OPINI

Ibu: Pencetak Generasi Mulia, Bukan Penopang Ekonomi Negara

Mendengar kata Ibu pasti kita akan membayangkan sosok wanita yang penyayang, pejuang, dan rela berkorban. Betapa tidak, di tangannya generasi ini akan menjadi apa dan bagaimana, di tangannya pula masa depan negeri ini ditentukan. Ibu adalah pendidik pertama dan utama. Ibu adalah sekolah petama bagi anak-anaknya. Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember menegaskan bahwa peran Ibu memang besar dalam membangun sebuah peradaban.

Islam selalu menempatkan kaum wanita terutama ibu di tempat dan kedudukan yang tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudian ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadist Rasulullah saw yang masyhur. Memuliakan seorang ibu dalam Islam merupakan kewajiban. Bukan hanya sekedar di peringatan tahunan. Namun hari Ibu harus teralisasi setiap saat.

Akan tetapi, sosok ibu yang begitu mulia saat ini tergerus oleh keadaan dan kondisi yang begitu miris. Masalah kesejahteraan masih saja menjadi polemik kaum Ibu. Tuntutan ekonomi mendorong kaum Ibu meninggalkan peran utama mereka. Ikut serta mencari nafkah agar terpenuhi kebutuhan keluarga.

Dari total populasi 112 juta jumlah pekerja di Indonesia, ada 43 juta pekerja perempuan yang membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Itu artinya, jumlah pekerja perempuan hampir sama besarnya dengan pekerja laki-laki.

Isu kemiskinan dan kesejahteraan menjadi isu krusial. Sebab, dari persoalan inilah kaum perempuan terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. ‘Dipaksa’ pula untuk berdaya secara ekonomi. Kemandirian ekonomi katanya. Tidak bergantung hanya pada suami.

Keterpaksaan ini bukannya diakhiri, tapi malah disokong dengan berbagai regulasi. Nama pahlawan devisa disematkan pada para TKI dan TKW yang mengadu nasib di perantauan. Mereka dianggap penolong perekonomian karena bisa menghasilkan uang sendiri dan imbasnya akan mendongkrak pendapatan perkapita negara. Program pemberdayaan ekonomi perempuan pun diluncurkan untuk mendorong kaum perempuan berdikari dalam ekonomi.

Pada bulan September 2015, dunia menyepakati program pembangunan, yakni “Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development” atau “Mengalihrupakan Dunia Kita: Agenda Tahun 2030. Ditetapkanlah Sustainable Development Goals atau SDGs, yang terdiri dari 17 gol, misi-misi ini diarahkan untuk menyelesaikan masalah dunia mulai dari kemiskinan dan kelaparan, penyediaan air bersih dan sanitasi, sampai pelestarian lingkungan. Salah satu yang harus dicapai adalah Goal ke-5 yaitu Gender Equity yaitu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

1 2 3Next page
Tags
Back to top button
Close
Close