SURAT PEMBACA

Bagaimana Memutus Siklus Bullying pada Remaja?

Bullying berasal dari kata bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku). Bullying kemudian menjadi sebuah istilah popular yang bermakna kekerasan di kalangan pelajar.

Seorang pelajar dikatakan sebagai korban bullying ketika ia diketahui terkena tindakan negatif oleh satu atau lebih banyak pelajar lain. Tindakan negatif tersebut termasuk melukai, atau mencoba melukai atau membuat korban merasa tidak nyaman, baik secara verbal, fisik atau tindakan lain seperti memasang muka dan melakukan gerakan tubuh yang melecehkan (secara seksual) atau secara terus menerus mengasingkan korban dari kelompoknya.

Meski kasus bullying kerap terjadi, belum ada tindakan nyata untuk mencegahnya sehingga terjadi lagi dan lagi. Betapa tidak, hari ini bullying yang terjadi sudah mengarah ke ranah fisik. Bahkan sasaran bullying ini pun terjadi di hampir semua usia, mulai dari SD hingga perkuliahan.

Beberapa hari ini, masyarakat kembali dihebohkan dengan kasus bullying. Seorang siswi SMP dikeroyok tiga siswa dan disaksikan oleh 9 siswa SMA lain di Pontianak. Berawal dari masalah asmara dan celoteh di facebook.

Siswi SMP yang baru berusia 14 tahun itu kini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. Kasus pengeroyokan siswi SMP itu juga telah ditangani pihak kepolisian setempat dan terus dikembangkan dalam proses penyelidikannya. Kejadian pengeroyokan ini sudah terjadi dua pekan lalu, yakni pada Jumat (29/3/2019). Namun baru dilaporkan pada orangtuanya dan hari Jumat (5/4/2019) ada pengaduan ke Polsek Pontianak Selatan.

Diketahui setelahnya, korban tidak melapor karena mendapat ancaman dari pelaku, pelaku mengancam akan berbuat lebih kejam lagi apabila korban melaporkan pada orangtua. Padahal korban telah mengalami kekerasan fisik yang cukup parah sehingga harus mendapatkan perawatan secara intensif di rumah sakit. Selain perawatan fisik, korban juga membutuhkan perawatan psikologis karena trauma yang dia hadapi. Kejadian ini, akhirnya mendorong adanya petisi change.org dengan tagar #JusticeForAudrey agar pelaku kekerasan ini segera bisa diusut dan ditindaklanjuti secara hukum.

Bullying yang dialami Audrey juga membuat pengacara kondang Hotman Paris Hutapea turut berkomentar. Ia mengatakan bahwa pelaku pengeroyokan Audrey bisa ditahan dan diadili meski masih di bawah umur, setidaknya lima tahun penjara. Hal ini sebagaimana telah diatur dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak. Anak yang bisa diadili adalah mereka yang berusia 12 hingga sebelum 18 tahun. Pertanyaannya, cukupkah hanya hukuman penjara untuk membuat jera pelaku bullying?

Jika kita amati, remaja saat ini telah dirusak dari segala arah. Mulai dari serangan sekulerisme liberal yang memisahkan agama dari kehidupan hingga kebebasan dalam menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Tentu, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan tanpa batas dalam segala aspek. Termasuk aspek bertingkah laku. Di sisi lain, derasnya informasi dari media yang seolah tak terkendali dengan konten-konten kekerasan didalamnya, mulai dari game hingga film yang pada akhirnya mudah ditiru dalam kehidupan nyata. Ironis!

Selain pengaruh media yang begitu besar, diketahui bullying merupakan sebuah siklus, dimana para pelaku saat ini kemungkinan besar adalah korban dari pelaku bullying sebelumnya. Ketika menjadi korban, mereka membentuk skema kognitif yang salah, bahwa bullying dapat dibenarkan meskipun mereka merasakan dampak negatifnya sebagai korban. Terjadinya bullying sangatlah menyakitkan bagi si korban. Oleh karenanya bullying merupakan sebuah siklus yang apabila dibiarkan akan terus-menerus terjadi dan memakan banyak korban

Benteng pertahanan pertama dan utama remaja adalah keluarga. Keluarga akan menjadi tempat pendidikan dan pembentukan karakter yang terpenting bagi seorang remaja. Orang tua, haruslah memberikan teladan kepada anak-anak mereka dalam berkata dan bersikap. Tak sedikit para perilaku bullying berasal dari keluarga yang rusak dan terjadi komunikasi yang sangat buruk dari orang tua mereka. Hal ini menjadikan rusaknya psikologi dan akhlak remaja. Orang tua, hendaklah membekali remaja dengan aqidah yang kokoh dan akhlak yang terpuji. Namun sayang, kehidupan kapitalis-sekuler saat ini menjadikan banyak keluarga terlupakan dengan peran strategis ini. Akibatnya, banyak remaja kita yang terabaikan dan semakin parah kerusakannya ketika berada di masyarakat. Di sisi lain, ada remaja yang meski sudah mendapatkan pendidikan terbaik di keluarga, nyata justru menjadi rusak ketika berada di lingkungan di luar rumah.

Oleh karena itu, Islam memandang bahwa menjaga remaja dan generasi bukan hanya tugas orangtua, akan tetapi juga butuh peran dari negara dan masyarakat. Negara memiliki andil yang sangat besar dalam menyaring segala tontonan di media apapun yang berpengaruh besar terhadap pembentukan generasi. Begitu pun dengan masyarakat, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk saling menasihati, mengajak pada kebaikan dan mencegah tindakan yang buruk. Sebab, jika hanya orangtua yang berperan dalam menjaga generasi muda, sedangkan lingkungan masyarakat dan negaranya tidak mendukung, maka tidak menutup kemungkinan anak akan terkontaminasi dengan pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.

Selain itu, sistem pendidikan yang dijalankan oleh negara sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian remaja. Sistem pendidikan tersebut haruslah terintegrasi sejak pendidikan di sekolah dasar. Jika kita melihat saat ini, pendidikan di negara kita nyata hanya melihat keberhasilan prestasi siswa didik dari nilai di atas kertas. Prestasi demi prestasi dibanggakan namun jauh dari pembentukan kepribadian dan akhlak terpuji. Hal ini adalah buah dari sistem pendidikan sekuler. Maka wajar jika kerusakan pada remaja juga terus terjadi secara sistemik. Hal ini karena sistem yang ada baik sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem hukum, dan sistem informasi tidak mendukung untuk penjagaan remaja dari kerusakan.

Oleh karena itu, untuk memutus siklus bullying pada remaja dibutuhkan sinergitas dari orang tua, masyarakat, dan peran negara. Hanya saja, sinergitas ini akan sulit diwujudkan jika tata kehidupan yang ada adalah tata kehidupan sekuler-liberal di bawah pemerintahan demokrasi. Terbukti, tata kehidupan tersebut telah gagal membangun sistem pendidikan yang ada, menjadikan orang tua abai terhadap kebutuhan dan perkembangan anak, dan membentuk masyarakat yang cenderung permisif dan individualis.

Maka mengembalikan tata kehidupan ini kepada tata kehidupan yang sesuai aturan Sang Pencipta yakni syariat Islam haruslah menjadi perhatian semua kalangan. Karena Islam adalah agama yang tidak hanya mencakup keimanan dan ibadah, namun memiliki tata aturan atau syariat yang begitu sempurna dalam penjagaan jiwa, akal, harta, dan kehidupan. Oleh karena itu, hanya dengan penerapan syariat Islam saja, kerusakan demi kerusakan yang terjadi di masyarakat bisa tertangani, termasuk kasus bullying yang marak di kalangan remaja kita. Wallahu a’lam Bisshawab.

Ifa Mufida
(Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Masalah Sosial)

Tags
Back to top button
Close
Close