SAKINAH

Hikmah Poligami Menurut Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni

Poligami adalah suatu tuntunan hidup, dan ini bukan undang-undang baru yang hanya dibawa oleh Islam. Islam datang dengan menjumpai kebiasaan tersebut tanpa batas dan tidak berperikemanusiaan; lalu diatur dan dijadikannya sebagai obat untuk beberapa hal yang terpaksa yang selalu dihadapi masyarakat. Islam datang, ketika banyak laki-laki yang beristrikan 10 orang atau lebih, seperti yang tersebut dalam hadits Ghailan. Ketika masuk Islam dia mempunyai istri 10 orang. Dan ini bukan terbatas sampai 10 dan tidak terikat.

Begitulah, Ialu Islam datang seraya berbicara dengan orang-orang laki-laki bahwa di sana ada batas yang tidak boleh dilalui, yaitu empat orang. Dan di sana ada pula ikatan dan syarat, yaitu adil terhadap semua istrinya. Apabila adil ini tidak dapat dilaksanakan, maka dia hanya diperkenankan kawin seorang atau terhadap hamba sahayanya.

Dengan begitu, jelaslah bahwa poligami itu sudah ada sejak dahulu kala, tetapi dengan tidak teratur. Lalu oleh Islam diaturnya. Poligami ketika itu hanya memperturutkan nafsu dan selera. Lalu oleh Islam dijadikannya sebagai sarana untuk menuju kehidupan yang utama.

Satu hal yang perlu diketahui oleh setiap insan, bahwa poligami ini adalah salah satu kebanggaan Islam karena dengan poligami itu Islam mampu memecahkan problema yang sukar dipecahkan yang selama ini dihadapi oleh bangsa-bangsa dan masyarakat, sampai hari ini juga. Agaknya tidak akan kita jumpai jalan untuk memecahkan problema tersebut kecuali kita harus kembali kepada hukum Islam, dan menjadikannya sebagal “nizham” (aturan hidup).

Di sana ada beberapa sebab yang memaksa adanya poligami itu, misalnya karena mandul, sakit yang menyebabkan suami tidak dapat memuaskan nafsu seksnya kepada istrinya dan sebagainya yang tidak perlu kita sebut satu per satu di sini. Di sini hanya kita isyaratkan satu titik untuk supaya mudah dipahami.

”Masyarakat”, dalam pandangan Islam tak ubahnya sebuah neraca, yang kedua sisinya itu harus seimbang. Maka untuk menjaga keseimbangan neraca itu, perimbangan jumlah pria dan wanita seharusnya sama. Kalau sampai terjadi tidak berimbang, misalnya Iaki-laki lebih banyak dari wanita, atau wanita lebih banyak dari laki-Iaki, Ialu bagaimana kita bisa memecahkan problema tersebut? Apa pula yang harus kita perbuat kalau seandainya jumlah wanita itu jauh lebih besar dari jumlah pria?

Apakah perempuan itu harus dijauhkan dari kenikmatan perkawinan dan kenikmatannya sebagai ibu, dan kita biarkan menelusuri jalan yang keji dan rendah, seperti yang kini tengah melanda Eropa, dimana jumlah wanita Iebih banyak dari jumlah pria sesudah perang dunia kedua? Ataukah problema ini kita pecahkan dengan jalan yang mulia yang dapat melindungi kehormatan perempuan dan kesucian keluarga serta keselamatan masyarakat? Manakah di antara kedua jalan itu yang lebih mulia bagi orang yang berakal, yaitu seorang perempuan dapat berkumpul dengan perempuan Iain di bawah kekuasaan seorang pria dengan ikatan yang suci; ikatan yang diatur oleh syara’. Ataukah perempuan itu kita biarkan menjadi pelampias nafsu laki-laki dengan hubungan yang penuh dosa?

Negara Jerman yang Nasrani itu, kini memilih jalan yang ditempuh Islam, kendati agamanya sendiri mengharamkannya, yaitu poligami, dalam upayanya untuk melindungi perempuan Jerman dari perbuatan lacur dengan segala akibatnya dan bahaya yang pertama ialah banyaknya anak-anak pungut.

Seorang dosen wanita di sebuah perguruan tinggi Jerman mengatakan, “Sesungguhnya memecahkan problema perempuan Jerman adalah dengan membolehkan poligami … dan aku lebih berbangga menjadi istri kesepuluh dari seorang pria yang bahagia, daripada menjadi istri satu-satunya dari seorang pria yang tidak bermoral… dan ini bukan pendapatku pribadi, tetapi sudah menjadi pendapat seluruh perempuan Jerman.” (Dinukil dari Kitab “Muhadharat fi Tsaqafatil Islamiyah”, oleh Ahmad Muhammad Jamal, yang menukil dari Surat Kabar “Al-Akhbar” Mesir No. 723)

Pada 1948 M, Muktamar Pemuda se-Dunia di Munchen, Jerman, menelorkan suatu resolusi untuk diperkenankan poligami bagi memecahkan problema jumlah wanita yang justru lebih banyak daripada pria, sesudah perang dunia kedua.

Islam telah memberikan jalan keluar untuk memecahkan problema tersebut dengan metode yang sebaik-baiknya, di saat mana agama Kristen berpangku tangan tidak berdaya apa-apa. Apakah ini tidak berarti bahwa Islam mempunyai kelebihan yang besar bagi memecahkan persoalan seperti ini, yang senantiasa dihadapi oleh dunia non-Islam?

Agaknya dalam kesempatan ini, baik sekali kami nukilkan sebagian butiran yang pernah ditulis oleh asy-Syahid Sayid Qutub dalam bukunya ”As-Salamul Alami fil Islam” (Perdamaian Internasional dalam Islam) sbb.:

“Suatu pembicaraan yang tidak pernah ada henti-hentinya yang selalu timbul dan tersebar luas di sekitar cerita ”poligami” dalam Islam, apakah itu sebagai suatu bahaya yang menimpa masyarakat?

Saya sudah mengadakan penelitian, dan akhirnya saya berkesimpulan, bahwa setiap problema masyarakat perlu turut campurnya suatu undang-undang, kecuali masalah poligami ini, yang dapat dipecahkan secara perorangan. Dia adalah masalah yang perlu kepada pendataan, bukan perlu analisa dan perundang-undangan.

Di setiap bangsa ada pria dan wanita. Kalau jumlahnya berimbang, maka praktis setiap seorang laki-laki hanya akan mendapatkan seorang perempuan, tidak boleh lebih. Adapun ketika terjadi perbedaan yang mencolok, di mana jumlah wanita lebih banyak dari jumlah pria, misalnya karena adanya peperangan dan wabah, maka baru dalam soal ini saja kita jumpai suatu kemungkinan seorang pria perlu kepada beberapa orang perempuan.

Dalam hal ini cobalah kita perhatikan suatu misal yang terjadi di Jerman, di mana terjadi perbandingan pria dan wanita 1:3. Ini jelas suatu masalah sosial, dan apa gerangan yang harus dihadapi oleh ahli-ahli hukum?

Ada tiga metode bagi pemecahan persoalan tersebut: Pertama, mungkin setiap orang laki-laki hanya kawin dengan seorang perempuan, sedang yang dua perempuan lainnya dibiarkan tidak mengenal laki-laki sepanjang hidupnya, tidak pernah berumah tangga, tidak beranak dan tidak berkeluarga.

Kedua, masing-masing pria hanya kawin dengan seorang wanita dan hidup berumah tangga, lalu dia bisa bergantian bergaul dengan dua wanita lainnya atau yang seorang saja, supaya si wanita yang lain dapat mengenal seorang pria, tanpa mengenal rumah tangga dan anak. Tetapi kalau dia mempunyai anak, maka anak itu diperoleh dengan jalan dosa.

Ketiga, masing-masing seorang pria kawin dengan lebih dari seorang wanita, lalu si wanita tersebut diangkat ke derajat perkawinan yang mulia, dengan rumah tangga yang penuh kedamaian dan terjamin, hati si laki-laki bisa bersih dari kegoncangan dosa dan siksaan batin, dan masyarakat pun akan terlepas dari krisis dan dari pencampuran keturunan.

Antara tiga metode di atas, manakah yang lebih layak bagi laki-laki dan manakah yang lebih terhormat dan bermanfaat bagi perempuan?. []

Sumber: Terjemah Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni.

ARTIKEL TERKAIT

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker