IBADAH

Antara Ralat Doa dan Adab dengan Ulama?

Tapi ada hal yang jarang dipahami orang kebanyakan bahwa para ulama yang shaleh memiliki “Khatar” dalam istilahnya (خطر ببال) atau “Lintasan” bisikan isyarat hati yang apabila “Khatar” itu muncul, itulah petunjuk yang beliau ikuti. Kemunculannya hanya sepersekian detik saja.

Ketika seorang ulama, seorang yang dikenal shaleh dalam kehidupannya, pekerjaan beliau ilmu dan ibadah dalam kesehariannya, zikir dan ibadah amaliyahnya, saya sangat meyakini bahwa tidak akan ada istilah tergelincir ucapan (sawabiqul lisan) dalam doa beliau?

Sebab doa-doa mereka tidak lagi bersifat redaksional dari teks yang dibuat, tapi murni apa yang muncul dan hadir di hati mereka itu pula lah yang nampak zhahir dalam tutur lisan mereka. Semacam sinyal, komunikasi bathin mereka selalu hidup dan aktif, sehingga apa yang di dalam pikiran mereka itu pula lah yang terpanjatkan.

Jadi, lucu saja ketika seorang kyai besar dianggap salah ucap, lalu terkesan “dipaksa” untuk diralat atau diulangi doa tersebut. Mana adab dengan para ulama? Apakah hanya karena alasan politis, para politisi kehilangan adab terhadap seorang ulama?!!

Menjadi sangat tidak elok menurut saya, dalam adab tradisi kepesantrenan, ketika mengajak Kyai sepuh nge-vlog hanya demi memberikan klarifikasi atas “salah ucap” beliau mendoakan salah satu pasangan tertentu, meski sebenarnya itu fenomena dari isyarat “Khatar” hati yang saya sebutkan di atas tadi.

Maka di tulisan ini saya tidak sedang memperdebatkan, siapa yang harusnya didoakan oleh Kyai Maimoen, tapi yang saya sesalkan dan sayangkan adalah sikap dan adab politisi yang kurang elok, kurang adab terhadap para Kyai.

Kyai itu milik umat, bukan milik sekelompok golongan, apalagi partai tertentu saja. Jadi, ketika ada kejanggalan atau kekurangan adab seorang pemimpin, baik dia seorang birokrat atau politisi atau seorang santri sekalipun, maka tidak ada salahnya jika kita bisa saling mengingatkan dan mengambil pelajaran yang lebih baik lagi. Watawashau bilhaq Watawashau bishabri.

[Ust. Dr Miftah el-Banjary]

Laman sebelumnya 1 2
Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close