TELADAN

Jangan Letih Berjuang

Memang surga itu serba semuanya indah penuh kenikmatan belum ada yang bisa sebanding dengannya, namun ternyata keindahan dan kenikmatannya perlu perjuangan yang luar biasa sulitnya, bukan hanya sekedar tetesan keringat dan airmata namun tetesan darah menjadi tebusannya.

Karena itu Iblis bersama balatentaranya dari jenis setan dari golongan jin dan manusia berusaha mati matian agar semua manusia seluruhnya masuk neraka dan jangan ada yang masuk surga. Sebagaimana janjinya, Allah Ta’ala, berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“(Iblis) menjawab, Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Sad 38: Ayat 82)

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (QS. Sad 38: Ayat 83)

Hamba hamba yang terpilih adalah hamba yang selalu ikhlas dalam setiap amal ibadahnya, tidak pernah memilih milih mana syariat yang disukai atau yang dibenci, semua mereka jalankan demi mengharap wajah Allah Ta’ala.

Maka jangan heran ketika dijalan dakwah banyak yang berguguran karena lelah putus asa gak dapat dunia, mereka ingin mengharap ke duanya, dunia dapat surga dapat…mana bisa?

Coba kita tengok perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat termasuk salafusholih, mana pernah kita jumpai kenikmatan dunia di jalan dakwahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Paling Tinggi derajatnya karena beliau adalah yang paling berat ujiannya dan yang paling sabar.

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” [HR. At-Tirmidzi no.2398]

Dan memang demikianlah segala ujian dalam tantangan dakwah demi meraih kenikmatan surga, pasti melelahkan, kepayahan, dan membosankan.

Ujian demi ujian pun terus akan selalu ada dan menghadang, termasuk ujian terbesar dari orang terdekat yaitu istri, tidak sedikit istri yang tidak sholihah justru menjadi garda terdepan menghalangi dakwah, karena apa? karena seorang wanita tidak pernah bisa bersabar dalam menghadapi ujian dunia.

Sebagaimana Rasulullah pun diuji dengan istri istri beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi sebulan agar para istri tersebut bisa berpikir jernih tentang apa akibat yang mereka perbuat. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

يٰٓأَيُّهَا النَّبِىُّ قُل لِّأَزْوٰجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

“Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 28)

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَالدَّارَ الْأَاخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنٰتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 29)

Ayat diatas adalah salah satu dari sekian banyak gambaran ujian didalam dakwah, oleh karena itu jangan pernah lelah bosan apalagi putus asa dalam berdakwah, karena dakwah pekerjaan mulia sebagaimana para Nabi dan Rasul diutus kecuali untuk berdakwah, barang siapa yang mengikuti jejaknya tentu Allah Ta’ala janjikan kepada mereka dengan janji surga, maka jangan pernah berhenti diatas jalan dakwah, kecuali surga telah terpijak.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

ARTIKEL TERKAIT

Close