KESEHATAN

Begini Cara Islam Menjaga Kesehatan Masyarakat

Hari Diabetes sedunia (World Diabetes Day) diperingati untuk meningkatkan perhatian terhadap diabetes yang kejadiannya terus meningkat di dunia. Diprakarsai oleh International Diabetes Federation (IDF) dan World Health Organization (WHO), WDD diperingati sejak tahun 1991 setiap tanggal 14 November. Dengan jumlah penderita sebanyak 8,1 juta penduduk, Indonesia menempati urutan kelima penderita diabetes terbanyak di dunia. Riset kesehatan dasar (Resikdas) menunjukan Diabetes Melitus di Indonesia naik dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% di 2018.

Hasil riset kesehatan dasar Badan Penelitian dan Pengembangan kesehatan (Balitbangkes) kementerian kesehatan 2007, 80% peningkatan terjadi pada penderita diabetes tipe 2. Orang dewasa, khususnya kaum pekerja rentan menderita penyakit tersebut, terutama para pekerja dengan rutinitas pagi hingga malam. Hal ini sangat wajar sekali terjadi, mengingat sistem sekarang adalah sistem yang menciptakan budaya konsumsi masyarakat yang cukup tinggi sehingga masyarakat harus bekerja keras siang malam untuk memenuhi kebutuhannya.

Dari sinilah awal mula pola hidup sehat terlupakan. Kemudahan serta pemenuhan kebutuhan yang serba instan menjelma sebagai rayuan maut. Perlahan menjerat masyarakat menjadi hamba dalam kemajuan yang diciptakannya sendiri. Terlena dan terus larut menjadi budak penghasil materi hingga menuntut raga melebihi batas kemampuan. Sejalan dengan manajemen waktu yang berantakan, pola hidup tak sehat, menjamurnya makanan instan, jajan sembarangan menyebabkan kasus penyakit seperti ini meningkat setiap tahunnya.

Tingginya jumlah penderita diabetes perlu menjadi perhatian. Sebab mempengaruhi produktivitas kerja dan mutu kesehatan generasi. Hal ini dapat berimbas pada kemajuan suatu negara. Maka negara patut memberi perhatian serius pada kasus ini.

Kiat Sehat Ala Rasulullah

Aspek kesehatan tak luput dari perhatian Islam. Bahkan Islam menganjurkan umatnya untuk hidup sehat. Sebab Allah Ta’ala menyukai hamba-hamba-Nya yang sehat. Diharapkan dengan kesehatan prima, seorang hamba dapat optimal dalam beribadah.

Rasulullah sebagai teladan terbaik, telah mengajarkan 14 abad yang lampau. Bagaimana hidup sehat dalam Islam. Salah satunya adalah petunjuk soal makan. Rasulullah mengajarkan muslim pedoman cara makan yang baik. Cara ini bahkan sering digunakan sebagai metode diet. Efektifitas metode pengaturan makanan dalam Islam yang diajarkan Rasul tersebut kini telah berhasil dibuktikan melalui penelitian ilmiah modern.

Hadits “1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air, serta 1/3 untuk udara” dibuktikan pada tahun 2006 oleh Christiaan Leeuwenburgh dari Institute of Aging Kampus Florida. Disimpulkan bahwa porsi makan sejumlah 8% saja bisa menghindar banyak rusaknya organ disebabkan penuaan. (Porsi makanan yang disebut yaitu “porsi makan hingga kenyang” yang umum dikonsumsi orang sehari-hari).

Hadits tentang “makan sebelum saat lapar serta berhenti sebelum saat kenyang,” dibuktikan oleh Kalluri Suba Rao, pakar biologi molekuler (2004). Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa Makan sedikit sangat mungkin badan untuk lebih “berkonsentrasi” melakukan perbaikan organ, hingga aktivitas perbaikan DNA, buang zat-zat racun keluar badan, serta pergantian beberapa sel rusak dengan sel sehat bisa berjalan lebih optimal.

Sedangkan jika kita makan banyak melebihi batasan, maka badan bakal lebih repot dengan aktivitas katabolisme (menguraikan beberapa makanan itu dalam badan) serta “tidak sempat” melakukan perbaikan. Inilah satu diantara pengundang berbagai penyakit seperti darah tinggi, kolesterol, diabetes dan lain-lain yang bisa memperpendek usia manusia zaman saat ini.

Profesor Hans Heinrich Reckeweg, M. D., pakar toksikologi dalam bukunya berjudul Biological Therapy Vol. 1 No. 2, menyebut, “Kita penduduk Barat yg tidak mengamati serta tak mencontoh adab makan yang diajarkan Islam, pada akhirnya menanggung derita banyak penyakit. Mereka yang mematuhi rutinitas makan menurut Islam akan sehat, serta mereka yang mengikuti cara makan Barat yang jelek akan sakit. Rutinitas sehat dalam adab makan Islam semestinya ditiru oleh penduduk Barat.”

Menurut ilmuwan UCLA yang mempelajari diet ala Rasulullah Saw ini, “Dengan diet ini saja, manusia tak membutuhkan lagi konsumsi suplemen seumur hidupnya, lantaran diet ini lebih kuat dari suplemen.”(islampos.com, 06 Maret 2018)

Peran Negara

Selain dari pengontrolan individu, tentu pemerintah juga mempunyai andil besar dalam mendukung suksesnya pola hidup sehat yang dilakukan masyarakat. Karena walaupun diabetes bukan penyakit yang bisa disembuhkan, tetapi penyakit ini dapat dikendalikan. Dan untuk mengendalikannya perlu perhatian khusus dengan pola hidup sehat juga pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Namun, hal inilah yang justru menjadi kendala. Dimasa kini, kesehatan dianggap sebagai suatu yang dapat diperjualbelikan. General Agreement on Trade Service menegaskan bahwa kesehatan kini telah menjadi jasa komersial. Jika ingin sakit, kita harus siap dengan tabungan yang besar.

Walaupun sekarang sudah diadakan jaminan kesehatan BPJS, nyatanya masyarakatlah yang menjamin kesehatannya sendiri dengan iuran perbulan. Hal ini masih dihadapkan dengan fakta bahwa tak semua penyakit yang diderita tercover. Ditambah lagi pengurusan syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dinilai cukup rumit dan kurang efektif sehingga banyak penderita yang tak mau ambil pusing lantas urung memeriksakan diri.

Hal ini jauh bertentangan dengan prinsip yang dianut pada sistem islam dalam bingkai kekhilafahan. Pelayanan kesehatan tidak ditujukan untuk meraih nilai materi, tetapi ditujukan demi mendapat ridho Allah SWT semata.

Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya.” (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Dalam hadits ini kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukkan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi.

Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw. bersabda: “Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Tidak terpenuhi atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan mendatangkan dharar bagi masyarakat. Dharar (kemudaratan) wajib dihilangkan. Nabi bersabda: “Tidak boleh membahayakan orang lain dan diri sendiri.” (HR Malik).

Dengan demikian, kesehatan dan pengobatan merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak rakyat dan menjadi kewajiban negara. Sungguh, ini membuktikan bahwa sistem Islam sejak dahulu telah memiliki pola pengaturan yang luar biasa terhadap segala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal kesehatan dan kesejahteraan.

[Tika Sekarsari Sunaryo, Amd.RMIK]

ARTIKEL TERKAIT

Close