KESEHATAN

Hukum Berobat dalam Islam

Sebagai seorang Muslim yang berakidahkan Islam sudah seharusnya setiap aktivitas yang dilakukan harus terikat dengan hukum syara’ yakni, wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. Begitu juga di bidang kesehatan salah satunya hukum berobat.

Ada beberapa hadits yang dapat kita ambil untuk kemudian menyimpulkan dari hukum berobat itu sendiri, pertama, HR. Imam Bukhari, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Allah telah menurunkan penyembuhnya.” Kedua, HR. Imam Muslim, “Setiap penyakit ada obatnya, maka jika sesuai penyakit dengan obatnya, maka hilanglah penyakit itu dengan izin Allah SWT.

Ketiga, HR Imam Ahmad, “Tidaklah Allah menjadikan satu penyakit melainkan Allah telah menurunkan syifa’ (penyembuh). Akan mengetahui orang-orang yang memiliki ilmu (keahlian). Tidak mengetahuilah orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Syifa di sini berarti penyembuh. Bentuknya bukan hanya obat-obatan yang harus diminum saja, tapi apapun bisa menjadi penyembuh asal tidak melanggar hukum syara’. Keempat, HR Imam Ahmad dari Anas, “Sesungguhnya ketika Allah menciptakan satu penyakit maka Allah menciptakan satu obat, maka berobatlah.”

Makna hadits di atas menunjukan bahwa Allah menciptakan penyakit dan obat tapi tidak menunjukkan adanya sesuatu yang diwajibkan. Hadits-hadits di atas hanya bersifat anjuran.

Tapi terdapat pula hadits yang menafikan kewajiban dari berobat, seperti dalam hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Abas, yang artinya, “Di sana dikisahkan ada seorang wanita yang mempunyai sakit ayan, tapi ketika penyakit itu kambuh wanita itu tidak sadar bahwa auratnya tersingkap. Maka dari itu wanita tersebut bertanya pada Rasulullah apa yang harus dia lakukan agar auratnya tidak terangkat. Rasulullah pun memberikannya dua pilihan: bersabar dengan penyakit tersebut dan dijamin syurga atau didoakan untuk disembuhkan dari penyakit tersebut. Maka wanita itu memilih untuk bersabar atas penyakit namun minta didoakan agar ketika penyakit itu kambuh auratnya tidak tersingkap. Maka rasulullah pun mendoakannya.”

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa hukum berobat tidaklah wajib karena Rasul sendiri memberikan pilihan kepada wanita tersebut bukan malah cepat-cepat mendoakan untuk disembuhkan. Maka hukum dari berobat adalah mandub/sunnah, yaitu dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa.

Dalam hal ini, ketidakwajiban itu pun sebenarnya memudahkan keadaan saat ini. Jika saja berobat itu diwajibkan, bagaimana nasib orang-orang yang berpenghasilan rendah? Bisa jadi sudah sakit, dia pun menanggung dosa karena tidak berobat. Tapi bukan berarti berobat hanya milik orang-orang kaya saja.

Di sinilah peran Islam untuk mengatur. Di dalam Islam, penyelenggara penyediaan kebutuhan akan kesehatan adalah sepenuhnya kewajiban pemimpin. Dalil yang menunjukkan pengkhususan tentang tanggung jawab pemimpin, yaitu Hadits Riwayat Muslim dari Jabir yang artinya, “Maka pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan kewajiban negara. Jika pada faktanya banyak orang-orang yang tidak mampu untuk berobat, maka kewajiban negara tersebut sudah terabaikan. Seharusnya negara mampu menyediakan penyelenggaraan kesehatan yang juga tidak melanggar hukum syara.”[]

dr. Jefni Anggreini
Praktisi Kesehatan di Depok

ARTIKEL TERKAIT

Close