IBADAH

Haji dan Kurban: Gelora Cinta, Ketaatan dan Pengorbanan

Tahun ini dipastikan kaum Muslimin di tanah air merayakan Hari Raya Idul Adha pada hari berbeda.

Pasalnya pemerintah melalui Kemenag telah menetapkan Idul Adha, 10 Dzulhijjah tahun ini jatuh pada Rabu, , 22/8/2018. Sementara, pemerintah Saudi telah menetapkan Idul Adha tahun ini jatuh pada Selasa, 31/8/2018.

Perbedaan terjadi sebab sebagian kaum Muslimin di tanah air tetap berkeyakinan mengacu pada ketetapan pemerintah Saudi. Mereka antara lain beralasan, Idul Adha berkaitan erat dengan ritual ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah (Hari Arafah), yang jatuh pada Senin, 20/8/2018.

Terlepas dari perbedaan tersebut. Duka kembali menyapa menjelang perayaan Idul Adha. Gempa bumi susulan kembali mengguncang Pulau Lombok dan sekitar sejak Ahad (19/8). Hingga pukul 10.00 WIB,
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat sebanyak 101 gempa susulan, dan sembilan di antaranya sangat terasa (bbc.com, 30/8/2018). Bencana demi bencana terus mengguncang negeri ini. Menambah derita dan ujian penduduk negeri tercinta ini.

Bencana hanya salah satu ujian dari berbagai ragam ujian yang dirundung bangsa ini. Sebelumnya di ranah politik, para elit politik, saling menampakkan hasrat dan nafsu untuk saling berebut jabatan. Tak lain tak bukan agar terus mempertahankan kekuasaannya. Pertarungan ego pribadi, kehendak golongan dan kepentingan partai, saling mendominasi. Saling sikut berebut kursi ala politik pragmatis. Mengorbankan satu sama lain, bahkan siapa saja demi tahta dan kekuasaan.

Di satu sisi, pada saat yang sama, rakyat terus ditimpa ribuan nestapa. Harga kebutuhan pokok tiada hentinya terus melonjak tinggi. Utang negara terus saja menggunung dan menambah beban rakyat di masa datang. Kemiskinan dan pengangguran masih membayangi rakyat. Problematika umat tak kunjung usai bahkan kian banyak.

Mirisnya, semua derita rakyat hari ini terjadi di tengah limpahan kekayaan alam negeri ini. Kekayaan alam memang banyak terkandung di dalam bumi, hingga luas terhampar di permukaan tanah Indonesia. Sayangnya, kekayaan tersebut sebagian besar dinikmati oleh asing, swasta dan pribadi-pribadi. Sementara rakyat hanya gigit jari.

Ya, mungkin di Hari Raya Idul Adha kali ini, duka, derita dan ujian belum beranjak pergi. Tapi hendaknya kita selalu menyadari bahwa semua itu pasti segera terhenti, kecuali duka, derita dan musibah karena meninggalkan petunjuk Baginda Rasul Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.

Segala kebahagian dunia juga akan lenyap, kecuali kebahagiaan saat kita diakui sebagai umatnya. Jikalau sepanjang hayat kita benar-benar meneladani ketaatan, perjuangan dan pergorbanan beliau di jalan Allah Ta’ala.

Selain Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam yang wajib kita amalkan seluruh ajaran dan semua nasihatnya. Teladan terbaik bagi kaum muslimin dan seluruh umat manusia. Ada sosok penting yang tak terpisahkan dari ritual ibadah haji dan qurban. Dialah Bapak Para Nabi, Nabiyullah Ibrahim ‘alayhissalam.

Kisah beliau terukir abadi dalam Al-Qur’an surat Al-Shafat ayat 102. Bagaimana Nabi Ibrahim ‘alayhissallam dengan penuh iman dan keyakinan, tiada ragu sedikit pun, melaksanakan perintah Tuhannya, menyembelih Nabi Ismail ‘alayhissalam, putra tercintanya. Tak larut dalam duka. Sebaliknya tersungkur dalam kenikmatan kepasrahan, kesabaran dan ketaatan.

Kisah cinta terindah antara hamba dan Sang Penciptanya, sepatutnya menjadi teladan/ibrah bagi umat manusia sepanjang zaman. Sebab Allah Ta’ala mengabarkan dalam firman-Nya:

“Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai (TQS Ali Imran [3]: 92).

Nabiyullah Ibrahim ‘alayhissalam telah membuktikannya. Tak hanya harta dunia, bahkan nyawa satu-satunya, putra tercinta dan terkasihnya. Ia persembahkan penuh keyakinan kepada Allah Ta’ala. Sebab tiada Zat yang lebih beliau cinta kecuali Allah Ta’ala.

Maka, pada momentum ibadah haji dan qurban tahun ini. Seharusnya kita dapat mengambil pelajaran dari keteladanan beliau. Tentang besarnya dan luar biasanya cinta, taat dan pengorbanannya kepada Allah Ta’ala.

Cinta, taat dan pengorbanan yang kemudian dilanjutkan secara sempurna oleh Baginda Rasul Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dengan kadar yang istimewa. Sebab tak hanya cinta dan taat. Tapi segalanya siap beliau korbankan demi tegaknya dinulLah.

Sejatinya, inilah makna hakiki ibadah haji dan kurban. Umat manusia diajari tentang cinta, taat dan patuh secara totalitas kepada Allah Ta’ala. Juga tentang keharusan untuk berkorban dengan segala hal yang kita punya. Tak lain dan tak bukan semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Maka dari itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim ‘alayhissalam dan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Mari kita songsong masa depan cerah nan gemilang, peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Pastinya saat kita hidup dalam dekapan sistem Islam yang mulia dan paripurna, dalam naungan ridha Allah Ta’ala.

Semoga semangat cinta, ketaatan, pengorbanan dan perjuangan demi tegaknya Syariat-Nya, senantiasa menggelora dalam diri kita. Aamiin.

Ummu Naflah
Penulis Bela Islam, Akademi Menulis Kreatif

ARTIKEL TERKAIT

Close