#Infaq Dakwah CenterDAERAH

Innalillahi, Rumah Ustaz Wahyudin untuk Pengajian Roboh Diterjang Banjir

Cipatujah, Tasikmalaya – Sudah puluhan tahun Ustaz Wahyudin (46) menjadi guru ngaji di Kampung Jajaway Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dengan sepenuh pengabdian untuk melestarikan dakwah Islam, ia dibantu sang istri, Ustazah Ecih Sukmaesih dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di kampungnya.

Pasangan suami istri juru dakwah ini semangat berdakwah menjadi guru mengaji di pelosok desa itu, lantaran tak ada lagi tenaga dai yang mau membina anak-anak di kampungnya.

Dengan keterbatasan fasilitas, ustaz yang akrab disapa Uwa Uyu itu menyulap ruang tengah rumahnya yang sudah lapuk itu sebagai majelis taklim. Rumah berdinding bambu (gedek) itu menjadi segala-galanya bagi Ustaz Wahyudin, meski kondisi anyaman bambunya sudah lapuk penuh dengan lubang. Kayu tiang saka rumahnya pun sudah keropos dimakan rayap, lengkap dengan genting atap rumah pun bocor di mana-mana.

Di kampungnya, puluhan anak-anak usia SD hingga SMP menjadi santri pengajian di rumahnya. Materi yang diajarkan meliputi fikih ibadah, akidah, iqra’, tajwid, tahfizh, doa sehari-hari dan akhlak.

“Dari dini saja ngajar anak-anak, terus tambah lagi-tambah lagi. Ada yang sudah selesai ngaji, terus sekarang mereka sudah bekerja,” papar Ustaz Wahyudin kepada relawan IDC, Senin (14/11/2018).

Banyak suka dan duka yang dialami Ustadzah Ecih selama mendampingi sang suami, mengajar anak-anak. Dengan rendah hati, Ustadzah Ecih mengaku bukanlah orang berilmu tinggi, namun ia sadar bahwa sekelumit ilmu yang diketahui, itulah yang harus diajarkan kepada orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Bukhari, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.”

Berbekal dorongan kepercayaan masyarakat, Ustaz Wahyudin bersama istri berusaha istiqamah menjadi guru mengaji.

“Alhamdulillah dipercaya sama masyarakat. Padahal saya mah tidak punya ilmu apa-apa. Dengan adanya kepercayaan masyarakat mengajar diniyah anak-anak, kami senang,” tutur Ustadzah Ecih merendah.

Untuk menafkahi keluarganya, Ustaz Wahyudin bekerja sebagai petani dan penjual kelapa. Dari penghasilan profesi petani yang pas-pasan, ia tidak mengharapkan honor dakwah dan guru mengaji.

JEBOL DITERJANG BANJIR

Malangnya, rumah yang sekaligus markas majelis taklim Ustadz Wahyudin itu hancur dihantam banjir bandang Tasikmalaya pada Selasa, 6 November 2018 lalu.

Diguyur hujan deras berhari-hari, kawasan Cipatujah Tasikmalaya mengalami banjir bandang dan longsor. Peristiwa itu menelan lima orang korban meninggal, dua orang hilang, 173 rumah terendam banjir, dan 11 rumah rusak. Total lebih dari 700 keluarga menjadi korban terdampak banjir dan longsor di sejumlah desa di kecamatan Cipatujah, Bantarkalong, Karangnunggal dan Culamega.

Ustaz Wahyudin bercerita, banjir bandang itu terjadi pada pagi dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, saat warga tengah tertidur lelap. Tiba-tiba air sungai Cipatujah meluap hingga setinggi dada orang dewasa. Rumah Ustaz Wahyudin adalah korban pertama yang dihantam banjir bandang.

Beruntung, Ustaz Wahyudin bersama istri dan keempat anaknya berhasil menyelamatkan diri dan mengungsi ke madrasah. Namun rumah yang selama ini mereka tinggali untuk berdakwah dan membina keluarga sakinah, hancur luluhlantak diterjang pohon arba (sengon/albazia) yang hanyut terseret banjir.

“Rumah saya jebol diterjang sama pohon arba yang hanyut terbawa banjir. Bukan pohon dari sini, tapi pohon yang terbawa air dari jauh,” ungkapnya.

Hancurnya rumah Ustaz Wahyudin yang sekaligus markas pengajian, kini aktivitas belajar mengaji anak-anak pun terpaksa diliburkan.

Kedatangan relawan Infaq Dakwah Center (IDC) yang sedang menggelar aksi Tanggap Bencana pun disambut para santri pengajian dengan Suasana haru biru menyapa.

Intan Nuraini (11), santri pengajian, sangat bersedih atas insiden ini. Ia tak sanggup menahan air mata, melihat majelis taklim yang selama ini tempatnya mengaji bersama teman-teman sebayanya hancur. “Saya sedih tidak bisa ngaji lagi, majelisnya belum bisa ditempatin,” tutur Intan sambil menangis tersedu-sedu.

Julia, bocah imut usia lima tahun pun merasakan kesedihan serupa. Ia memohon agar rumah Ustaz Wahyudin segera dibangun. “Kakak-kakak IDC, tolong bangun rumah Uwa Uyu yang roboh,” tuturnya kepada relawan IDC.

Ihsan Maulana (12), juga menyampaikan keinginannya agar bisa mengaji kembali. Untuk itu, ia berharap rumah Ustadz Wahyudin yang selama ini dijadikan majelis taklim bisa dibangun kembali. “Tolong bantu kami untuk membuat majelis taklim lagi supaya kami bisa mengaji lagi dan kami bisa menuntut ilmu lagi,” tuturnya.

Betapa sedihnya anak-anak didik Ustaz Wahyudin, mereka memiliki semangat yang tinggi untuk bisa kembali mengaji. Selain berduka karena rumah mereka diterjang banjir, markas tempat mereka mengaji juga hancur.

GURU YANG GIGIH

Di mata warga kampung Jajaway, Ustadz Wahyudin adalah sosok guru ngaji yang tulus berdakwah, bersahaja, sabar, penuh tanggung jawab, memiliki jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap dakwah.

Menurut Haji I’ing, tokoh masyarakat Jajaway, Ustadz Wahyudin adalah guru agama yang memiliki jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi. Ketika mushalla tempat mengajar anak-anak sudah tak lagi memadai, ia merelakan rumahnya digunakan untuk majelis taklim.

“Kegiatan rutinnya waktu malam dia mendidik anak-anak kami di masjid, karena di masjid tidak cukup tempat sehingga anak-anak yang kecilnya dibawa ke rumah. Kemudian siang harinya, dia juga mengajar di madrasah, mendidik anak-anak kami juga,” ungkapnya.

Sementara itu, Bambang Wahyu, Kepala Dusun Jajaway, memuji kegigihan dakwah Ustaz Wahyudin di kampungnya. “Selain aktif sebagai DKM Al-Ikhlas, Uwa Uyu juga mengajar anak-anak Kampung Jajaway. Bahkan rumahnya dijadikan tempat mengaji anak-anak di kampung ini,” ujarnya.

Bambang menambahkan, ketika insiden banjir bandang, rumah Ustadz Wahyudin adalah korban yang pertama kali diterjang banjir. “Rumah beliau itu rumah paling pertama yang diterjang luapan air sungai Cipatujah. Rumah beliau ambruk pada saat datang air bah tersebut,” terangnya.

Karenanya, ia mendukung program IDC untuk membangun kembali rumah Ustadz Wahyudin yang ambruk pasca banjir.

“Saya sebagai kepala Dusun, sangat berharap sekali kepada para relawan IDC, untuk segera membangunkan rumah Bapak Wahyudin agar aktivitas keseharian beliau tidak terganggu dan anak-anak di sekitar sini bisa kembali mengaji,” pintanya.

Wawan Suwandi Ramitani, tokoh pemuda setempat juga mendukung program IDC yang berencana akan membangun kembali rumah Ustaz Wahyudin.

“Saya sangat bangga ketika ada rekan-rekan yang akan melakukan bedah rumah dan kami siap membantu, tenaga, pikiran, agar ini terealisasi secepatnya. Kita siap berapa orang yang dibutuhkan, mau sebanyak-banyaknya pun boleh. Yang penting, apalagi ini rumah pak ustadz yang selama ini banyak berjasa ke warga di sini, kita sangat mendukung dan ingin agar secepatnya terbangun,” tegasnya.

Untuk membangun kembali rumah Ustaz Wahyudin dengan bangunan tembok permanen, menurut penghitungan tukang bangunan setempat, diperlukan dana sekitar Rp60 juta rupiah.

Donasi program Bedah Rumah Ustaz Korban Banjir bisa disalurkan ke rekening IDC:
Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:
Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 8.000 (delapan ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.008.000,- Rp 508.000,- Rp 208.000,- Rp 108.000,- 58.000,- dan seterusnya.
Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqDakwahCenter.com.
INFO: 08122.700020.

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close