SURAT PEMBACA

Gempa Bumi Bertubi, Ada Apa Ini?

Gempa bertubi-tubi mengguncang bumi pertiwi. Setelah Lombok diguncang gempa bumi 6,9 SR diikuti ribuan gempa susulan lain di wilayah itu dan sekitarnya, Palu Sulawesi Tengah tidak luput dari guncangan gempa.

Tidak tanggung-tanggung, gempa bumi berkekuatan 7,4 SR mengguncang bahkan menjungkirbalikkan kota-kota dan desa-desa di Palu. Rumah terbenam tanah, jalanan terbelah, nyawa-nyawa manusia melayang, beberapa bahkan masih berstatus hilang hingga hari ini. Mereka yang selamat menggambarkan kejadian tersebut sebagai kiamat. Mengerikan dan menakutkan!

Tidak berhenti di Palu, gempa juga mengguncang bumi Situbondo Jawa Timur dan sekitarnya. Gempa 6,0 SR ini dikabarkan mengguncang hingga 3 pulau: Madura, Bali dan Jawa (bagian timur). Gempa tersebut pun diikuti 11 gempa susulan. (liputan6.com/11/10/2018) Malang pun tidak luput dari pemberitaan gempa, diguncang gempa berskala 3,5 SR. Lebih ringan, namun tidak urung menambah kekhawatiran khalayak ramai akan kemungkinan gempa lain di wilayah negeri ini yang lain.

Memang, negeri subur Indonesia dikarunia kontur tektonik yang unik serta gugusan gunung berapi aktif. Wajar bila di negeri ini rawan terjadi gempa, baik gempa tektonik maupun vulkanik. Banyak yang menyebut, tidak usah membesar-besarkan masalah ini. secara ilmiah, bencana ini hanya proses alamiah. Namun demikian, guncangan bertubi-tubi ini pantasnya membuat kita meraba diri. Apa yang salah sehingga tanah kita terus dilanda bencana?

Allah SWT menegaskan di dalam Al-Qur’an Al-Karim, “Setiap musibah yang menimpa kalian disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri …”. (TQS. Asy-Syura: 30). Begitu pula dalam surat Ar-Rum, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia agar kalian mau kembali”. (TQS. Ar-Rum: 41).

Kedua ayat tersebut menunjukkan kepada kita bahwa musibah yang terjadi pada manusia adalah akibat kesalahan manusia sendiri. Selain mengimani bahwa kejadian gempa bumi ini merupakan ujian dari Allah yang harus dihadapi dengan sabar, sebagai kaum mukminin kita juga wajib mengimani bahwa musibah gempa bumi ini adalah peringatan dari Allah. Peringatan bahwa manusia negeri ini telah berbuat kerusakan. Kerusakan apa yang lebih besar dilakukan manusia yang membuatnya wajar mendapat tanda peringatan bila bukan pelanggaran?

Maksiat, itulah pelanggaran yang manusia lakukan kepada pemilik alam semesta, bumi dan seisinya, Allah Al-Khalik Al-Malik. Banyak manusia yang tidak melaksanakan sholat. Banyak manusia yang tidak melaksanakan zakat. Banyak manusia yang tidak berpuasa saat Ramadan. Banyak pula yang berzina. Terlebih lagi riba, malah penjadi penyokong ekonomi modern yang diadopsi negara kita. Perilaku liwath (gay dan lesbian) bertebaran di berbagai sudut Indonesia. Koruptor, pencuri, begal, tidak pernah jera dengan hukuman yang ada, terus tumbuh tidak pernah musnah. Islam disudutkan dengan Islamofobia, pemeluknya yang taat dituduh teroris radikalis, ulamanya banyak dipersekusi. Betapa hebat tingkat maksiat negeri ini?

Sungguh, semua maksiat itu adalah awal mula bencana yang seharusnya segera kita benahi bersama dengan taubat. Bukankah Umar Bin Khattab RA. pernah berseru kepada penduduk Madinah saat terjadi gempa bumi kecil pada saat itu, “Wahai manusia! Apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Akan halnya kemaksiatan hari ini, sumber utamanya adalah masyarakat muslim saat ini tidak mau berhukum kepada Islam secara keseluruhan. Andaipun mau, prinsip negara demokrasi sekular menihilkan kemungkinan diterapkannya Islam secara utuh. Islam hanya diletakkan di masjid-masjid dan dihidupkan saat Ramadan. Keimanan hanya ditunjukkan dengan ibadah mahdhoh, ibadah ghoiru mahdhoh seperti ekonomi Islam, politik Islam, pendidikan Islam yang semua ada aturannya dalam Islam, dianggap tidak kekinian dan terbelakang. Ketahuilah! Kemaksiatan terbesar kita adalah ketidakpedulian kita saat hukum Allah dianggap remeh dan tidak dilaksanakan. Maka azab itu pantas kita rasakan selama sikap durhaka kepada Allah ini terus dipertontonkan oleh muslim negeri ini.

Saudaraku, marilah kita memenuhi seruan dari Rabb Semesta Alam, yang menjalankan gunung dan membelah bumi dengan hanya kun fayakun! Marilah kita bertaubat secara massal, saya, Anda dan semua muslim negeri ini. Bertaubat dengan mengembalikan iman akan kebenaran semua ayat-Nya, kehebatan semua aturan-Nya dan kesalahan kita selama ini yang meninggalkan hukum-hukum-Nya. Marilah kita bertaubat dengan menjadikan Islam yang sempurna sebagai pengatur negeri ini. Kita jadikan Islam pengatur diri, keluarga, masyarakat dan negara. Kita jadikan semua tunduk patuh pada kebenaran firman-Nya.

Semoga dengan taubat massal kita, Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita akibat maksiat yang merajalela hari ini dan memasukkan kita sebagai penduduk negeri yang diridhai-Nya. Negeri yang aman, sentausa, mendapat ampunan dan perlingdungan-Nya. Semoga saat itu, gempa bumi bertubi hanya tertinggal sebagai pelajaran sejarah masa lalu yang tidak boleh diulang lagi. Dan negeri kita, aman dalam ketaatan penuh kepada-Nya.

Indah Shofiatin
(Alumnus FKM Unair, Penulis Lepas)

ARTIKEL TERKAIT

Close