SURAT PEMBACA

212 Menagih Kerinduan Ukhuwah

Perhelatan 212 adalah momen yang dinanti seluruh kaum muslimin yang ada di Indonesia. Berbagai persiapan sudah mereka lakukan, fisik maupun mental. Perbekalan pun tak lupa mereka siapkan demi menemani perjalanan menuju Monas, Jakarta. 212 telah menjadi momen umat muslim melukiskan renjana ukhuwah yang bergelayut di hati. Dan monas menjadi saksi bisu kerinduan itu.

Berduyun-duyun umat muslim datang dari berbagai penjuru Indonesia. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang dalam satu rombongan bergerak bersama dalam satu tujuan membela kalimat tauhid di 212. Ada yang berjalan kaki, mengayuh sepeda, bersepeda motor, menggunakan mobil, kapal, kereta api, menyewa bis, sampai mencarter pesawat. Ini menakjubkan, energi yang luar biasa. Jangan ditanya dananya dari mana. Semua peserta merogoh kocek masing-masing untuk mendanai perjalanan spiritualnya.

Jika di hadapan Ka’bah kita tawaf, bersatu menanggalkan semua perbedaan. Tak ada yang merasa lebih mulia dibandingkan yang lain. Suasana syahdu itupun menjalar hingga ke Monas di aksi 212. Demikianlah umat muslim, yang nafasnya adalah persatuan. Kapanpun dan dimanapun akan merasa satu, jika ada yang bisa menyatukannya. Hadir di reuni 212 tanpa membawa jabatan dan status sosial. Tak lagi berdebat tentang latar belakang organisasi, apalagi perbedaan suku bahkan ras. Semua menempatkan diri pada satu titik yang sama, pada muara yang sama, yaitu kesamaan aqidah.

Aksi 212 di tahun 2016 telah menyedot perhatian dunia, semua mata memandang ke arah yang sama yaitu Monas, Jakarta. Aksi ini telah sukses menumbangkan si mulut jamban yang telah menistakan Al-Qur’an. 7 juta lebih rakyat Indonesia berkumpul di satu titik. Monas pun tak mampu menampung massa hingga meluber kemana-mana. Massa Aksi damai 212 2016 memutihkan monas dan menempatkan diri dengan akhlak yang luar biasa, hingga rumput pun tak diinjak bahkan tak menyisakan satu pun sampah (detik.com, 2/12/2016). Betapa lautan manusia itu bisa mendadak rapi dalam barisan-barisan teratur, sesaat setelah azan dikumandangkan. Itu adalah shalat Jum’at terbesar di dunia. Di bawah siraman air hujan, tak satupun peserta aksi damai yang meninggalkan shafnya. Sajadah yang basah oleh genangan air hujan di aspal pun bertambah basah dengan air mata yang tumpah ketika sujud. Air mata haru, air mata bahagia, air mata syukur yang membuncah kerinduan akan persatuan ini.

Selalu ada cerita istimewa di setiap aksi bela Islam. Seperti pada aksi 112 di tahun 2017, para peserta aksi mengawal passangan nikah ke katedral (tribunnews.com, 12/2/2017). Inilah toleransi yang sesungguhnya yang ditunjukkan oleh ummat muslim Indonesia. Pujian pun berdatangan dari luar negeri.

Tahun ini, 2018, kembali ummat muslim berkumpul di aksi 212. Ada rasa yang berbeda dari tahun sebelumnya. Ada ghiroh yang mulai mengental dan khas dengan aroma kebangkitan. Berbagai peristiwa yang menimpa ummat muslim Indonesia sepanjang tahun 2018 telah menempa pemikiran dan perasaan ummat hingga memiliki kesamaan arah pandang serta resonansi. Betapa lekat dalam benak ummat tentang upaya kriminalisasi ulama yang menimpa habibuna Habib Rizieq. Tak cukup puas mengganggu ketenangan beliau di Indonesia, intelijen picisan pun dimainkan di negeri Arab Saudi, fitnah pun melanda beliau. Beruntung, pemerintah Arab Saudi tak termakan fitnah tersebut, bahkan mengancam memenggal leher bagi si penyebar fitnah. Dan tak satupun yang ditangkap oleh aparat atas tindakan ini. Ummat pun kecewa. Beralih pada kasus penganiayaan ulama di beberapa daerah. Sekalinya tertangkap, keluarlah statemen dari pihak keamanan bahwa pelakunya adalah orang gila. Dan dibebaskanlah serta diputihkanlah kasus penganiayaan ulama tersebut. Tak lama berselang, puisi ibu Sukmawati yang membandingkan suara azan dengan kidung ibu Indonesia, dan cadar dengan konde, telah menambah luka ummat muslim. Namun dengan modal air mata serta mencium tangan Ma’ruf Amin yang waktu itu menjabat sebgai ketua MUI, ummat dipaksa memaafkan Ibu Sukmawati. Ummat pun legowo menerima hal itu.

Terakhir, yang benar-benar membuat darah ummat menggelegak dan merasa dipermainkan, adalah kasus pembakaran bendera tauhid. Sebuah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid telah dibakar dengan penuh semangat dan suka cita oleh oknum GP Ansor. Gelombang protes menuntut permintaan maaf pelaku pun tak digubris. Bahkan PBNU yang merupakan wadah bernaungnya GP Ansor pun menolak meminta maaf. Alasan dan dalih mereka kemukakan. Nyanyian radikal, berlagak sok pahlawan kesiangan serta playing victim pun mereka mainkan. Seluruh perangkat kekuasaan negeri ini pun berlomba-lomba melindungi pelaku pembakaran, persis sama ketika mereka melindungi Ahok. Namun, hasil dari dakwah dan pertolongan Allah, telah membuat ummat ini cerdas, mampu melihat dengan jernih, dengan nalar sehat, tau siapa yang harus dibela. Akhirnya, vonis 10 hari penjara dan denda 2.000 rupiah pun dijatuhkan kepada pelaku pembakaran. Suatu vonis yang teramat murah dibandingkan kalimat tauhid yang sudah dilecehkan. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “…Seandainya langit yang tujuh serta seluruh penghuninya, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan, niscaya kalimat Laa ilaaha illallaah lebih berat timbangannya…” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim). Kekecewaan kembali melanda ummat muslim.

Dan masih banyak kedzoliman yang dipertontonkan oleh rezim ini. Keamanan dan kesejahteraan hanya impian. Kebenaran yang relatif, keadilan yang tak adil, hukum tumpul ke rezim dan tajam ke pembela Islam, sudah menjadi rahasia umum. Ummat pun seperti bangun dari tidurnya. Mengutip dari status profesor Suteki, kami cinta NKRI kami cinta Indonesia namun kami lebih cinta kepada kebenaran dan keadilan. Jika negara tak memiliki standar kebenaran serta tak berkeadilan, tunggulah detik-detik kehancurannya tersebab runtuhnya kepercayaan rakyat pada pemerintah.

Aksi Bela Tauhid 212 2018 ini adalah mata rantai dakwah dengan proses yang panjang dan penuh kesabaran yang ditetapi oleh para pejuangnya. Benih-benih kebangkitan Islam telah muncul. Terlihat ketika ummat memiliki perasaan dan pemikiran yang sama ketika bendera tauhid dibakar. Entitas kebangkitan ummat ini tentu suatu hal yang sangat menakutkan bagi kaum kafir dan munafik. Hingga mereka akan lakukan segala cara untuk mencegah bersatunya ummat terbaik ini. “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan memberi hidayah dan ajaran haq agar Dia memenangkannya atas semua ajaran, meskipun kaum musrik membencinya.” (TQS. At-Taubah: 33).

Yakinlah bahwa kemenangan Islam itu adalah janji Allah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan kalian berkuasa di muka bumi…” (TQS. An-Nuur: 55). Yang perlu kita lakukan adalah menguatkan aqidah dan beramal sholih dengan terus mendakwahkan Islam kaffah. Tetaplah fokus pada thoriqoh dakwah Rasulullah dan bersabarlah. Insya Allah selangkah lagi persatuan ummat menyongsong kebangkitan untuk menjadi khoiru ummah akan terwujud. Biidznillah. Wallaahu A’lam.

Mahrita Julia Hapsari, M. Pd
Praktisi Pendidikan di Banjarmasin

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Back to top button
Close
Close