#Duka LombokTELADAN

Isyarat Cinta di Balik Gempa

Indonesia kembali dirundung duka.Gempa berkekuatan 7 skala Richter mengguncang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Ahad (5/8/2018) malam. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kasbani di gedung PVMBG, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/8/2018), mengatakan gempa pada Ahad (5/8/2018) malam berada pada zona sama dengan gempa pada Ahad (29/7/2018) lalu.

Gempa yang mengguncang Lombok disebabkan sesar atau patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores (Flores Back Arc). Gempa yang berpusat di koordinat 116,48 derajat Bujur Timur dan 8,37 derajat Lintang Selatan dengan magnitudo 7,0 dan di kedalaman 15 km itu menimbulkan tsunami kecil dengan ketinggian maksimum 0,13 meter di Desa Carik dan 0,1 meter di Desa Badas, Lombok, NTB (detik.com, 6/8/2018).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, korban meninggal dunia bertambah menjadi 105 orang per Selasa (7/8/2018).

Sedangkan data korban luka-luka masih berada di angka 236 orang. Jumlah korban tersebut masih bersifat sementara. Diprediksi jumlah korban akibat bencana tersebut masih akan bertambah. Sementara ribuan orang masih berada di tempat pengungsian (kompas.com, 7/8/2018).

Duka tak hanya dirasakan oleh warga NTB saja. Nusantara pun ikut berduka. Mengingat kita disatukan oleh indahnya ukhuwah. Gempa menjadi musibah yang tak disangka datangnya. Manusia hanya dapat memprediksi tapi tak dapat menghindar dari ketetapan Allah Ta’ala.

Sungguh gempa menjadi tanda kekuasaan Al-Khaliq yang digunakan untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Tak lain dan tak bukan sebagai pengingat hamba terhadap kewajiban berhukum hanya dengan hukum Allah Ta’ala saja.

“Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti” (TQS. al Israa` [17]: 59).

Karena tak dapat dipungkiri. Jauhnya hamba dari aturan Ilahi jadi sebab datangnya berbagai bahaya dan penderitaan. Apatah lagi ketika hukum-hukum Allah Ta’ala dicampakkan. Syirik dan maksiat yang mewabah telah mengundang bencana.

“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri”. (TQS. An- Nisaa` [4]: 79)

Marak syirik dan maksiat di tengah umat. Tak terlepas dari peran penguasa yang enggan berhukum dengan syariat. Sebaliknya bermesraan dengan hukum buatan manusia. Sungguh telah tampak menghalalkan negeri dari azab yang hebat. Sedihnya, rakyat yang taat pun ikut menjadi korban.

Sungguh ketika bumi digoncangkan sebagai teguran. Itu adalah isyarat cinta Sang Khaliq pada hamba yang lemah. Agar hamba terselamatkan dari keburukan. Dengan kembali taat pada syariat.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Rum [30]: 41)

Maka wahai penguasa, segeralah bertaubat. Tuk bersegera menerapkan hukum Allah Ta’ala di tengah umat. Agar mengundang banyak maslahat. Serta perintahlah manusia tuk mengemban dakwah di seluruh penjuru dunia. Agar mengundang rahmat bagi seluruh alam.

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (TQS. Al- A’raaf [7] : 96).

#PrayForLombok

Ummu Naflah
Member Akademi Menulis Kreatif

ARTIKEL TERKAIT

Close