AKHLAK

Makin Berilmu, Makin Berakhlak

Akhlak yang terpuji adalah tanda keilmuan seseorang, semakin pandai dan tinggi menguasai ilmu agama, maka pastilah semakin baik akhlaknya.

Ada niat yang berbeda ketika seseorang mengaku tinggi ilmu agamanya namun buruk perangainya, buruk tingkah lakunya, bahkan suka bermaksiat, penebar fitnah dan jadi penipu. Tampilan menjadi kedok seseorang untuk menutupi kelemahannya, bahkan ada juga yang mencari keuntungan duniawi dengan penampilan layaknya seorang guru agama.

Akhlak terpuji menjadi ukuran apakah seseorang menguasai ilmu agama atau sebagai pendusta, lihatlah contoh bagaimana salafusholih telah mengamalkan keutamaan mempelajari ilmu agama.
Seseorang mencela Yahya bin Ma’in. Maka beliau pun tidak membalas celaan orang tersebut. Maka berkata seseorang kepadanya, mengapa engkau tidak membalas ucapannya?
Yahya bin Ma’in pun menjawab ” kalau saya membalasnya jadi untuk apa saya belajar Ilmu Agama “.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Di antara tanda kebaikan ke-Islaman seseorang, jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Bahkan tidak sedikit diantara kita akibat salah kata menjadi besar urusannya, caci maki berlanjut ke ranah hukum pidana, satu dengan yang lain tidak terima akibat salah ucap dan salah berkata.

Terjadinya saling bunuh juga berawal dari percekcokan antara mulut, hawa nafsu setan menguasai diri mereka sehingga agamapun ditinggalkan demi memuaskan nafsu, sungguh hanya penyesalan yang terjadi sesudahnya.

Ilmu Agama yang kita tuntut hanya sebagai wawasan saja, inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]

Lihatlah bagaimana Abdurrahman bin Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdurrahman, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.

Imam malik dan para ulama yang baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rasul, dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang lain.

Meletakkan akhlak di atas ilmu menjadi tanggungjawab kita semua, sebagai anak pada orangtua, sebagai santri, siswa, maupun mahasiswa pada guru-gurunya, sebagai orang yang lebih muda pada yang tua atau sebaliknya.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Tags

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

Close
Back to top button
Close
Close