TELADAN

Mencegah Kemungkaran

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Saya bukan ahli hadits. Namun mencoba membuat catatan akan hadits tersebut. Jika banyak para ulama menafsirkan bahwa hadits tersebut merupakan tingkatan seseorang dalam mengatasi kemungkaran, saya yang faqir ini sangat sepakat. Dan para ulama hadits pun menyimpulkan bahwa merubah kemungkaran hukumnya adalah wajib, maka 1000% saya setuju.

Kemungkaran adalah lawan dari kebaikan. Kemungkaran artinya sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Artinya perbuatan makruh atau haram yang dilakukan oleh manusia, itulah kemungkaran. Adanya kemungkaran dalam kehidupan manusia pun adalah suatu keniscayaan. Karena Allah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Jadi, kemungkaran itu akan selalu ada. Itu satu poin.

Kata “tangan” dalam hadits di atas, oleh banyak ulama hadits ditafsirkan dengan kekuasaan. Maka setiap kita adalah penguasa atas apapun yang dikuasakan ke kita. Kalau tak nyaman dengan bahasa penguasa, gantilah dengan pemimpin. Sebagaimana hadits Rasulullah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Jadi, setiap kita pasti punya kekuasaan. Ini poin yang kedua.

Allah menciptakan manusia dengan sempurna. Dalam ayat Al-Qur’an: fii ahsani taqwiim. Dan Allah pun tidak menciptakan kita dengan main-main. Maka setiap kita pasti memiliki lisan. Jika tak ada lisan, maka tulisan pun bisa mewakili. Ini poin ketiga.

Setiap kita memiliki hati. Tentang hati, Rasulullah Saw pernah bersabda: Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati..” (HR. Muslim).

Menurut syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, amalan hati ini jauh lebih besar dari amalan badan. Hati laksana raja, dan anggota badan adalah prajuritnya. Ini poin keempat.

Berdasarkan poin-poin di atas, saya mencoba membuat sebuah wacana. Adanya kekuasaan, adanya tangan, dan adanya hati adalah untuk melawan kemungkaran. Takkan Allah sediakan jalan untuk kita berkuasa/memimpin jika kita tak bisa melawan ataupun mencegah kemungkaran. Artinya, fungsi kekuasaan adalah dalam rangka mencegah dan melawan kemungkaran.

Ini yang harus diingat oleh kita. Jadi siapapun kita, apapun kita, maka tak boleh kita membiarkan kemungkaran ada di depan mata kita. Apalagi dalam wilayah kekuasaan kita. Menjadi ibu, wajib mencegah kemungkaran yang dilakukan anak-anak nya. Jadi guru, wajib mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh siswa-siswinya. Jadi kepala sekolah, wajib mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh siswa, guru, dan semua staf yang ada di sekolah. Jadi ketua RT, wajib mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh warganya. Bagaimana mencegah kemungkaran dengan kekuasaan? Buatlah peraturan-peraturan yang isinya memfasilitasi kebaikan dan memberikan sanksi bagi yang melakukan kemungkaran. Semakin tinggi kekuasaan kita, semakin luas lingkup pencegahan kemungkaran kita.

Begitupun dengan lisan dan hati kita. Allah ciptakan untuk memperbanyak amal kebaikan. Mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Itulah makna penciptaannya, yaitu untuk beribadah. Segala hal yang diridhoi Allah, itulah ibadah. Mencegah yang mungkar, itupun ibadah.

Termasuk pada peristiwa pembakaran bendera tauhid. Seberapa besar marahnya kita pada penistaan bendera Rasulullah? Seberapa banyak lisan serta tulisan kita menyebarkan bahwa perbuatan membakar bendera tauhid dengan penuh kebencian itu adalah sesuatu yang tak diridhoi Allah. Sudah berapa banyak orang-orang yang di bawah kepemimpinan kita yang diajak ke aksi bela kalimat tauhid?.

Karena keimanan tak mungkin membuat kita berada pada kondisi netral. Hanya ada dua pilihan: dukung atau tolak. Mengajak kebaikan atau mengajak kemungkaran. Mencegah kemungkaran atau mencegah kebaikan. Tenyukan posisi anda dengan potensi yang tiga tadi: tangan, lisan, dan hati. Wallahu a’lam []

Mahrita Ummu AisyUmar
Member Akademi Menulis Kreatif

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

Close
Close