PERSOALAN UMAT

Jenis-jenis Walimah dan Hukum Menghadirinya

Walimah berarti penyajian makanan untuk acara pesta. Ada juga yang mengatakan, walimah berarti segala macam makanan yang dihidangkan untuk acara pesta atau lainnya.

Hukum Walimah
Walimah merupakan amalan yang sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits riwayat dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw pernah berkata kepada Abdurrahman bin Auf: “Adakan walimah, meski hanya dengan satu kambing.” (Muttafaqun Alaih)

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa Rasululah Saw pernah melihat bekas kuning pada Abdurrahman bin Auf, maka beliau bertanya, “Apa ini?”. “Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang wanita dengan (mas kawin) seberat biji emas,” jawab Abdurrahman. Lalu beliau mengucapkan, “Mudah-mudahan Allah memberkati kalian. Adakanlah walimah, meski hanya dengan seekor kambing.” (HR. At Tirmidzi). Imam At Tirmidzi mengatakan, “Ini merupakan hadits hasan shahih.”.

Jumhur ulama berpendapat, bahwa walimah merupakan suatu hal yang sunnah dan bukan wajib.

Menghadiri Undangan Walimah
Menghadiri undangan walimah merupakan suatu yang diperintahkan Rasulullah Saw, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits di bawah ini:

a. Dari Ibnu Umar, dia menceritakan Rasulullah Saw bersabda: “Hadirilah undangan, jika kalian diundang.” (HR. Al Bukhari, Muslim, dan AT Tirmidzi). Imam At Tirmidzi mengatakan, Ini merupakan hadits hasan shahih.”

b. Dari Abu Musa, dari Nabi Saw, dimana beliau bersabda: “Bebaskanlah orang yang dalam kesulitan, datangilah orang yang mengundang (dalam walimah) dan jenguklah orang yang sedang sakit.” (HR. Al Bukhari)

c. Dari Al Barra’ bin Azib, dia menceritakan: “Rasulullah aw telah memerintahkan kami dengan tujuh hal. Yaitu, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, membebaskan sumpah, menolong orang yang dizalimi, menyebarkan salam, dan menghadiri undangan. Beliau juga melarang kami mengenakan cincin emas, bejana perak, uang palsu, sutra halus, dan sutra kasar.” (HR. Al Bukhari).

Imam An Nawawi mengatakan bahwa walimah itu ada delapan, yaitu:

  1. Walimah khitan.
  2. Walimah aqiqah.
  3. Walimah khurs, yaitu walimah dalam rangka mensyukuri keselamatan seorang istri dari talak.
  4. Walimah naqi’ah, yaitu walimah yang diadakan untuk menyambut kedatangan musafir (orang yang dating dari bepergian).
  5. Walimah wakirah, yaitu walimah yang diadakan dalam rangka renovasi rumah.
  6. Walimah wadhimah, yaitu walimah yang diadakan ketika mendapatkan musibah.
  7. Walimah ma’dubah, suatu walimah yang diadakan tanpa adanya sebab tertentu
  8. Walimah I’dzar

Mengenai walimah Naqi’ah terdapat perbedaan pendapat, yaitu apakah yang membuat makanan itu si musafir ataukah orang yang menyambutnya. Dalam hal ini ada pendapat yang mengatakan, bahwa Naqi’ah adalah makanan yang disajikan oleh orang yang baru datang dari bepergian. Sedangkan makanan yang dibuat oleh orang yang menyambut kedatangannya disebut Tuhfah. Ibnu Hajar mengatakan, “Orang-orang lupa menyebutkan satu walimah lagi yaitu Hidzaq, adalah walimah yang diadakan ketika melihat adanya keberhasilan yang diperoleh seorang anak.”

“Hidzaq adalah walimah yang diadakan ketika khatam Al Qur’an, termasuk khatam beberapa surat yang dimaksudkan.” Demikian yang dikatakan Ibnu Rif’ah.

d. Dari Jabir, dia menceritakan Rasulullah Saw bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian diundang makan, maka hendaklah dia mendatanginya. Jika menghendaki dia boleh makan,dan jka menghendaki dia boleh tidak memakannya. (HR. Muslim)

e. Dari Abu Hurairah, dia bercerita: “Jika salah seorang diantara kalian diundang, maka hendaklah dia mendatanginya, jika dia dalam keadaan puasa maka hendaklah da mendoakannya, dan jika tidak maka hendaklah dia makan.” (HR. Muslim)

Dinukil Ibnu Abdil Barr, Al-Qadhi Iyadh, dan An Nawawi: “Adanya kesepakatan untuk mewajibkan menghadiri walimatul ‘urs. “Dalam kitab Al Fath disebutkan: “Mengenai hal itu terdapat beberapa pandangan, tetapi pendapat yang popular dari para ulama adalah mewajibkannya.”

Sedangkan Jumhur ulama penganut Imam Asy-Syafi’i dan Imam Hanbali seacra jelas menyatakan bahwa menghadiri undangan ke Walimatul ‘Urs adalah fardhu ‘ain. “Adapun sebagian dari penganut keduanya ini berpendapat bahwa menghadiri undangan tersebut adalah sunnah.”

Dari kitab Al Bahr dikisahkan dari Imam Asy Syafi’i, sebagaimana pada acara lainnya, menghadiri undangan walimatul ‘urs merupakan hal yang disunnahkan. Sedangkan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas menunjukkan adanya hukum wajib menghadiri undangan. Apalagi setelah adanya pernyataan secara jelas, bahwa orang yang tidak mau menghadiri undangan telah berbuat maksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Tidak Boleh Menghadiri Acara yang Mengandung Unsur Maksiat
Dari Ali bin Abi Thalib, dia menceritakan: Aku pernah membuat makanan, lalu aku mengundang Rasulullah Saw, beliau pun dating dan melihat beberapa gambar di dalam rumah, maka beliau kembali pulang.” (HR. Ibnu Majah).

Tags
Back to top button
Close
Close