SURAT PEMBACA

Aksi Kubur Diri Awak Mobil Tangki, Penguasa Tuli

Zyahdhan Faishal, entah itu nama aslinya atau sekadar nama akun di Twitter, adalah lelaki paruh baya yang membawa keluarganya pada Aksi Kubur Diri, 10/1/2019. Ia adalah satu dari 2119 awak mobil tangki (AMT) yang di PHK via sms oleh PT Pertamina Patra Niaga dan PT Elnusa Petrofin pada 2016. Terbaca di timelinenya hingga pukul 00.13 WIB, 12/1/2019, ia dan keluarganya masih bertahan di depan Istana Kepresidenan.

Seperti diberitakan, ratusan awak mobil tangki (AMT) PT Pertamina kembali menggelar aksi unjuk rasa dan menginap di Jalan Medan Merdeka, Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, 10/1/2019. Dalam aksi tersebut mereka meminta upah lembur untuk dibayarkan dan pembatalan pemecatan sepihak. Dalam aksi tersebut sebanyak 20 orang perwakilan awak mobil tangki (AMT) yang sudah kubur diri dan kemungkinan akan terus bertambah.

Koordinator aksi awak mobil tangki (AMT), Legiran, menyampaikan tahun ketiga ini, mereka masih memperjuangkan upah lembur yang tak kunjung diberikan. Para pekerja yang masuk kategori pekerja BUMN itu pun tidak mengerti lagi bagaimana menuntut hak-hak mereka, selain menggelar aksi unjuk rasa. Ini merupakan aksi ketiga, setelah dua aksi sebelumnya tak mendapat respon dari pemerintah. (rmol.com, 10/1/2019).

Miris! Mengingat di hari yang sama, Presiden Jokowi menerima Agnes Mo di Istana Kepresiden. Alih-alih membicarakan tentang kepentingan rakyat. Agnes Mo mengaku hanya membahas seputar dunia musik. (detik.com, 11/1/2019).

Sama-sama rakyat, tapi diberlakukan secara berbeda. Satu orang Agnes Mo mengalahkan ratusan awak mobil tangki (AMT) yang menuntut haknya. Dan lagi ini sudah kesekian kalinya Presiden menghindar dari aksi rakyat menuntut keadilaan. Setelah sebelumnya ribuan guru honorer K2 menuntut janji presiden untuk mengangkat mereka menjadi PNS.

Jargon demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”, faktanya hanya pepesan kosong belaka. Hari ini, fakta berbicara demokrasi menjadi alat para kapitalis untuk melanggengkan kepentingannya. Negara bukan lagi menjadi pelayan rakyat. Tapi mengabaikan hak rakyat dan keadilan demi melayani para kapitalis.

Vox populi, vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan, tak lagi relevan hari ini. Suara rakyat tak lagi mewakili suara Tuhan. Hari ini, suara rakyat justru dijadikan alat bagi para pengejar syahwat kekuasaan meraih tujuan. Maka tak heran bila janji manis ditebarkan kala pemilu. Sementara pasca pemilu suara rakyat tak lagi didengar. Habis manis sepah dibuang.

1 2Laman berikutnya
Tags
Close
Close