REMAJA

Tik Tok dan Wajah Generasi Jaman Now

Ketika sebuah negara menerapkan aturan yang bukan berasal dari Islam, seperti saat ini, Kapitalisme menjadi tolok ukur bagi setiap tindakan, baik itu dari level individu maupun negara, yang terjadi adalah kondisi yang amburadul. Kapitalisme dengan aqidahnya yang sekuler alias memisahkan diri dari kehidupan wajar jika akhirnya menimbulkan masalah. Merana memang hidup tanpa aturan Islam.

Salah satu yang menjadi korban sekulerisme adalah remaja, remaja yang seharusnya menjadi penerus peradaban justeru larut dalam kesenangan duniawi. Fenomena Bowo menyeret para remaja khususnya perempuan untuk menanggalkan rasa malunya, bahkan ada juga yang sampai menggadaikan aqidahnya.
Media menjadi sarana untuk memunculkan sosok-sosok selebritis yang mengumbar aurat, mengagung-agungkan materi, gaya hidup yang serba berlebihan dan boros, memamerkan kekayaan,juga menonjolkan kecantikan yang menjadi modal dasar untuk menjadi selebritis.

Muncullah sososk-sosok yang diidolakan oleh remaja yang lainnya, maka remaja sejenis Bowo menjadi ikon. sesungguhnya mereka hanyalah umpan untuk mengeluarkan remaja dari keislamannya. Krisisnya sosok yang layak menjadi panutan, juga menjadikan remaja memilih sosok yang sedang viral, mengikuti trend yang ada, tanpa malu-malu.

Pendidikan disekolahpun tak mampu menjadikan remaja menemukan jati dirinya, pasalnya saat ini, pendidikan umum dan pendidikan agama dipisahkan secara total. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih apa yang diinginkan, mau memilih menjadi ahli agama? silahkan memilih perguruan tinggi khusus agama atau pesantren. Sementara yang ingin menjadi ahli dalam bidang selain agama, negarapun menyediakan sekolah kejuruan. Alhasil, saat ini jarang orang yang mendalami ilmu agama kemudian tidak menguasai dalam bidang iptek, sementara yang ahli dalam bidang iptek, kurang paham agama.

Negara yang seharusnya berperan menjaga warganya khususnya remaja, sepertinya abai, munculnya aplikasi-aplikasi smartphon yang tidak mendidik seperti tik tok, kian menjamur. Video porno, begitu mudah di akses tidak terhitung jumlahnya. Ditelevisi, tidak kalah gencarnya iklan-iklan yang mengumbar aurat, sinetron yang mengajarkan pada pergaulan bebas menjadi tontonan yang menyedihkan disetiap rumah-rumah.

Peran negara sangat penting untuk menjaga warganya dari serangan-serangan yang bisa merusak akal. Negara pula yang harus mewajibkan setiap warganya untuk mendalami ilmu agama, sehingga menjadikan warganya yang faqih fiddin atau paham ilmu agama. Bukan generasi alay yang tak punya jati diri.

Selain peran negara, peran orang tua juga menjadi pendidikan dasar bagi remaja, orang tua mempunyai kewajiban untuk memahamkan agama kepada anaknya. Khususnya ibu, seorang ibu menjadi sekolah pertama bagi anaknnya, ibu pulalah yang akan membentuk keperibadian anak. Dangan menanamkan aqidah Islam pada anak sejak dini, diharapkan akan menjadikan remaja yang memiliki keperibadian yang jelas, yaitu keperibadian Islam. Bukan menjadi remaja yang serba membebek.

Orang tua pula yang memiliki kewajiban untuk menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas. Sebelum mereka kehilangan iman serta kehormatan, sebelum mereka terjerumus dalam pergaulan bebas, jika orang tua tidak ingin anaknya menjadi bahan bakar api neraka!

Berangkat dari tujuan pendidikan Islam, yakni mencetak manusia yang berakal, berpikir dan bersikap Islam, serta membentuk jiwa manusia dengan meletakkan seluruh kecenderungan atas dasar Islam. Ini bisa terwujud jika peserta didik akalnya dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan Islam.

Jadi remaja saat ini tidak cukup hanya bermental pekerja keras, berkemauan baja, atau semangat bergotong royong. Tetapi yang dibutuhkan adala pendidikan yang berkarakter Islam. maka penanaman aqidah Islam kepada peserta didik menjadi hal yang sangat penting.

Sayangnya saat ini remaja seperti tidak menyadari bahwa bahaya pergaulan bebas, juga bahaya pendangkalan aqidah ada di sekitar mereka, celakanya juga tidak sedikit yang kemudian terbawa arus. Budaya pacaran hingga berakhir aborsi menjadi fenomena yang menjijikan. Tawuran pelajar juga menjadi hajatan tahunan dan menjadi warisan alumni sekolah. Itulah salah satu akibat dari sekulerisasi pendidikan.

Seperti analisa Montgomery bahwa rahasia kemajuan peradaban Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama. Satu dengan yang lain dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syari’at islam sama pentingnya dengan riset-riset ilmiah.

Tidak heran, ketika syari’at Islam dijadikan rujukan sumber hukum, dan sudah terbukti lebih dari tiga belas abad menghasilkan manusia-manusia yang produktif. Mereka bukan hanya menjadi ahli dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka juga menjadi ulama-ulama terkemuka.

Ibnu Rusyd {1126-1198} misalnya, ulama yang di Barat terkenal dengan namanya Averous, diakui sebagai ilmuan handal dibidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter dan ahli fiqih Andalusia. Bukunya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Kulliyat, yang berisi kajian ilmiah mengenai jaringan-jaringan tugas dalam kelopak mata.

Selain Ibnu Rusyd, Islam memiliki ilmuan yang pertama kali memperkenalkan ilmu pembedahan, dialah Az Zahrawi yang lahir di Cordova pada tahun 936 Masehi, dikenal sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahya dijadikan referensi bedaah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di barat, menjadikannya acuan.

Kontriibusi Islam dalam bidang ekonomi tidak kalah penting. Adalah az Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolabe. Yaitu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu pelayaran sangat berkembanng cepat setelah penemuan astrolabe.

Fantastis memang ketika syari’at islam menjadi acuan dalam pendidikan. Bukan bagian-bagian yang terpisah. Maka tidak heran ketika masa kejayaan Islam, selain mereka faqih fiddin, mereka juga ahli kedokteran, astronom dan lain-lain.

Itu sebabnya, dalam sistem pendidikan Islam, negara akan memprioritaskan pendidikan agama daripada ilmu umum untuk dipelajari. Namun, tidak berarti ilmu umum menjadi warga nomor dua, tetapi berjalan beriringan.

Dalam Islam juga telah membedakan antara orang yang berilmu dan tidak, sebagaiman firman Allah dalam QS. Al Mujadalah [58]: 11 yang artinya : “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang dibri ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sayangnya kita sekarang ini hidup dalam sistem kapitalis, dimana atas dasar kebebasan yang di elu-elukan, jangankan memberikan pendidikan yang berbasis aqidah Islam, yang ada justru negara membiarkan warganya bersikap bebas layaknya binatang. Ilmu bukan menjadi sesuatu yang penting, sehingga wajar jika menghasilkan manusia-manusia tak beradab.

Pendidikan berbasis aqidah Islam yang mampu membentuk manusia yang berpikir dan bersikap Islam hanya bisa diwujudkan jika Islam dijadikan rujukan hukum. Negara yang mampu menerapkan hukum-hukum Islam adalah negara Islam yang bernama Khilafah. Mari perjuangkan Islam, dan kampanyekan Islam menjadi Ideologi negara. Wallohu a’lam bisshowaab.

Pri Afifah
Anggota Komunitas Muslimah Peduli Generasi
Tinggal di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur

Tags
Close
Close