SAKINAH

Malapetaka Rumah Tangga Berawal dari Chat Mesra

“_Karena selingkuh tak dimulai dari tempat tidur, tapi dimulai saat kamu menghapus pesannya_.”

Begitu salah satu pernyataan yang saya kutip dari salah satu forum wanita di dunia maya. Pernyataan yang mau tidak mau membuat kita mengurut dada. Betapa tidak, Pengadilan Agama Kota Karawang dan Bengkulu Selatan merilis fakta mencengangkan, jika kasus perceraian yang terjadi selama beberapa tahun terakhir banyak diakibatkan oleh penyalahggunaan media sosial. Padahal sebelumnya, perceraian marak terjadi karena dipicu masalah ekonomi. Setahun sebelumnya, Pengadilan Agama Kota Depok dan Kota Bekasi menegaskan bahwa media sosial menjadi penyebab mayoritas terjadinya perpisahan suami istri yang diakhiri dengan ketok palu di persidangan. Akibatnya, semakin banyak penampakan orang tua tunggal di masyarakat.

Kemolekan dunia maya rupanya tak diimbangi dengan penyikapan yang benar dari penggunanya. Jika pada awalnya media sosial lahir sebagai bentuk komunikasi baru untuk menjalin sila ukhuwah, beramah tamah, bertegur sapa, menyampaikan pesan, bertukar informasi dan mendapatkan teman baru. Kini banyak disalahgunakan para pasangan yang berumah tangga untuk tidak lagi seiya sekata dalam biduk pernikahan. Berawal dari pertemanan di media sosial, katakanlah lewat Facebook, Instagram atau WhatsApp. Kemudian bergeser menjadi komunikasi yang lebih intens, menjurus pada chat mesra dan ujung-ujungnya membuat pasangan halalnya menjadi berang dan melahirkan nestapa bernama perceraian.

Liberalisme dan hedonisme yang semakin masif beranak pinak di tengah masyarakat, rupanya telah mewarnai dominasi interaksi di media sosial. Sekat kesopanan dan batasan norma agama seringkali diabaikan. Dimulai dengan mengunggah foto dengan angle yang paling cantik atau pose yang paling ganteng, update status yang tak penting demi eksistensi, curhat masalah pasangan dan rumah tangga, sampai dengan gamblang menuangkan kehidupan pribadi dalam situs pertemanannya. Ibarat tanah yang terus disiram, tumbuhlah suasana kondusif bagi kecemburuan dan perselingkuhan. Sampai di sini kita paham kenapa media sosial memicu tingginya angka perceraian.

Dalam dunia nyata, kita mengenal adab berinteraksi. Menjaga Iisan, menjaga pandangan dan menjaga perilaku, terutama kepada lawan jenis. Begitupun dalam dunia maya. Berkomunikasi di media sosial tetap saja ada aturan yang tak bisa disepelekan. Terlebih lagi jika sudah menikah, maka ada perasaan dari pasangan yang harus dijaga. Sekalipun karakater dari media sosial itu bersifat terbuka, tetap saja ada rambu-rambu yang berlaku di ranah maya, sebagaimana yang berlaku di ranah nyata.

Islam sudah sejak 14 abad yang lalu mengatur adab interaksi antara lawan jenis dengan aturan sempurna tanpa cela. Sekalipun di masa Rasulullah Saw, media sosial seperti sekarang belum ada. Namun aturan yang lahir dari akidah Islam mampu menjawab realitas kekinian. Dalam hal interaksi antara lawan jenis, ada batasannya.Tidak boleh bagi laki-laki dan perempuan bercampur baur ( ikhtilat) tanpa ada kepentingan yang dibenarkan oleh syariat. Sekalipun harus bertemu, Islam memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kehormatan, menjaga lisan dengan suara yang tidak boleh mendayu-dayu dan menutup aurat mereka. Islam juga secara tegas melarang laki-laki dan perempuan untuk berdua-duaan (khalwat). Secara otomatis Islam telah menutup celah bagi mereka untuk tertawa cekikikan bersama, menggoda dengan suara manja dan hal-hal lain yang melewati batas agama. Inilah aturan Islam yang berlaku di dunia nyata, dan juga berlaku dalam interaksi di dunia maya.

Namun sayang, aturan Islam yang sedemikian rupa mampu mencegah terjadinya perselingkuhan dan perceraian, akan sulit untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Mengapa? karena nilai-nilai liberalisme sudah menjangkiti masyarakat secara akut, selama kebebasan berperilaku menjadi nilai yang masih didewakan, selama itu pula tak akan pernah tuntas problematika ini. Tidak ada solusi lain lagi. Negara harus turun tangan menciptakan suasana ketakwaan di tengah masyarakat. Mengedukasi masyarakat dengan pemahaman Islam secara menyeluruh, termasuk adab interaksi di dalamnya. Tidak hanya lewat jalur formal seperti jalur pendidikan, namun juga mensosialisasikannya lewat jalur non formal seperti media massa secara intensif. Negara juga harus menerapkan sanksi yang tegas bagi pelaku perzinaan. Sehingga jika ada oknum yang terbersit niat untuk selingkuh, mereka harus berpikir ribuan kali. Bukan saja karena ada Tuhan yang Maha Mengawasi tindak-tanduk manusia, tetapi juga ada negara yang siap dengan hukuman cambuk dan rajam bagi yang melanggarnya. Kalau sudah begini, masihkah ada yang berani untuk selingkuh?

Nurina Purnama Sari S.ST
Ibu Rumah Tangga, aktivis Posyandu, tinggal di Sawangan Depok

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker