MAHASISWA

Bercanda tapi Berlebihan

Selasa (13/11/2018) viral video pengeroyokan guru yang dilakukan oleh sejumlah siswa. Diketahui bahwa video tersebut ketika jam pelajaran dan diduga dilakukan hanya untuk bercanda. Namun dari bercanda yang berlebihan itulah bupati Kendal, Mirna Anissa sampai menghimbau agar guru dan murid membatasi bercanda saat jam pelajaran.

“Kalau guyon, jangan keterlaluan. Harus bisa membedakan guyonan murid dengan guru, apalagi saat jam pelajaran. Video itu telah viral dan menghebohkan karena dikira video penganiayaan”, kata Bupati Kendal, Mirna Anissa, seperti dilansir Kompas.com.

Disebutkan, aksi bercanda tersebut berawal pada saat siswa saling lempar kertas antarsiswa di dalam kelas. Tak sengaja, salah satu kertas mengenai sang guru, Joko Susilo di depan kelas. Sang guru bertanya, siapa yang melempar kertas. Seluruh siswa terdiam dan tidak mengaku.

Lalu, salah seorang siswa bernama P dengan nada bercanda, mengaku ia yang melemparkan kertas tersebut ke Pak Joko. Pada saat itulah siswa mengajak beliau bercanda agar beliau tidak marah. Tidak hanya P, namun S, A, dan A juga ikut maju ke depan kelas. Dan entah bagaimana, guru dan para murid bercanda seperti layaknya guru dianiaya oleh murid-muridnya. Ada siswa yang merekam video tersebut. Dalam video tersebut terlihat lima murid menganiaya guru dengan menendangnya. Namun tidak sampai mengenai sang guru. Siswa siswi pun tertawa lepas karena melihat gerakan sang guru yang berputar, hingga sepatu beliau pun terlepas. Salah satu siswa bernama AG mengatakan bahwa menurutnya salah satu siswa yang merekam video di kelas semuanya dilakukan hanya untuk bercanda, agar pak Joko tidak marah saat terkena lemparan kertas.

Sungguh memprihatinkan kejadian tersebut. Bercanda yang berlebihan dalam jam pembelajaran di kelas. Sebenarnya tidak ada larangan bercanda di dalam Islam. Bahkan Rasulullah pun pernah bercanda dengan para Sahabat. Namun, bercanda seperti apakah yang dicontohkan oleh Rasulullah? Pertama, Rasulullah mengajarkan agar tidak berdusta saat bercanda.

Seperti dalam hadits Rasulullah yang artinya, “Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar.” (HR. Ath-Thabrani).

Dan juga dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Celakalah seorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad)

Kedua, tidak tertawa berlebihan. Tertawa hingga terpingkal-pingkal juga dilarang oleh Rasulullah didalam hadits. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. At-Tirmidzi)

Ketiga, tidak boleh menakut-nakuti muslim lainnya ketika bercanda. Seperti yang terjadi pada sahabat Rasulullah. Suatu hari ada seseorang yang menyembunyikan cambuk salah seorang sahabat Rasulullah pada malam hari, saat sahabat Rasulullah sedang tertidur. Saat terbangun, sahabat Rasulullah itupun merasa takut, karena merasa kehilangan cambuk tersebut. Dengan kejadian tersebut, Rasulullah pun bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim membuat takut Muslim yang lainnya.” (HR. Abu Dawud)

Maka ketahuilah, apapun yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak, perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’, ayat 36 : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Dan Rasulullah Saw juga bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47)

Maka, sebelum bertindak hendaklah berpikir terlebih dahulu. Apakah perbuatan yang kita lakukan ini akan berdampak baik ataukah berdampak buruk. Apakah yang dilakukan adalah perbuatan baik ataukah perbuatan buruk. Semuanya akan dipertanggungkawabkan di akhirat kelak. Jika kita tidak dapat berkata yang baik, maka sebaiknya kita diam. Dan tidak perlu kebablasan bercanda. Apakah kita tidak takut dengan pertanggungjwabkan di akhirat kelak?

Semoga dengan kejadian tersebut kita dapat mengambil pelajaran, agar dapat bercanda sesuai porsinya dan tidak berlebihan. Jangan sampai hal ini terjadi di lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Karena pendidikan bertujuan untuk menuntut ilmu, bukan untuk bercanda. Apalagi bercanda yang kebablasan dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Walaupun boleh saja bercanda, hanya untuk selingan ketika jenuh dalam pembelajaran di kelas. Akan tetapi bercanda yang tidak berlebihan dan kebablasan. Wallahu a’lam Bisshawab.

Novida Balqis Fitria Alfiani
Mahasiswi UIN Maliki Malang

Close