TELADAN

Membela Tauhid, Membela Agama Allah

Massa Aksi Bela Tauhid 211 memadati area Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat pada Jumat, 2 November 2018. Kemudian mereka melakukan long march dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara setelah salat Jum’at. Massa membawa sejumlah atribut bertuliskan kalimat tauhid, mulai bendera, topi, hingga ikat kepala.

Ketua Media Centre Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin mengatakan, aksi kali ini menuntut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Said Aqil Siradj dan Ketua Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qaumas untuk meminta maaf terkait pembakaran bendera berlafaz tauhid. “Pimpinan NU dan Banser wajib minta maaf,” ujar Novel, Detik.com (2/11).

Novel juga meminta kepada tiga pelaku pembakaran bendera di wilayah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, dihukum maksimal. “Proses hukum dengan adil, harus dijerat dengan Pasal 165a bukan Pasal 174, sebagaimana yang ditetapkan saat ini, viva.co.id (2/11).

Tak hanya itu, ia juga meminta kepada Ketua GP Ansor memberikan klarifikasi kepada masyarakat secara menyeluruh, terkait pernyataannya yang menyebutkan bendera bertuliskan lafaz tauhid itu bendera organisasi Hizbut Tahrir Indonesia. “Klarifikasi atas kebohongan pimpinan Banser yang bendera tauhid di katakan sebagai bendera HTI,” ujarnya.

#Membela Tauhid

Indonesia negeri yang dicinta. Umat ingin menyelamatkan negeri ini. Dari tangan-tangan kotor. Dari keputusan menyesatkan. Dan dari orang-orang salah pemegang kebijakan. Inilah yang melandasi umat bergerak menyuarakan aspirasinya dalam aksi bela tauhid II. Sebab kesalahan dalam pengurusan umat, maka efek kerusakan yang ditimbulkan akan sangat besar.

Jika dikatakan bahwa aksi adalah pekerjaan mubazir, maka tidak tepat pernyataan bapak mantan Panglima ABRI tersebut. Sebab membela tauhid adalah membela agama Allah. Sekalipun berpanas-panasan, mengeluarkan dana yang tidak sedikit dan besarnya usaha yang dikeluarkan, akan tetapi itu adalah hujah kita kelak di yaumul akhir.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 7).

Membela bendera tauhid, yang pada gilirannya nanti akan membela seluruh syariat agar diterapkan di bumi Allah, adalah aktivitas membela agama Allah. Seperti yang dijanjikan bahwa dengan ini, akan teguh kedudukan kita di dunia dan akhirat. Maka mengarahkan seluruh aktivitas demi mendapat rida Allah, adalah aktivitas yang berkualitas tinggi.

Berbeda pada masyarakat yang terbentuk dalam atmosfer kapitalis, materi dijadikan tujuan dan sandaran sebuah perbuatan. Sehingga jika keuntungan materi tidak didapat, akan merasa rugi. Berpanas-panas melakukan aksi, akhirnya dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang nyaman dalam sekularisme.

Lihatlah betapa sulitnya menegakkan kebenaran di negeri ini. Umat harus mengerahkan tenaga, melakukan demonstrasi untuk muhasabah lil hukam, agar bisa dilihat dan didengar oleh pemegang kebijakan. Mengumpulkan massa hingga ribuan orang, yang memiliki frekuensi yang sama. Visi dan misi sama. Itupun tidak selalu ditanggapi dengan tepat oleh penguasa.

Sebagaimana yang disampaikan Menteri Agama Lukman, ketika beliau mengajak umat mengakhiri polemik pembakaran bendera di Garut. Wiranto pun meminta soal kasus pembakaran bendera tak lagi diributkan. Senada dengan itu Wakil Kapolri Komjen Ari Dono menyatakan bahwa aksi tersebut tidak perlu dilakukan. Sebab proses hukum sudah berjalan.

Akan tetapi, berbagai fakta politik yang terjadi dari waktu ke waktu, dengan tanpa ri’ayah yang tepat dari penguasa, membuat umat berpikir. Ditambah lagi dengan banyaknya dakwah Islam yang semakin massive di tengah umat. Tak dapat dipungkiri saat ini umat menjadi semakin cerdas, mengelola pemikiran dan perasaannya agar sejalan dengan Islam.

Sebab umat kini mampu membandingkan, jika sebuah masalah diselesaikan dengan solusi Islam maka solusi yang didapat jauh lebih cemerlang dibandingkan solusi sekularisme. Oleh sebab itu kebangkitan umat sungguh tinggal selangkah lagi. Persatuan karena akidah menjadi sebuah persatuan yang dirindukan.

Semakin sering musuh-musuh melakukan berbagai tindakan bodoh mempersekusi Islam. Akan semakin tinggi kebutuhan umat terhadap persatuan. Maka, tidak akan lama lagi seluruh simbol-simbol Islam menjadi simbol milik umat. Seluruh pemikiran Islam menjadi pemikiran umat. Dan pada gilirannya umat sendiri yang akan menuntut perubahan ke arah Islam.

Seperti halnya Rasulullah ketika diminta meninggalkan dakwah dalam, dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam al-Maghazi (Sirah Ibnu Hisyam) dengan sanad dari Ya’qub bin Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas, ia mengisahkan, “Ketika kaum Quraisy mendatangi Abu Thalib untuk memprotes semua kegiatan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Maka Abu Thalib menegur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu datang kepadaku lalu memprotes begini dan begitu, karena itu tetaplah denganku dan jagalah dirimu, serta janganlah engkau bebani aku sesuatu yang aku tidak mampu untuk mengembannya,”

“Wahai Paman, Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya,” kata Rasulullah.

Rasul tidak meninggalkan Islam. Beliau tetap menyeru, mengajak umat kepada cahaya kebenaran yang hakiki. Jangan keluar dari barisan perjuangan, ganjaran bagi para pejuang yang menggariskan jalan kebaikan, berbeda dengan para penonton. Membela Islam lillah itu sungguh sangat indah. Al Islaamu ya’lu wa laa yu’laa alaihi.

Lulu Nugroho
(Muslimah Revowriter Cirebon)

ARTIKEL TERKAIT

Close