SURAT PEMBACA

Islam Bukan Bahan Lelucon!

Tertawa adalah hal yang paling menyenangkan dan bisa menghilangkan stres dan depresi setiap orang. Bahkan tertawa bisa mengubah kondisi kesehatan seseorang yang sakit menjadi sehat karena menurut penelitian tertawa bisa memperlancar aliran darah. Tapi bagaimana jika tertawa ini membawa suatu kemudharatan?

Belum lama ini tersiar kabar pelecehan agama oleh beberapa komika stand up komedi Indonesia, sebut saja “TM” dan “CP”. Mereka tergabung dalam komunitas “Majelis Lucu Indonesia” yang berisi konten konten komedi para stand up komedi di Indonesia. Banyak beberapa komika yang ikut bergabung dan berkontribusi di dalam komunitas tersebut. Tapi jika dilihat dari segi konten yang dibahas banyak menyinggung tentang agama dan politik. Bahkan pelecehan yang dilakukan mereka sudah berkali-kali sejak kasus penistaan agama oleh mantan gubernur Jakarta tahun 2016. Sejak saat itu banyak sekali komika yang terjerat dalam kasus penistaan dan pelechan agama tak jarang pula menghina ulama.

Jika dilihat dari Instagram MLI bertuliskan “Kapitalis Bersahaja”, biodatanya saja mendefinisikan komunitas ini sudah dapat ditebak bahwa mereka memegang erat kapitalis, sebagaimana yang kita tahu kapitalis adalah sistem yang sangat mengutamakan pemilik modal dan menghalalkan segala cara. Wajar jika konten yang di keluarkan oleh mereka seperti menjauhkan agama dari kehidupan karena memang sistem itu yang mereka dalami. Mengulik sejarah stand up komedi ini berasal dari Amerika Serikat yang kita tahu bahwa negara ini menganut sistem kapitalis, menganggap agama sebagai sesuatu yang lemah dan membosankan. Wajar saja jika mereka memandang rendah agama dan menjadikannya sebagai bahan lelucon.

Malu rasanya jika mereka yang melecehkan hukum-hukum dan syariat Islam adalah seorang muslim itu sendiri. Entah dimana hati nurani dan jiwa keislaman mereka, menghancurkan dan menjadikan agama yang dianutnya sebagai bahan olokan seperti tak ada hal lain yang patut untuk dibahas. Entah katena ketenaran atau tuntutan dari pihak-pihak lain hinggan tega melecehkan sendiri. Bahkan mereka pun dengan santai untuk melaporkan mereka ke polisi, seperti tak ada rasa takut lagi dalam dirinya bahkan kepada Tuhannya sendiri.

Tertawa bukanlah suatu kesalahan tapi tertawa yang berlebihan menjadi suatu bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Islam tidak pernah melarang tertawa, bahkan Rasulullah Saw pun menyelipkan candaan dalam dakwahnya. Cara ini ditiru oleh para ulama agar dakwah dan pesan yang disampaikan tidak membosankan bagi para pendengar seperti Ustaz Abdul Somad, Ustaz Haikal Hassan, Ustaz Felix Siauw dan masih banyak lagi.

Tetapi dalam candaan beliau-beliau mengandung sebuah arti, tertawanya para pendengar membuat paham Islam. Candaan yang disampaikan mengandung isi bukan kebohongan apalagi mempermainkan hukam dan syari’at Allah. Candaan yang berlebihan banyak menimbulkan kemudharatan, seperti dalam Surat Al-Maidah ayat 77, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Sudah begitu jelas Allah peringatkan kita dalam firman-Nya, lalu apalagi yang harus ditunggu. Apakah harus menunggu teguran dari Allah Swt baru mereka bertaubat? Tak cukupkah negeri ini sudah ditimpa musibah untuk memperingati kita. Islam adalah agama yang damai dan indah, jika itu sebuah larangan bukan tanpa sebab Allah SWT menurunkan-Nya. Tertawa boleh tapi tertawalah dengan arti yang baik bukan menjelek-jelekan suatu kaum, komunitas agama apalagi menantang Allah Swt. Seperti tak ada lagi keterbatasan dalam dirinya, hanya kesenangan yang ingin diraihnya. Sia-sia begitu banyak waktu dan uang yang dikeluarkan hanya untuk mengolok agamamu sendiri.

Semoga Allah memberikan mereka hidayah agar tersadar dari apa yang diperbuat. Semoga saja Indonesia bisa bersih dari orang-orang yang menghina Islam, Islam itu baik, damai dan indah. Kita berharap tidak akan ada lagi penistaan-penistaan agama semacam ini atau mengulang kembali yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta tahun 2016, supaya Islam tidak terus dijadikan bahan candaan. Tak ada kekurangan dari dalam Islam, jika mencari kekurangan di dalamnya, maka manusialah yang salah bukan Islam. Karena Islam adalah agama yang sempurna tanpa perlu olokan. Islam akan tetap kokoh sebagaimana mereka mengolok, tapi kalian akan jatuh jika mengoloknya. Wallahu a’lam bisshawwab.

Rifka Fauziah Arman, A. Md. Farm
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Generasi Peradaban Muslimah)

Close