#Ramadhan Karim 1440HINTERNASIONAL

Mengenal Maladewa, Negeri Islam di Tengah Samudera Hindia

Jakarta (SI Online) – Maladewa adalah negara yang identik dengan pantai yang memesona dan pengalaman menyelam yang menakjubkan. Tapi, banyak orang di dunia yang melewatkan sejarah negara kepulauan ini, yang 100 persen penduduknya adalah Muslim.

Dalam konstitusi Maladewa disebutkan, Islam adalah agama wajib bagi seluruh warganegaranya. Dengan itu, tidak ditemukan satupun warganegara Maladewa non-Muslim di ratusan pulau kecil yang ditemukan oleh pelaut dan pedagang Arab pada abad ke-12 tersebut.

Sementara di Ibukota Maladewa, Male, terdapat makam Abu al-Barakat Yusuf al-Barbari. Laman Aljazeera.net menyebutkan, dari namanya, Abu al-Barakat diduga adalah seorang Dai asal Amazigh Maroko yang mengakhiri perjalanan dakwahnya di salah satu pulau yang ada di Maladewa.

Ketika itu, Sultan Maladewa masuk Islam di hadapan Abu Barakat, yang kemudian diikuti oleh seluruh penduduknya yang beragama Budha. Sultan kemudian membangun masjid dan madrasah sebagai sarana untuk mengajarkan agama yang baru dipeluk masyarakat itu.

Sebelum Islam, penduduk Maladewa memiliki satu ritual yang cukup memberatkan, yaitu mengorbankan gadis untuk sosok yang mereka sebut sebagai ‘Iblis Lautan’. Setiap bulan, suku-suku di Maladewa akan memilih seorang gadis akan dikorbankan untuk memedamkan kemarahan ‘Rannamari’.

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Batutah, juga menggambarkan adat dan kebiasaan penduduk Maladewa saat ia mengunjungi kawasan ini pada abad ke-14 lalu.

Dalam dokumentasinya, Ibnu Batutah mengisahkan Abu Barakat yang seorang penghafal Al-Quran singgah di rumah seorang tua di Maladewa. Orang tua tersebut menangis sampai kehabisan air mata. Usut punya usut, ternyata kediaman si orang tua diharuskan untuk berkorban sebagaimana adat dan kebiasaan, sementara orang tua itu hanya memiliki seorang anak gadis.

Mendengar itu, Abu Barakat lalu menawarkan diri kepada orang tua untuk menjadi pengganti bagi anak gadisnya, yang artinya ia harus dibunuh oleh jin. Pada malam hari, Abu Barakat menyelinap ke dalam bangunan berhala dan berdiam diri di sana dalam keadaan berwudlu.

Pagi harinya, si orang tua dan seluruh penduduk datang ke bangunan itu dengan maksud membawa keluar gadis yang telah dikurbankan untuk dibakar, sesuai adat mereka. Namun mereka terkejut. Pasalnya, mereka justru mendapati Abu Barakat sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, dan tidak terbunuh.

“Warga kemudian membawa Abu Barakat kepada raja mereka. Mereka lalu menceritakan fakta yang baru saja terjadi. Raja pun terkejut. Ketika ditanya, Abu Barakat menjelaskan tentang Islam kepada sang Raja. Lalu, Raja berkata ‘bulan depan, lakukan lagi (berdiam di bangunan berhala untuk dibunuh jin), jika kamu selamat maka aku masuk Islam,” tutur Ibnu Batutah mengisahkan perjalanan Abu Barakat.

Pada bulan selanjutnya, Abu Barakat melaksanakan permintaan dari sang Raja. Lagi-lagi ia dapat lolos dari jin kepercayaan warga di pulau itu.

Ibnu Batutah melanjutkan kisahnya, “Lalu Raja dan seluruh penduduk pulau itu masuk Islam. Abu Barakat mendapat tempat yang sangat mulia di sisi penduduk. Penduduk juga bermazhab dengan Mazhab Imam Malik, sesuai yang dianut Abu Barakat. Bahkan, penduduk juga membangun masjid dan diberi nama Abu Barakat.”

Memang, Islam tergolong akhir masuk ke Maladewa, yaitu abad ke-12. Namun begitu, banyak sejarawan dan pengamat menilai fakta sejarah tersebut sebagai titik tolak yang sangat penting bagi Maladewa.

Setelah masuk Islam, Raja Maladewa yang sebelumnya beragama Budha itu kemudian mengubah namanya menjadi Sultan Mohamad al-Adel. Sejak itu, Kesultanan Islam di Maladewa berlangsung hingga tahun 1965 ketika negara itu mengadopsi pemilihan umum dalam sistem pergantian pemerintahannya.

Gelar resmi Sultan Maladewa hingga tahun 1965 adalah ‘Yang Mulia Sultan Bumi dan Laut, Penguasa Dua Belas Ribu Pulau dan Sultan Maladewa’.

Secara historis, bahasa Arab juga menjadi bahasa resmi yang digunakan oleh Kesultanan. Padahal, negara-negara Islam di kawasan itu lebih banyak menggunakan bahasa Persia dan Urdu. Madrasah Fiqih Maliki juga menjadi sekolah resmi di kepulauan tersebut hingga abad ke-17.

sumber: rmol.co

Tags

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

Close
Back to top button
Close
Close