AKHLAK

Fenomena Akhlak Buruk, Cacian Merambah Kancah Politik

Perkataan seorang cucu pendiri NU (Nahdlatul Ulama) KH Hasyim Asy’ari yang berujar dan tersiar di mana-mana hari ini:

“Saya nyaman di pesantren, tapi situasi empat tahun ini masa egois? …. Kita seperti tidak di Indonesia lagi,  di mana setiap orang masing-masing saling memaki, saling mengejek, saling bertentangan, dan itu terbuka  secara umum,” kata Gus Irfan di Prabowo -Sandiaga Media Center, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/11/2018).

Ramah tamah penduduknya, lemah lembut dan sopan santun adat pergaulannya, hormat sekali kepada tetamu menjadi kebiasaan masyarakatnya.

Itu dulu, kawan. Zaman mbah-mbah atau kakek nenek kita sampai saat ketika kita masih hidup di desa yang tenang damai dan patuh taat agama (Islam). Pagi dan sore mereka rajin mengaji Al-Qur’an, ke masjid dan langgar (mushalla) untuk shalat berjamaah dan mengaji, menuntut ilmu agama.

Itu semua insyaallah diberkahi, hingga suasana masyarakatnya aman dan damai, saling sopan santun dan menghormati, hadiah menghadiahi dan hidup nyaman serta berkah.

Entah sejak kapan, tahu-tahu berubah drastis. Tiba-tiba masyarakat terbelalak. Ada orang yang tidak ada sopan-sopannya sama sekali, tapi menjadi penguasa. Kata-kata sangat kasar lagi jorok yang selama ini telah lama terkubur, bermunculan nerocos ditujukan kepada orang-orang bahkan sampai wakil rakyat pun dimaki. Masih pula di depan umum bahkan disiaran televisi secara langsung.

Astaghfirullaah… betapa bertolak belakangnya, antara kemarin dan kini (saat belum lama ini). Kotoran manusia pun disemprotkan untuk mencaci maki orang banyak.

Ketika penyandang akhlaq buruk berupa mulut kotor lagi jorok itu orang tinggian, tentu banyak juga teman-temannya. Sedangkan pertemanan itu saling mengisi, saling mempengaruhi. Walaupun tokoh bermulut kotor itu telah terjengkang dalam pemilihan untuk meraih kekuasaan periode kedua, namun kemungkinan bekas pertemanan pun masih tersisa. Pada gilirannya ada juga di antara teman sosok jorok tersebut yang entah kenapa, ternyata tidak tahan pula untuk menjaga akhlaqnya. Hingga keluar kata-kata yang tidak bagus untuk ukuran orang umum, apalagi yang menduduki suatu level tinggi. Ramailah orang membicarkan cacian yang terlontar, dan sangkutannya di ranah politik pula. Hingga jagat perpolitikan seakan di tambah satu makian alias umpatan sebagai khazanah dendam keceplosan. Zontoloyo, katanya.

Waduh, Pak… apa itu artinya?
Orang pun sibuk mencari-cari, apa itu maknanya.

Ada yang menguraikan sebagai berikut:

Seiring berjalannya waktu, kata ‘sontoloyo’ mengalami pergeseran makna hingga dua ribu tiga belassepuluh ribu ratus derajat. Dari semula digunakan untuk menyebut profesi penggembala bebek menjadi kata umpatan yang bahkan sama panas dengan kata bajingan dan brengsek. Dan perubahan makna itu bahkan dicatat oleh sejumlah literasi dan panduan-panduan berbahasa.

Poerwadarminta, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan 1952 menyertakan kata sontolojo dengan arti dungu atau bodoh sekali. Sedang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesiaterbitan 1976, sontoloyo dimaknai sebagai konyol, tidak beres, hingga bodoh. Konotasi negatif kata sontoloyo pun abadi, seenggaknya sampai Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesiaditerbitkan pada tahun 2016. Dalam kitab berbahasa yang disusun Eko Endarmoko itu, sontoloyo dimaknai sebagai brengsek dan konyol.

Astaghfirullah… keadaan sudah sangat berubah. Orang terhormat yang zaman lalu sangat menjaga akhlak dan lisannya, entah kenapa jadi pelopor yang kurang terhormat dan menunjukkan runtuhnya akhlak manusia dalam pergaulan hidup.

Oleh karena itu seakan ada alasan yang tepat waktunya, ketika muncul perkataan seorang cucu pendiri NU (Nahdlatul Ulama) KH Hasyim Asy’ari yang berujar dan tersiar di mana-mana hari ini:

“Saya nyaman di pesantren, tapi situasi empat tahun ini masa egois? …. Kita seperti tidak di Indonesia lagi,  di mana setiap orang masing-masing saling memaki, saling mengejek, saling bertentangan, dan itu terbuka  secara umum,” kata Gus Irfan di Prabowo -Sandiaga Media Center, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/11/2018).

Ungkapannya itu bukan berarti selain Indonesia itu bebas saja. Tetapi hanya menunjukkan bahwa negeri ini Namanya masih Indonesia, tetapi kok sudah sebegini. Makanya dia katakan, “Kita seperti tidak di Indonesia lagi, di mana setiap orang masing-masing saling memaki, saling mengejek…”

Beredarnya umpatan itulah yang menjadikan dirinya risih, tidak nyaman. Terlepas dari tujuan politik dia, yang dibahas di sini adalah pentingnya kita menyadari, betapa pentingnya akhlaq mulia bagi setiap manusia, apalagi yang tingkatnya kalangan atas. Bahkan ada syair terkemuka dari Timur Tengah, Syauqi Beik mengatakan, “Innamal umamul akhlaaqu maa baqiyat wain humuu dzahabat akhlaaquhum dzahabuu”. (Bangsa-bangsa itu tegak hanyalah selama mereka masih berakhlak/ bermoral. Tapi bila sudah lenyap akhlak mereka, maka lenyaplah/ hancurlah mereka).

Sebegitu dahsyatnya bahaya hancurnya akhlak, hingga mengakibatkan hancurnya suatu bangsa. Oleh karena itu betapa dahsyatnya pula sumber tersebarnya kehancuran akhlaq itu. Sehingga ada peringatan betapa buruknya kedudukan manusia yang jadi sumber hancurnya akhlaq, yang disingkiri manusia karena keburukannya.

Inilah peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن عائشة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يَا عَائِشَةَ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ-أَوْ تَرَكَهُ
النَّاسُ- اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan (atau dijauhi) oleh manusia
karena takut akan kekejiannya”. [HR al-Bukhariy: 6032, 6054, 6131, al-Adab al-Mufrad: 1311, Muslim: 2591,
at-Turmudziy: 1996 dan Ahmad: VI/ 38. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih al-Adab al-
Mufrad: 984, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1624, Shahih al-Jaami’ ash-Shaghir: 7925, Silsilah al-Ahadits ash-
Shahihah: 1049 dan Misykah al-Mashobih: 4829].

Maksudnya, jika ada seorang hamba dijauhi oleh orang lain lantaran takut dan khawatir akan perbuatan buruk dan jahatnya yang ditimpakan kepadanya berupa pukulan, pencurian, penipuan dan sejenisnya dari amalan tangan, atau ghibah, fitnah, namimah, cacian dan semacamnya dari amalan lisan, maka ia adalah orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak. Ia akan dijauhkan dari surga dan akan dijerumuskan ke dalam neraka dalam keadaan hina dina. Namun jika ia djauhi oleh orang lain lantaran sikapnya yang tepat dan tegas dalam mempertahankan dan memperjuangkan agama Allah maka hal itu tidaklah tercela dan bahkan kelak akan mendapat pujian dan sanjungan dari-Nya. (Abu Ubaidullah Alfaruq, “Yang Terbanyak Memasukkan Manusia ke dalam Neraka adalah Farji dan Lisannya).

Mari kita benahi diri dengan akhlaq yang mulia, singkirkan dan singkiri sumber-sumber penghancuran akhlaq, sehingga negeri ini semoga kembali bersuasana tenang damai, ramah sopan, saling hormat menghormati dan taat patuh agama hingga menjadi hamba-hamba yang diberkahi oleh Allah Subhanah Wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Jakarta, Jumat 2 November 2018/ 24 Shafar 1440 H.

Hartono Ahmad Jaiz

ARTIKEL TERKAIT

Close