OPINI

Janji dan Inkonsistensi Mengepung Jokowi

Apa yang terjadi sepanjang satu periode kepemimpinan Jokowi, kita hanya bisa meratapi keadaan politik dan hukum yang terjadi di negara kita.

Kita patut sedih melihat kondisi perpolitikan Indonesia yang terpecah. Sedih melihat ekonomi yang terpuruk. sedih melihat hukum yang dipermainkan, sedih melihat janji-janji yang tak ditepati.

Tapi kirannya keluhan ini harus kita ganti dengan berbicara. Kita membicarakan tentang keadaan bangsa kita, kita membicarakan pemimpin bangsa yang lemah, keadaan masa depan bangsa suram.

Kita harus membicarakan ini. Membicarakan pula tentang Jokowi yang menciptakan dalam dirinya semacam situasi untuk tidak senang dengan identitas yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Penyamaran yang dibuat, telah terlalu banyak ‘topeng’nya, semua terbuka satu persatu dalam kondisi yang memprihatinkan.

Jokowi tidak memiliki otentisitas sebagai alat ukur seberapa jauh aksi Jokowi bersifat kongruen dengan kepercayaan dan keinginan pribadinya, meskipun didera tekanan dari luar.

Pun kalau kita disuruh untuk menilai sejauh mana jokowi mampu memegang katanya sendiri, maka kita pun menjadi lebih bingung lagi. Karena “perkataan kemarin sering dibantah oleh pernyataannya hari ini.”

Dari situ, dapat dilihat, bahwa inkosistensi ini telah menjadi satu agenda untuk mencari jalan melerai benang kusut yang dibuat. Untuk menutupi kekusutan itu, pernyataan “marah-marah” sebagai cara lain untuk memperlihatkan ketegasan menjadi salah satu jalan.

1 2 3 4 5Laman berikutnya
Tags

ARTIKEL TERKAIT

Back to top button
Close
Close