peran Ulama saat menyeru manusia melaksanakan kewajibannya untuk hanya menyembah Allah serta tunduk dan patuh kepadaNya. Allah SWT berfirman “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal shalih serta berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim?” (TQS Fushilat ayat 33).

Demikianlah, urgensi peran ulama dalam membangkitkan umat hari ini. Yaitu menghadirkan Islam dalam pengaturan kehidupan umat secara riil melalui institusi Daulah Khilafah, melalui perjuangan politik. Dengan itu kaum Muslimin bisa segera keluar dari keterpurukannya dan sekaligus bangkit kembali sebagai khairu ummah. Inilah hakikat perjuangan politik yang harus dilakukan di tengah umat. Wallahu a’lam bish shawab.

Irianti Aminatun

ARTIKEL TERKAIT

Close