OPINI

Media Digital Sekular: Mesin Perusak Generasi

Ironis dan miris. Dua kata yang tepat menanggapi berita grup percakapan Whatsapp bernama “All Stars”. Dilansir dari pikiran-rakyat.com, 3/10/2018, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, Whatsapp (WA). Grup tersebut berisikan para siswa di satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan.

Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling berbagi video porno. Ditemukan 42 video porno di grup WA tersebut. Para anggota juga terlihat percakapan tidak senonoh. Bahkan menjurus pada ajakan untuk berhubungan badan.

Paralel dengan kasus grup WA “All Stars”. Berita tak kalah miris pun datang dari Garut. Masyarakat Garut dihebohkan dengan temuan keberadaan komunitas gay siswa SMP/SMA di Garut yang eksis dunia maya. Komunitas gay tersebut terang-terangan menyebarkan keberadaannya melalui media sosial Facebook. Berdasarkan penelusuran dari akun Facebook komunitas itu, jumlah anggota yang ada sudah lebih dari 2.500 orang (One Minute @tvOneNews, 9/10/2018).

Dua kasus tersebut tentu membuat masyarakat mengelus dada. Menambah PR besar bagi orang tua. Ancaman rusaknya generasi tak disangka datang dari benda digital yang selalu berada dalam genggaman kita.

Media Digital vs Rusak Generasi

Paradigma mendasar sekularisme tentang pemisahan agama dari kehidupan, telah berhasil menjebak generasi masa kini dalam jeratan liberalisme. Ide kebebasan menjadi senjata bagi remaja bertindak bebas bahkan kebablasan. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga merambah ke dunia maya. Hari ini, bukan hanya pergaulan bebas lawan jenis yang kian miris. Pergaulan sesama jenis pun tak kalah eksis.

Generasi milenial tak dapat dilepaskan dari teknologi, khususnya media digital. Sebab perkembangan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Dan hari ini internet tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak muda zaman sekarang. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) remaja usia 13 hingga 18 tahun menempati posisi ketiga dengan porsi 16,68 persen. Sementara sebanyak 49,52 persen pengguna internet di Tanah Air adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun(kompas.com, 22/2/2018).

Teknologi merupakan produk madaniyah yang bebas nilai. Namun perlu digarisbawahi, media digital sebagai produk teknologi, baik media massa maupun media sosial merupakan madaniyah yang syarat dengan hadharah asing.

Media dalam sistem sekularisme kapitalisme merupakan alat yang paling strategis untuk melakukan penyebaran nilai-nilai dan gaya hidup bebas ala Barat. Maka tak heran jika hari ini media digital menjadi mesin perusak paling ampuh untuk merusak bahkan menghancurkan generasi.

Di sisi lain, sistem sekularisme tidak mampu menyelesaikan masalah pergaulan bebas secara tuntas. Fakta Indonesia saat ini, menurut Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), dr Bernie Endyarni Medise SpA(K) dalam seminar media Pekan Kesehatan Remaja di Kantor IDAI, Jakarta, Jumat (16/3), mengatakan di Indonesia diperkirakan sekitar 150 ribu remaja dengan HIV (mediaindonesia.com, 16/3/2018).

Fenomena seks bebas yang semakin dipandang wajar membuat penularan HIV AIDS menjadi semakin tidak terkendali di kalangan remaja. Tak sedikit remaja yang berhubungan seks diluar nikah, serta kerap berganti-ganti pasangan. Ditambah kampanye safety sex dengan kondom menjadi pemicu semakin suburnya perkembangan HIV AIDS di Indonesia.

Perilaku seksual antara lelaki sesama lelaki bahkan lebih rentan terpapar virus HIV, karena aktivitas seks yang melibatkan anus membuat sel epitel anus menjadi sangat tipis dan mudah luka. Akibatnya virus HIV AIDS dengan cepat menular melalui darah. Perilaku biseksual, yakni seks baik dengan lelaki maupun perempuan menyebabkan potensi tertular HIV AIDS menjadi dua kali lipat lebih besar. Contoh kasus AIDS di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), data terakhir yang diperoleh, estimasinya total mencapai 2.487 orang. Yang mengerikan, dari angka itu ternyata 1.597 pasiennya berasal dari pasangan LGBT (okezone.com, 22/1/2018).

Jelas solusi sistem sekuler tidak akan mampu menyelesaikan masalah pergaulan bebas secara tuntas. Bahkan menyimpan bom waktu masalah yang siap meledak untuk menghancurkan peradaban manusia. Nilai-nilai dan gaya hidup bebas ala Barat kian mentajasad dalam diri generasi melalui mesin perusak bernama media digital buah sistem sekularisme.

Sistem Pergaulan dalam Islam

Remaja adalah aset masa depan sebuah bangsa dan negara. Generasi emas, calon pemimpin masa depan. Di pundaknya pilar peradaban disandarkan. Maka menjadi PR besar bagi suatu bangsa melahirkan generasi yang gemilang.

Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 oleh Bappenas, pada tahun 2017 jumlah penduduk remaja (usia 10-24 tahun) di Indonesia mencapai 66,6 juta jiwa atau sekitar 25,44 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia. Artinya, saat ini 1 di antara setiap 4 orang Indonesia adalah remaja. Generasi tersebut pada tahun 2045 akan berusia antara 35-54 tahun yang merupakan kalangan produktif bagi pembangunan bangsa (bkkbn.go.id, 4/12/2017). Aset luar biasa yang membutuhkan upaya serius untuk mencetaknya menjadi generasi mumpuni.

Islam memiliki aturan yang khas dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Aturan ini lahir dari aqidah Islam yang paripurna. Di mana Islam memandang naluri mempertahankan keturunan/hasrat seksual (gahrizah na’u) adalah hal yang fitrah dalam diri manusia.

An-Nabhani dalam kitabnya, Sistem Pergaulan Islam, 2007, menerangkan beberapa hukum syariah untuk mengatur interaksi pria dan wanita. Hukum-hukum ini dipilih berdasarkan prinsip bahwa meski pria dan wanita dibolehkan beriteraksi untuk tolong-menolong, interaksi itu wajib diatur sedemikian rupa agar tidak membangkitkan hasrat seksual, yakni tetap menjaga kehormatan ( al-fadhîlah ) dan moralitas (akhlâq).

Di antara hukum-hukum itu adalah: (1)perintah menundukkan pandangan/ghadhdh al-bashar(QS an-Nur [24]: 30-31);(2)perintah kepada wanita mengenakan jilbal(QS al-Ahzab [33]: 59)dan kerudung/khimar (QS an-Nur [24]: 31); (3) larangan ber-khalwat antara pria dan wanita, kecuali wanita itu disertai dengan mahram-nya; (4) larangan atas wanita untuk keluar rumah, kecuali dengan seizin suaminya; (5) perintah pemisahan (infishâl) antara pria dan wanita;(7) interaksi pria wanita hendaknya merupakan interaksi umum, bukan interaksi khusus. Hukum-hukum tersebut juga berlaku dalam interaksi di dunia maya.

Kiat Islam Mengatur Media Digital

Islam memandang media massa baik media digital maupun media analog, memiliki fungsi strategis bagi negara dan kepentingan dakwah Islam, yaitu melayani ideologi Islam. Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islami yang kokoh. Sedang di luar negeri, media massa berfungsi untuk menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang maupun damai untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam dan sekaligus untuk membongkar kebobrokan ideologi kufur buatan manusia (Ghazzal, RUU Media Massa dalam Negara Khilafah, 2003).

Media massa akan menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat, dengan tidak melarang unsur hiburan ( entertainment ) yang sehat dan syar’i. Termasuk media digital akan mengambil peran dalam menjaga dan melindungi generasi dari pengaruh sistem rusak nan sesat. Sebab negera berperan aktif dalam mengontrol dan melindungi kontens media digital dari nilai-nilai dan gaya hidup bebas ala Barat.

Tak seperti sekarang, ketika media massa mengabdi pada ideologi sekularisme kapitalisme yang kafir. Media massa kini telah menjadi alat destruktif untuk menghancurkan nilai-nilai Islam, dengan mengeksploitir nila-nilai dan gaya hidup bebas ala Barat.

Jelas, hanya Islam yang menyelesaikan persoalan pergaulan bebas secara tuntas. Di sisi lain mengatur media digital agar sejalan dengan nilai-nilai Islam. Tentunya semua dapat berjalan sempurna kalau Islam diterapkan secara kaffah dalam institusi negara yaitu Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Insya Allah. Wallahu’alam bishshawwab.

Ummu Naflah
Muslimah Peduli Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker