BEAUTY

Memuliakan Ibu dengan Syariah

Di antara banyaknya penderitaan yang dialami muslim Uighur, ada cerita pilu ibu yang terpisah dari anaknya akibat kekejaman rezim Xi Jinping. Bilkiz Habibullah adalah muslimah Uighur yang terpaksa harus meninggalkan negerinya, Uighur atau Xinjiang demi menyelamatkan diri dan keluarganya dari rezim China yang keji. Ia dan kelima anaknya tiba di Turki pada 2016. Namun anak bungsunya yang kini berusia 3,5 tahun, Sekine Hasan masih berada di Xinjiang bersama sang ayah karena belum memiliki paspor. Rencananya adalah jika sang anak sudah memiliki paspor, mereka sekeluarga akan bertemu di Istanbul. Namun rencana tinggal rencana. Sampai kini ia tidak tahu kabar putrinya tersebut. Ia kehilangan kontak dengan keluarganya. Ia juga meyakini sang suami ditahan pada 20 Maret tahun lalu.

Betapa perihnya hati seorang ibu yang terpisah dari anaknya tanpa tahu kabar beritanya sama sekali. Membayangkan apakah sang anak masih hidup, bagaimana keadaannya, ataukah ia sudah meninggal. Hanya air mata dan doa saja yang bisa dilakukan, berharap pada Sang Illahi senantiasa menjaganya dimanapun ia berada. Pun demikian dengan Bilkiz, ia banyak menangis di malam hari ketika anak-anaknya terlelap. Ia hanya bisa meminta maaf pada putri bungsunya, jika sang anak bisa mendengarnya. Sungguh memilukan.

Kisah lain di Indonesia, yang mayoritas muslim, banyak para wanitanya, khususnya ibu yang terpaksa keluar rumah bahkan ke luar negeri untuk mengais rezeki. Para ibu itu harus meninggalkan suami dan anak-anaknya jauh ke negeri orang untuk bekerja menopang perekonomian keluarga. Uang memang didapat, tetapi dengan risiko yang tak kecil. Terpisah dari anak-anak tercinta menahan rindu. Belum lagi tempat kerja yang tidak ramah terhadap kondisinya sebagai perempuan dan muslimah. Tak sedikit yang menjadi korban kekerasan majikan bahkan sampai merenggut nyawa. Tak bisa beribadah dengan selayaknya karena diancam, ditekan dan sebagainya. Banyak pula yang tidak bisa menjaga identitasnya sebagai muslimah. Terjerumus dalam kubangan kehidupan kapitalis-sekuler-liberal yang rusak dan merusak manusia dan kehidupan.

Dua kisah diatas hanya sekelumit derita para ibu yang hidup dalam sistem selain Islam. Masih banyak lagi kisah-kisah menyedihkan ibu dalam sistem kufur sekarang ini. Ibu yang tega mengakhiri nyawa anaknya sendiri karena tak tahan himpitan ekonomi. Ibu yang menjual narkoba untuk dapat membantu nafkah keluarga. Ibu yang terjerat korupsi karena masuk dalam lingkaran kekuasaan sistem kapitalisme yang menghalalkan segala cara. Ibu yang harus bekerja membanting tulang, memeras keringat di tempat-tempat yang tidak layak agar anak-anaknya dapat makan dan sekolah. Dan banyak ibu-ibu lainnya yang terperangkap dalam kubangan sistem kapitalisme yang merendahkan derajat mereka sebagai sosok mulia yang harusnya dijaga kehormatannya.

Dalam kapitalisme, perempuan khususnya ibu harus berjuang selayaknya laki-laki dalam berbagai bidang. Mau tidak mau mereka kaum ibu meninggalkan rumah untuk mencari nafkah atau mengejar karier. Sistem ini mendorong bahkan memaksa kaum ibu untuk berjibaku dalam kerasnya persaingan dengan kaum lelaki. Sehingga akhirnya banyak sekali kodrat yang mereka tinggalkan. Banyak sekali kewajiban sebagai ibu yang harus mereka abaikan. Mereka terseret dalam arus kapitalisme yang menghalalkan segala cara dan meninggalkan aturan agama. Mereka tereksploitasi dalam segala bidang, dimanfaatkan hanya untuk mengeruk keuntungan semata. Jika mereka sudah tidak berdaya atau tidak produktif lagi, maka akan ditinggalkan begitu saja.

Islam Memuliakan Ibu

Ibu adalah sosok mulia yang memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Saking pentingnya kedudukan ibu, kita diminta untuk mendahulukannya tiga kali lebih dulu dibanding ayah. Ini karena peran sentral yang diemban oleh ibu. Juga kemuliaan yang dimilikinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

1 2 3Next page
Tags

ARTIKEL TERKAIT

Back to top button
Close
Close