SURAT PEMBACA

Hukum yang Tumpul atau Masyarakat yang Tajam

“Mulutmu harimaumu” peribahasa ini tidak cocok disandingkan kepada musisi Indonesia ADP yang masuk kedalam jeruji besi karena tertuduh kasus “ujaran kebencian” di media sosial twitter.

Kasus yang menimpanya disebut sebagai ujaran kebencian saat kasus penistaan agama pada tahun 2016.

Banyak yang menyayangkan ADP dipenjara hanya karena sebuah cuitannya di twitter. Tak sedikit yang berpendapat bahwa cuitannya bukanlah sebuah kebencian bahkan sudah dibuktikan oleh banyak ahli menyatakan hal serupa. Cuitan ADP di twitter pada tanggal 27 Maret 2017 berbunyi “Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya”. (Tirto.id 19/11)

Hukuman yang dijatuhkan kepada ADP pun lebih berat dibandingkan kasus penistaan agama yang ia cuitkan di twitter. Menurut ADP cuitannya di twitter merupakan sebuah pendapat dan jika ia dihukum karena pendapatnya maka hilanglah hak kebebasan berpendapat di Indonesia.

Sebagaimana yang diatur dalam UUD 1945 pasal 28 sudah jelas diberikan kebebasan dalam berpendapat. Tetapi pemerintah membuat UU ITE yang yang mengerucut dan mempersempit masyarakat dalam berpendapat.

Bukti semrawutnya hukum di Indonesia, hukum dibuat untuk siapa dan melindungi siapa. Bahkan kantor polisi menjadi lebih ramai karena kasus-kasus yang melanggar UU ITE tersebut. Tidak ada kejelasan hukum mana yang benar dan adil. Hukum yang dibuat oleh manusia hanya berdasarkan nafsu dan tidak akan pernah memuaskan akal, karena semua itu adalah hasil nafsu belaka. Dibuat untuk kepentingan seseorang. Saat ada yang berpendapat dan mengkritik pemerintah hukum begitu tajam tapi saat pemerintah melakukan kesalahan, hukum yang telah dibuat sangat kebal untuknya. Jadi wajar saja jika di negeri ini kejahatan semakin hari semakin rumit dan beragam bahkan tanpa memandang siapapun korbannya, karena hukumnya sendiri pun tidak bisa menentukan itu.

Maka kita harus kembali kepada hukum Allah, hukum yang paling adil dan benar. Hukum yang memuaskan akal manusia dan menentramkan hati. Sebagai umat muslim, Allah adalah ahkamul hakimin yaitu sebaik-baik pemberi ketetapan hukum. Sebagaimana dalam QS At-Tin ayat 8 yang berbunyi “Bukankah Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum?” Juga dalam QS Al-Ahzab ayat 36 yang berbunyi, “Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.”

Oleh karena itu marilah kita semua kembali kepada hukum Allah SWT yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Agar dapat memuaskan akal dan menentramkan hati. Hukum yang paling adil dan pernah berjaya selama 13 abad. Wallahu’alam bisshawwaab.

Rifka Fauziah Arman, A. Md. Farm.
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Generasi Peradaban Muslimah)

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Back to top button
Close
Close