SURAT PEMBACA

Sistem Demokrasi: Tersangka Korupsi pun Tetap Naik Tahta

Gonjang ganjing kemenangan Pilkada serentak di berbagai daerah dengan berbagai intriknya membanjiri sejumlah media cetak dan online. Termasuk berita tentang Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menyebut, tetap akan melantik tersangka kasus korupsi jika dinyatakan menang dalam kontestasi Pilkada 2018.

Kata Tjahjo, berdasarkan Undang-undang (UU) yang berlaku menyatakan bahwa seorang yang belum memiliki hukum tetap, maka masih dapat dinyatakan turut dalam proses pelaksanaan Pilkada. Hal itu sebagai wujud asas praduga tak bersalah.

“Apapun ini proses pilkada yang memilih masyarakat. Soal siapa yang dipilih itu yang dimauin masyarakat ya jalan terus. Tetap dilantik sampai ada kekuatan hukum tetap dia bersalah atau tidak,” kata Tjahjo. (Tribunnews, 29/6/ 2018).

Sungguh fakta yang tak bisa terelakkan lagi, artinya sesuatu hal yang wajar saja. Dalam era demokrasi tolok ukur yang digunakan tidak lagi kaedah benar dan salah. Tapi standar yang digunakan adalah keuntungan, baik materi atau manfaat. Keputusan di ambil berdasarkan suara terbanyak. Siapa yang menang dalam pesta demokrasi atau Pilkada, maka dia layak untuk dinobatkan menjadi pemimpin.

Hal ini pernah terjadi beberapa tahun lalu juga. Berdasar pada data penelusuran yang dimiliki Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat ada sembilan nama kepala daerah yang dilantik oleh Mendagri saat itu, Gamawan Fauzi, walaupun nama-nama tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, maupun pihak kepolisian dan kejaksaan ( Tribunnews 29/06/2018).

Bisa kita bayangkan bagaimana generasi masyarakat yang di pimpin oleh orang-orang yang di satu sisi banyak melakukan pelanggaran hukum. Hal ini jelas akan berdampak terhadap bagaimana cara dalam menyelesaikan masalah dalam kepemimoinanya. Namun, dalam era demokrasi saat ini semuanya tidak ada yang tidak mungkin. Ibarat kemenangan hukum sekarang pun bisa dibeli..Naudzubillah.

Bagi pemilih yang cerdas, memilih pemimpin tentu harus berdasar pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tidak asal pilih.Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling tahu tentang hukum Ilahi. Setelah para imam atau khalifah tiada, kepemimpinan harus dipegang oleh para faqih yang memenuhi syarat-syarat syariat.

Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS.al-Ahzab [33]: 21).

Rasulullah Saw sendiri menekankan pentingnya kepemimpinan Islam dalam Shahih Bukhari. Setiap diri kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunggjawaban atas kepemimpinannya.Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF):

(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya;(2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi; (3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya; (4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani.

Dan itu semua hanya terwujud hanya ketika Islam diterapkan dalam sebuah sistem bukan yang lain. Seperti halnya sistem sekarang. Karna faktanya dalam demokrasi orang yang hanif sekalipun akan menjadi rusak dengan berbagai tekanan kepentingan yang mencengkeramnya. Islam mengatur bagaimana kelayakan.menjadi seorang pemimpin. Siddiq, Tabligh Amanah dan Fathanan akan otomotis menempel pada seorang pemimpin yang di pilih dalam sistem Islam. Karena sesungguhnya bagi seorang pemimpin adalah amanah berat, utamanya amanah dari Allah Ta’ala.

Silvi Ummu Zahiyan
(Muslimah Peduli Generasi, Tinggal di Bogor)

ARTIKEL TERKAIT

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker