BEAUTY

Perempuan Mulia dengan Islam

Dalam momen ‘women’s march’ tahun ini mencuat kembali propaganda yang sangat masif tentang tuntutan persamaan gender. Bahwa tidak boleh ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan,  hak dan kewajiban harus sama. Bahkan, kodrat perempuan sebagai ibu pun turut dipermasalahkan. Menganggap bahwa perempuan yang mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga adalah manusia kolot yang jauh dari kata mulia.

Dari banyaknya tuntutan, terselip pesan bahwa perempuan harus berdaya. Dalam artian, dapat menghasilkan dari sisi materi agar tidak tertindas oleh laki-laki. Begitulah kaum feminisme memaknai, bahwa adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah bencana. Bagai sebuah kompetisi, maka hidup keduanya harus selalu dalam persaingan.

Selain itu, kalangan feminis menganggap bahwa penyebab kekerasan terhadap perempuan adalah diskriminasi gender. Yakni pandangan yang bias gender tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Maka feminis menuntut kebebasan mendasar bagi perempuan. Termasuk kebebasan terhadap tubuhnya, dengan slogan : “My body, my choice.”

Begitulah mereka memaknai kebahagiaan berdasarkan kebebasan yang selalu mereka usung dengan paham sekulerisme-liberalisme jauh dari aturan-aturan Islam. Mereka seolah menggugat ketetapan yang Allah berikan kepada manusia.

Islam Memuliakan Perempuan

Dalam Al-Quran surah Al-Hujarat ayat 13 yang artinya “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  Jelas sekali dijelaskan  dalam ayat di atas,  bahwasanya yang paling mulia di sisi Allah baik laki-laki maupun perempuan adalah ketakwaannya bukan yang lain.

Ketika ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu adalah ketetapan yang Allah berikan, perbedaan tersebut bukan untuk memuliakan atau menghinakan antara satu dengan yang lainnya. Karena jelas sekali hina dan mulianya manusia hanya diukur dari ketakwaannya. Ada hak dan kewajiban  antara laki-laki dan perempuan yang tidak bisa disamakan.

Sudah menjadi fitrahnya, Allah menetapkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga,  pemimpin dalam rumah. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, yang membesarkan dan mendidiknya menjadi generasi yang akan datang. Namun,  Islam memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki dalam menimba ilmu pengetahuan.  Berbanding terbalik dari ide feminis yang menistakan posisi perempuan sebagai Ibu rumah tangga. Islam justru menetapkannya sebagai kemuliaan.

Demikian pula dalam Islam, laki-laki sebagai pemimpin bagi keluarganya, yang mempunyai kewajiban menafkahi keluarga. Sedangkan hak seorang istri adalah dinafkahi. Dengan ketaatan kepada suaminya menjadi kemuliaan bagi seorang istri.  Seorang hamba yang tunduk senantiasa hidup berdasarkan aturan yang Allah berikan. Dengan menjalankan aturan Allah, maka Islam memuliakan  perempuan bukan menghinakan. []

Ayyuhanna Widowati
Guru, tinggal di Sawangan, Depok

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close