OPINI

Dakwah, Menulis dan Pergerakan

Amar makruf nahi munkar memang ibarat ruh penggerak tubuh dan motivasi para ulama yang zuhud, ulama waratsatul anbiya seperti yang dirasakan oleh Ustaz Abdul Somad

Sehingga apabila ruh itu ada yang menganggu atau terganggu, maka ritme tubuh menjadi sakit dan merusak imun tubuh, yang pada akhirnya membuat limbung.

Mungkin perumpamaan di atas memang tidak tepat sepenuhnya jika dihubungkan dengan harapan-harapan umat dan ulama yang telah berijtima merekomendasikan Ustaz Abdul Samad menjadi salah seorang kandidat Cawapres bersama Habib Salim Segaf Al Jufri untuk dampingi Prabowo Subianto sebagai Cawapres hasil Ijtima Ulama 27-28 Juli 2018 lalu.

Setidaknya, dorongan dan dukungan umat dan ulama kepada Ustaz Abdul Somad agar menerima amanah sebagai cawapres yang semakin menguat, membuat kekhawatiran atau bahkan menakutkan beliau, bahwa urusan dakwah, menulis dan menggerakkan dakwah di selurus pelosok negeri yang beliau tekuni dan azamkan selama ini, bakal terkendala.

Padahal yang membuat beliau semakin dikenal dan dicintai umat, disamping takdir dari Allah tentunya, sebagiannya juga karena dakwahnya sering mendapati kendala, yakni semakin banyak mendapat penentangan, kontroversi penolakan, penghambatan dari oknum-oknum yang alergi dengan dakwah, sehingga seiring dengan hal itulah umat semakin mengenal, mencintai dan membelanya.

Kita harus yakinkan beliau (Ustaz Abdul Somad) dan para kolega yang selama ini berusaha memproteksinya karena kekhawatiran yang sama dan sangat wajar, bahwa setelah direkomendasikan untuk menjadi kandidat cawapres harapan umat, khawatir Ustaz Abdul Somad bakal terkebiri dan terkendala urusan dakwahnya.

Satu hal yang kita harus yakinkan adalah bahwa; apabila selama ini beliau dakwah sebagai seorang ulama mandiri, tidak memiliki (memegang) power sebagai umaro, sehingga dalam realitasnya banyak dihambat, dihadang, dipersekusi dan mungkin pula menjadi target untuk dikriminalisasi dengan tujuan agar surut langkahnya untuk menekuni dakwah di negeri ini, karena beliau dianggap sebagai orang biasa dan bukan penguasa.

Tentu akan menjadi lain jika kapasitas dan azam beliau untuk terus berdakwah sampai ke pelosok-pelosok negeri ini mendapat perluasan legitimasi dari penguasa atau sebagai penguasa, yang ikut memiliki power kepemimpinan sebagai pengendali kekuasan pemerintahan di negeri ini, maka in sya Allah segala bentuk hambatan dakwah yang sebelumnya beliau terima sebagai sosok pribadi ulama; berupa penentangan, penghadangan, persekusi dan kriminalisasi relatif dapat teratasi.

Dengan ikut memiliki power pengendali pemerintahan di negeri ini, dakwah beliau akan semakin meluas, membuka jalan bagi ulama-ulama muda generasi di bawahnya yang sevisi dengan beliau, ikut terjun langsung ke medan-medan dakwah dipelosok negeri ini, dan tidak dihambat-hambat, atau dihalang-halangi. Tidak harus terus jadi target diperkusi atau dikriminalisasi.

Dengan ikut memegang power kendali pemerintahan, dakwah beliau tinggal diiringi kejelian membuat instruksi kepada ulama-ulama dan aparat pengendali kemanan di seluruh negeri, agar dakwah di seluruh pelosok negeri ini tidak dihambat dan dicurigai, tidak ditolak atau diperkusi, tidak difitnah dan ulama-ulamanya dikriminalisasi.

Sekali lagi, hal itu in sya Allah hanya akan bisa terjadi apabila Ustaz Abdul Somad bersedia menerima mandat ijtima ulama dan umat Islam untuk bersedia ikut memegang kendali power kekuasaan sebagai wapres dambaan umat, melalui pencalonan yang sedang ditunggu-tunggu umat, baik di internal bangsa Indonesia secara nasional maupun di dunia internasional.

Semoga Allah memberikan jalan dan keyakinan kepada Ustaz Abdul Somad untuk menyambut takdir dari Allah, menjadi bagian dari kepemimpinan NKRI yang diridhoi Allah dan mengundang turunnya keridhoan keberkahan di negeri Indonesia yang kita cintai ini. Aamiin.

Kesempatan tidak datang berulang kali

Mudah-mudahan pada saatnya yang kritis nanti, keputusan beliau adalah menerima dan bersedia dicawapreskan mendampingi Capres hasil Ijtima Ulama. Aamiin

Namun seandainya cawapres yang disepakati oleh ulama dan partai koalisi keumatan dan didaftarkan ke KPU dampingi Prabowo adalah Habib Salim Segaf Al Jufri, maka umat Islam tetap wajib mendukungnya sesuai dengan amanah hasil Ijtima Ulama yang sudah diputuskan.

Tidak boleh ada yang membelot atau pun menghianati hasil keputusan Ijtima Ulama yang telah disepakati bersama. Siapa pun yang membelot, maka mereka itu akan mendapat kerugian dirinya sendiri, merugikan perjuangan umat dan bangsa ini.

Semoga Allah satukan kita dalam kebaikan yang diridhoi Allah. Aamiin.

Wilyuddin Abdul Rasyid Dhani

ARTIKEL TERKAIT

Close