SURAT PEMBACA

Bendera Tauhid Pemersatu Umat

Aksi Bela Panji Tauhid terus dilakukan di berbagai tempat di Indonesia. Meski beberapa mengalami persekusi, akan tetapi semangat kaum muslim tetap tinggi. Puncaknya Aksi Bela Tauhid di gelar pada Jumat 2 November 2018 lalu di Jakarta. Kibaran al Liwa dan ar Royah menghitamputihkan Jakarta. Masyaallah.

Kasus pembakaran bendera tauhid memang masih menyisakan luka di hati kaum muslim, karena pihak kepolisian terkesan lambat dalam menangani kasus ini.

Meski akhirnya hakim Hasanuddin dalam sidang yang di gelar di PN Garut menjatuhkan vonis kepada F dan M sebagai pembakar bendera dan Uus Sukmana sebagai pihak yang membawa bendera di jatuhi hukuman 10 hari penjara dan denda sebesar Rp2.000,-. (Detik.news/6/11/2018)

Tentu, kemungkinan besar umat muslim tidak akan puas dengan hasil sidang tersebut. Bagaimanapun yang di bakar adalah bendera bertuliskan kalimat tauhid, dan tindakan tersebut masuk dalam katagori pelecehan agama.

Hingga hari ini pro kontra pembakaran bendera tauhid terus terjadi. Hal ini dikarenakan isu bahwa bendera tauhid yang dibakar adalah milik HTI. Padahal, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto sendiri telah menyanggah hal itu dengan mengatakan bahwa HTI tak memiliki bendera. (Tempo.co/23/9/2018)

Bendera tauhid yang sering di bawa HTI adalah upaya dari HTI untuk mengenalkan al liwa dan ar royah kepada kaum muslimin.

“Panjinya (royah) Rasulullah berwarna hitam, dan benderanya (liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya “La ilaha illallahu muhammadar rasulullah”. (HR. Al-Thabrani)

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Dahulu para sahabat ra membela tauhid dengan mengorbankan jiwa raganya. Pada Perang Mu’tah, saat itu komandan perang yang memegang bendera berusaha untuk tetap memegang dan mengibarkan bendera walaupun nyawa taruhannya. Imam al-Bukhari meriwayatkan, bahwa yang memegang ar-Rayah dalam Perang Mu’tah awalnya adalah Zaid bin Haritsah, tetapi ia kemudian gugur. Ar-Rayah lalu dipegang oleh Ja’far, tetapi ia pun gugur. Ar-Rayah lalu berpindah tangan dan dipegang oleh Abdullah bin Rawwahah, tetapi ia akhirnya gugur juga di jalan Allah SWT. (HR al-Bukhari, Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, IV/281).

Maka, sudah sewajarnya jika pembakaran bendera tauhid ini mendapat respon keras dari kaum muslimin.

Pemerintah seharusnya menyadari bahwa jika kasus-kasus semisal ini terus dibiarkan, bisa jadi akan membawa perpecahan dalam masyarakat dan semakin maraknya kasus pelecehan agama ke depan dilakukan.

Penegak hukum harus adil dalam menindak. Penegakkan hukum hendaknya tidak di susupi kepentingan-kepentingan tertentu yang menyebabkan lemahnya tindak hukum.

Jika kita meneliti lebih lanjut Aksi Bela Panji Tauhid ini, akan kita dapati bahwa peserta aksi terdiri dari berbagai kalangan dari berbagai latar belakang ormas/strata masyarakat.

Kalimat tauhid memang harus dimuliakan. Bahkan, kaum muslimin harus mengingat bahwa dahulu kaum muslimin di seluruh dunia dari berbagai bangsa pernah bersatu di bawah panji al liwa dan ar roya selama 1400 tahun lamanya dalam institusi negara Islam, Khilafah.

Sejak Rasulullah Saw menegakkan Daulah Islam di Madinah hingga Daulah Khilafah Ustmani runtuh tahun 1924 kaum muslimin telah terbiasa hidup di bawah panji tauhid.

Bahkan penyebaran Islam di Nusantara pada masa kekhilafahan Ustmani pun juga tidak terlepas dari berkembangnya bendera tauhid yang melambangkan syiar Islam, yaitu bendera bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh yang sering disertai simbol hilal (bulan sabit).

Sebagai contoh, bendera pasukan Aceh saat berperang melawan Belanda, bentuknya mengikuti pola al-Liwa‘ atau ar-Rayah, yaitu bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Demikian pula bendera Kesultanan Cirebon yang tampaknya merupakan kombinasi al-Liwa‘atau ar-Rayah. Bendera ormas Muhammadiyah menggunakan kalimat syahadat Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Deni Junaedi, Bendera Khilafah Representasi Budaya Visual dalam Budaya Global, hlm. 3). Hal ini menandakan bahwa bendera tauhid adalah bendera umat Islam yang bisa menyatukan mereka.

Semoga, dengan semakin besarnya kesadaran kaum muslimin akan pentingnya kalimat tauhid, ini menandakan akan semakin dekatnya kebangkitan Islam. Aamiin ya Rabb.

Vicky Pratica Evita Sari, S.Pd
(Anggota Komunitas Revowriter, tinggal di Malang, Jatim)

ARTIKEL TERKAIT

Close