KOLOMOPINI

Dapatkah Cuitan Menyelamatkan Trump?

Mantan kandidat presiden dari Partai Republik yang kini menjabat sebagai Senator, Mitt Romney, pernah menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai “penipu ulung”.

Tanpa bermaksud memfitnah atau mencemarkan nama baik siapapun, mantan gubernur ini bisa jadi benar.

Trump telah menghabiskan nyaris sepanjang hidupnya menjual lebih banyak dari yang mampu dia buktikan, dari kasino-kasino Altantic City miliknya yang kini bangkrut, sampai universitas kepunyaannya yang gulung tikar.

Namun kegagalan tak pernah menghentikan Trump, mungkin karena “sekali tukang jualan, selamanya tukang jualan”. Sonder pengalaman di kantor pemerintahan manapun, juga kurang pengalaman kerja selain memiliki – dan membangkrutkan – perusahannya sendiri, Trump berlaga dalam pemilihan presiden dengan modal “kesuksesan bisnisnya”, dan menjanjikan hasil serupa untuk negara Amerika Serikat.

Sebelum Gedung Putih, Trump menepis laporan tentang buruh dari Kementerian Ketenagakerjaan dan menyebutnya “dibuat-buat”. Setelah menjadi presiden, Trump menjadikan laporan yang sama sebagai indikator kesuksesannya.

Standar ganda yang sama juga diterapkan Trump pada setiap aspek pemerintahannya: Saat ada hal-hal yang menunjukkan keberhasilan, dia mengklaim berada di belakangnya meskipun sebenarnya merupakan hasil kerja para pendahulunya. Ketika ada kegagalan, dia menyalahkan pendahulu-pendahulunya meski dia yang melakukan kesalahan.

Berbagai pemeriksa fakta telah berulang kali menjabarkan Trump sebagai presiden yang mengatakan paling banyak kebohongan. Namun toh, ini tak menghentikan Trump untuk menutupinya dengan lebih banyak kebohongan.

Yang lebih penting, kebohongan-kebohongan Trump tak menggentarkan para pendukungnya, meski jumlah mereka hanya sedikit. Hingga hari ini, meski banyak perkataannya terbukti bohong belaka, beberapa bahkan dengan konsekuensi hukum, Trump masih menikmati dukungan besar dari simpatisan Partai Republik garis keras, yang diperkirakan berjumlah sepertiga suara partai tersebut.

Mengingat dukungan yang tak tergoyahkan dari para fans-nya, Trump berpikir kemampuannya “berjualan” lah yang telah membawanya sampai sejauh ini, dan satu-satunya yang bisa melindunginya di masa depan melawan kemungkinan dirinya bersinggungan dengan hukum.

Taktik populis Trump berarti, dalam menghadapi tuduhan dan kemungkinan dakwaan terhadap dirinya, dia bergantung kepada dua hal: Pendukung garis kerasnya, dan hak-hak prerogatif yang dimilikinya sebagai presiden. Hak prerogatif yang selama ini terus digunakannya untuk memecat separuh petugas hukum senior yang menolak menghentikan penyelidikan dugaan kolusi yang dilakukannya dengan pemerintah-pemerintah asing, seperti Rusia.

Dengan pernyataan-pernyataannya yang impulsif dan cuitannya di Twitter yang tak beraturan, manajemen Trump yang kacau di Gedung Putih berarti dia belum memiliki pembelaan legal yang efektif, bila nanti penyelidikan mengarah padanya.

Alih-alih menyiapkan pembelaan atas kasus Penasihat Khusus Robert Mueller, yang menyelidiki kemungkinan campur tangan Rusia terhadap pemilihan umum Amerika pada 2016, Trump menyerang Mueller secara personal, mencoba mendiskreditkan pribadi Mueller dan integritasnya.

Trump lupa bahwa Dewi Keadilan menutup matanya, sambil membawa timbangan di tangannya, bukan tanpa alasan. Keadilan harus terus dicari meskipun bertentangan dengan pendapat umum, dan meskipun presiden adalah kepala penegak hukum, kekuasaannya memiliki batas, terutama karena sistem desentralisasi Amerika.

Sejauh ini, Mueller berhasil melampaui kepintaran Trump di banyak sisi. Pertama, tidak seperti Trump yang doyan mengomentari apa saja, Mueller tetap diam, dan mengomando jalannya penyelidikan tanpa ada kebocoran. Kedua, Mueller menyadari bahwa Trump memiliki otoritas untuk memberikan keringanan hukuman kepada orang-orang yang didakwanya dan memecat para jaksa penuntut. Namun kekuasaan Trump hanya terbatas pada pejabat hukum federal saja. Untuk itu, penasihat khusus mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan menyerahkan dakwaan kepada jaksa penuntut lokal di negara bagian.

Hingga kini, kasus-kasus yang berkaitan dengan pengacara Trump Michael Cohen, orang kepercayaan dan pemilik National Enquirer David Pecker, dan Kepala Keuangan di Trump Organization Allen Weisselberg, diproses di level negara bagian. Ini berarti, meski Trump memecat Mueller, kasus-kasus di atas akan terus berjalan.

Satu-satunya kasus yang berada di yurisdiksi federal adalah kasus mantan Manajer Kampanye Presidensial Trump, Paul Manafort, yang didakwa dengan delapan dari 18 sangkaan penyelewengan pajak. Manafort saat ini tengah menunggu sidang kedua yang akan memutuskan hubungannya dengan pemerintah Ukraina. Sementara Trump berpikir dia bisa mengampuni Manafort dan mengakhiri sidangnya, banyak ahli hukum berpendapat pengampunan dari presiden tidak akan menghentikan jaksa penuntut di negara bagian untuk melanjutkan proses hukum yang dimulai Mueller.

Di antara empat orang kepercayaan Trump yang telah berbalik menentangnya, didakwa atau memilih membuat kesepakatan dengan jaksa, hanya Manafort yang diketahui tidak dekat dengan Trump sebelum kampanye presiden 2016. Ini mungkin meyakinkan Mueller bahwa bila orang dekat Trump lain bersalah, atas satu atau lain hal, Manafort harus diberi perhatian khusus karena berasal dari luar lingkaran Trump, seseorang yang dikenalkan kepada tim Trump oleh pemerintah asing. Berdasarkan spekulasi belaka, Mueller sepertinya yakin bahwa Manafort memegang kunci dugaan koalisi Trump dengan Moskow.

Trump sudah terlebih dahulu mengantisipasi segala kemungkinan penemuan bukti-bukti. Dia pernah berkata, “tidak ada kolusi dengan Rusia, dan kalaupun ada, bukan sesuatu yang melanggar hukum.” Jika dugaan kolusi benar terbukti, Presiden AS terancam menghadapi beberapa tuntutan kriminal, termasuk di bawah hukum Aksi Espionase.

Trump juga yang pertama kali menyebut-nyebut soal pemakzulan. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengancam bila dia dimakzulkan, pasar saham akan hancur dan semua warga Amerika akan menjadi miskin. Meski sulit untuk memahami argumen ekonomi Trump, dia mungkin hanya mencetuskan soal pemakzulan sebagai cara lain untuk memancing para pendukungnya untuk menentang penyelidikan Mueller.

Trump pada akhirnya mungkin saja memecat Mueller, bersama dengan para pimpinan Kementerian Hukum, untuk menghambat investigasi ini. Namun sejauh ini, taktik semacam itu tak bisa menghentikan proses pencarian kebenaran. Jika Presiden AS ingin mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya tak bersalah, dia harus mengikuti aturan yang berlaku: Sewa tim pengacara yang hebat dan minta mereka untuk membangun kasus kuat untuk melawan argumen-argumen Mueller.

Segala upaya yang lain terlihat tak membantu Trump, alih-alih mengancam keberadaannya di Gedung Putih. Mencuit di Twitter, lebih-lebih, tak cukup kuat untuk menyelamatkan Trump dari jeratan hukum.*

Hussain Abdul-Hussain

Analis politik yang berbasis di Washington. Dia telah menulis untuk antara lain The New York Times, The Washington Post, dan harian Kuwait Al-Rai.

ARTIKEL TERKAIT

Close