NASIONAL

Wali Songo Datang Mengislamkan Nusantara, Bukan Menusantarakan Islam

Para wali mengenalkan Islam melalui pendekatan literasi dan kebudayaan yang sangat jenius. Melalui pepatah, nasihat-nasihat yang dibungkus ke dalam nyanyian, kesenian, metafor-metafor, hingga beragam perangkat.
Mereka mengenalkan diksi serta idiom-idiom baru yang belum pernah dikenal oleh masyarakat Jawa sebelumnya.

Banyak istilah atau penamaan yang dikenalkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, untuk menjelaskan bahwa Islam bukanlah agama yang semata mengurusi ibadah mahdhoh seperti sholat, puasa, zakat dan sebagainya.

Islam juga dikenalkan sebagai suatu sistem sosial hingga politik. Melalui literasi yang mengakar, para wali itu mengedukasi masyarakat dengan pranata sosial-politik. Pada titik berikutnya lahirlah raja-raja atau kerajaan Islam. Tidak heran di kemudian hari ada seorang raja bergelar Sayyidin Pranotogomo. Penata tertinggi urusan agama.

Karena itulah, nilai-nilai keislaman yang ditanamkan oleh para wali telah mendarah daging hingga sumsum tulang belakang di tubuh masyarakat Jawa.

Saat Anda memasuki ibu kota kerajaan, akan disambut regol atau gerbang keraton yang disebut gapura. Kata ini merupakan proses jawanisasi dari kata ghofuro. Karena lidah Jawa tidak mudah melafal kata gofhuro. Artinya, Allah maha pengampun.

Filosofinya diambil dari kisah ketika Nabi Musa membawa pengikutnya bangsa Israel saat memasuki pintu masuk sebuah perkampungan agar tidak berlaku congkak. Namun harus senantiasa tunduk, sujud kepada Allah, dan karena itu Allah akan mengampuni segala kesalahan. Kampung yang dimaksud adalah Palestina.

Kisah tersebut tertulis dalam al Baqoroh 58: “wadkhulul baaba sujjada…”.

Pesan itu sebenarnya, tidak hanya berlaku bagi kawula siapa-pun yang memasuki kota kerajaan. Tetapi juga memberikan pesan halus kepada raja: betapapun tingginya kekuasaan dan status sosial, juga harus senantiasa bersujud kepada Sang Mahadiraja, Allah SWT.

Ini baru gapura.

Wali Songo juga membangun suatu sistem dan pranata pemerintahan melalui desain struktur sosial-pilitik berupa masjid yang berada di depan alun-alun. Posisi alun-alun sebagai pusat aktifitas masyarakat yang sangat strategis di pusat kota kerajaan. Tidak jauh dengan istana kerajaan.

Di situlah Islam dihadirkan di tempat terhormat. Bukan di pinggiran. Sehingga gemanya mengalir sampai desa-desa dan pegunungan.

Hal itu memiliki pesan kuat bahwa Islam dengan segala atribut dan otoritasnya melalui para ulama, bisa menjadi counterpart, mitra sejajar penguasa atau pemerintah. Sebagai tempat bertanya berbagai masalah kehidupan, serta tempat meminta nasihat.

Ingat. Posisinya berdampingan dan bukan membaur di dalam istana. Cukup jelas untuk mengatakan bahwa ulama itu mandiri. Independen. Tidak tersedot ke dalam kekuasaan, apalagi dengan sadar mengafiliasikan diri ke dalam kekuasaan.

Wali Songo juga sangat memperhatikan aspek ekonomi. Namun, bukan ekonomi yang hanya semata untuk ekonomi. Tetapi kehidupan ekonomi yang dilandasi oleh agama.

Anda tentu tahu alat produksi pengolah pertanian bernama bernama pacul (cangkul). Sunan Kalijogo dengan cerdas memasukkan Islam sebagai pilar ekonomi melalui filosofi Pacul. Pacul merupakan kependekan dari “papat ojo ucul”. Empat hal jangan lepas.

Bekerjalah mencari nafkah, bekerka keras, membangun ekonomi yang tangguh, namun jangan pernah lupa akan empat hal: syariat, tarekat, hakekat, dan ma’rifat.

Masih banyak lagi ide, formulasi, serta metode bagaimana cara Wali Songo menghadirkan Islam dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya di tanah Jawa. Karya dan kreatifitas dalam mengkomunkasikan ajaran Islam telah menjadi warisan luhur.

Dari semua itu, sulit menerima fakta bahawa ajaran Islam yang mewujud melalui idom-idiom, istilah, kata per kata, yang dapat dilepaskan dari sumbernya: Arab. Tidak berlebihan jika dikatakan Islam sudah demikian mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahasa Nusantara, sampai hari ini tidak mempu mengidentifikasi berbagai objek maupun pengertian spesifik dengan bahasa aslinya sendiri.

Ambil contoh: rakyat, wakil, dewan, adil, sifat, adab, musyawarah, mahkamah, kursi, majelis, masjid, dan masih banyak lagi.

Jika ada yang mengaku menerima Islam namun menolak Arab, maka itu seperti memisahkan tebu dengan manisnya fruktosa, sehingga hanya tersisa ampasnya. Bagaikan sirup Marjan yang kehilangan sari pati gulanya. Seperti rokok kehilangan tembakaunya.

Adanya penyebutan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Mahkamah Agung (MA), dan lain-lain, jelas karena Islam datang ke Nusantara. Kalau tetap mau menolak Arab, ya bubarkan saja wk wk wk…

Demikianlah, kita membaca sejarah dakwah Wali Songo yang genuine, terkonsep dan futuristik. Mereka berdakwah dengan strategi, kreasi, serta inovasi yang telah berhasil sesuai jaman dan alam pikiran masyarkat saat itu. Di era masyarakat yang masih rendah penguasaan informasi dan literasi.

Kita telah mewarisi karya adiluhung itu sebagai semangat tiada henti menyuburkan Islam di Nusantara ini. Namun, di jaman yang terus bergerak dan berubah, tentu tidak harus mundur ke masa 500 tahun silam.

Sampai di sini saya baru mengerti: Wali Songo datang ke Nusantara ini untuk meng-Islamkan Nusantara, dan bukan me-Nusantarakan Islam.

Anab Afifi
Mantan Wartawan Media Dakwah

ARTIKEL TERKAIT

Close