SIRAH NABAWIYAH

Kepemimpinan yang Dikhawatirkan Rasulullah Saw

Suasana perpolitikan di Indonesia beberapa bulan terakhir terasa dinamis dan akan semakin dinamis bahkan panas beberapa bulan kedepan. Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya pilpres pada bulan April 2019 mendatang.

Saat ini pemilu menjadi satu-satunya ajang rakyat memilih pemimpin terbaik. Tapi faktanya dari beberapa kali pemilu pemimpin yang terpilih tidak selalu yang terbaik. Bahkan seringkali lebih buruk dari yang sebelumnya.

Mengapa demikian? Sebab kapasitas dan kualitas calon pemimpin tidak diukur berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi oleh konstitusi dan perundang-undangan yang sama sekali tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Misal, tidak ada satupun pasal atau ayat dalam konstitusi, misal, yang menyatakan bahwa Pemimpin (Capres dan Cawapres) wajib bisa membaca Al-Qur’an. Dalam Islam Imam/Pemimpin di bai’at tidak lain untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam.

Rasulullah mengkhawatirkan enam perkara yang terjadi atas umat ini salah satunya adalah Imarah as-Sufaha (Kepemimpina orang-orang dungu/bodoh). Sebagaimana sabdanya: “Aku mengkhwatirkan atas diri kalian enam perkara (Salah satunya, red.): kepemimpinan orang-orang bodoh/dungu…” (HR Ahmad dan ath-Thabarani)

Imarah as-Sufaha disebutkan di urutan paling pertama, boleh jadi hal inilah yang paling Rasulullah khawatirkan terjadi kepada umat saat ini.

Dalam hadits lain Rasulullah menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud dengan Imarah Sufaha. Beliau bersabda: “Semoga Allah melindungi kamu dari Imarah as-sufaha.” Kaab bertanya, “Apa itu Imarah as-sufaha ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah para pemimpin sesudahku yang didak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku…” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Lalu bagaimana cara menyikapi Imarah as-Sufaha itu? Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya dalam hadits di atas: “Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka maka dia bukan golonganku, aku bukan pun bagian dari golongannya dan dia tidak masuk ke dalam telagaku (di surga). Sebaliknya siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka maka dia termasuk golonganku aku pun termasuk golongannya dan dia akan masuk ke telagaku (di surga)…” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Rasulullah juga menjelaskan dalam hadits lain tentang kekhawatirannya atas umat ini.

1 2Laman berikutnya
Tags
Close
Close