#Ramadhan Karim 1439HSURAT PEMBACA

Ramadhan Madrasah Menuju Taqwa

Separuh bulan Ramadhan telah kita lalui. Tamu agung nan mulia itu sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita. Puji syukur selayaknya kita panjatkan atas karunia Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kita hingga bertemu dengan Ramadhan nan mulia ini.

Ramadhan bulan suci nan agung yang dapat menghantarkan seorang hamba pada ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Pada setiap bulan Ramadhan ayat di atas sering di bacakan dan sering kita dengar, dengan ayat tertesebut mengingatkan kita bahwa tujuan puasa adalah agar kita menjadi insan yang bertakwa.

Bulan Ramadhan merupakan madrasah yang di dalamnya kita dilatih berpuasa selama satu bulan penuh untuk menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa dan mengurangi nilai-nilai puasa kita. Puasa merupakan perisai bagi diri kita agar kita tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan syariat agama, sehingga puasa dapat membentuk pribadi muslim yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman: Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya.” [HR. Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 4308]

Ramadhan merupakan madrasah pengendalian diri, bagaimana selama satu bulan penuh kita mengendalikan hawa nafsu dan tunduk terhadap aturan syariat Allah SWT. Karena tujuan puasa Ramadhan adalah menuju taqwa.

Taqwa merupakan ketaatan total terhadap semua hukum Islam tanpa pengecualian seperti yang telah diwahyukan kepada Rasulullah Saw.

Berkaitan dengan persoalan ini Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 208-209 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

فَإِن زَلَلْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْكُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ فَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk-lah kalian semua ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikut jejak langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.QS. Al Baqarah 208)

” Tetapi, jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kebenaran kepadamu, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al Baqarah 209)

Allah SWT turut menegaskan dalam surah an-Nuur ayat 52:

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

Oleh karena itu hendaklah aktivitas ibadah yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan bukan hanya sebatas rutinitas tahunan saja yang tanpa makna bahkan ketika Ramadhan telah berlalu tidak membekas bahkan tidak menghantarkan kepada ketaqwaan hakiki sesungguhnya.

Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia hanya memperoleh rasa lapar dan haus dari puasanya, mereka mendapatkan seakan akan apa yang ia usahakan sia-sia saja. Mereka hanya menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari sementara mereka mengabaikan nilai-nilai dari puasa itu sendiri, mereka merusaknya dengan melakukan hal-hal tercela seperti berkata dusta,menggunjing, dan perbuatan tercela lainnya. Secara hukum syari’ puasa mereka sah namun puasa yang mereka lakukan tidak berbekas. Gambaran tersebut di sabdakan oleh Rasulullah saw:

“Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR.Ibnu Madjah)

Ramadhan sebagai madrasah melatih kita untuk senantiasa berlomba-lomba dalam meningkatkan amalan ibadah dan kebaikan-kebaikan. Misalnya, membaca Alquran, qiyamullail, bersedekah dll.

Apabila seorang hamba berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan semata-mata mengharapkan keridhoan allah swt maka puasa yang mereka lakukan akan mengantarkan mereka pada kemenangan yang hakiki.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang yang mendapatkan predikat “Taqwa” sesudah Ramadhan. Di hari-hari terakhir bulan Ramadhan tahun ini semoga kita dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita hingga kita dapat memperoleh Lailatul Qadar seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bishowab

Ummu Faza El-Kenzo

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close