PERSOALAN UMAT

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Umat Islam sebaiknya tidak membuat acara apapun pada malam pergantian tahun baru, kegiatan keagamaan seperti yasinan, pengajian, zikir akbar dan sejenisnya pada malam tahun baru Masehi. Meskipun acara tersebut baik, namun perlu dihindari pada bersamaan malam tahun baru, agar tidak terkesan perbuatan tersebut merayakan tahun baru Masehi. Hal ini sesuai dengan pengamalan kaidah Fiqh: “Dar’u al-mafaasid muqaddam min jalbi al-mashaalih

(meninggalkan keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan). Dalam hal ini, merayakan tahun baru merupakan mafasid (keburukan) yang mesti ditinggalkan, meskipun diisi dengan acara keagamaan atau ibadah. Hal ini termasuk perbuatan merayakan tahun baru.

Terlebih lagi mengkhususkan ibadah atau meyakini keutamaan ibadah tertentu pada waktu malam tahun baru tanpa dalil yang shahih adalah perbuatan bid’ah yang dilarang dalam agama. Selain itu juga agar perbuatan tersebut terkesan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Hal ini dilarang dalam Islam. Ibadah memang baik untuk dikerjakan, namun dengan tujuan memperingati atau merayakan tahun baru itu kebatilan. Karena merayakan tahun baru itu sendiri kebatilan. Allah Swt juga berfirman: “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 42). Allah Swt juga berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82).

Akhirnya, penulis menghimbau agar umat Islam tidak menyambut dan merayakan tahun baru dengan cara apapun, baik dengan meniup terompet, membakar mercon, kembang api dan lilin, dan sebagainya, maupun dengan melakukan kegiatan keagamaan dan ibadah khusus pada malam tahun baru. Karena semua ini termasuk perayaan tahun baru. Semoga kita selalu diberi petunjuk dan dijaga oleh Allah Swt dari segala bentuk kesesatan dan kebatilan. Amin..!

Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Anggota Rabithah Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Dosen Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5
Tags
Close
Close