SURAT PEMBACA

Merdeka Hakiki, Merdeka Bersama Islam

Haji Satibi dari Rawa Mekar Jaya (Serpong); keluarga Baba Komboy dari Parakan (Pamulang), Baba Dahlan, dan Baba Arsan dari Benda Baru (Pamulang); serta Amir Ali dari Serpong Utara, adalah veteran dan sesepuh pejuang bangsa yang tinggal di Kota Tangerang Selatan.

Tercatat ada 50 veteran yang tinggal tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Kota Tangerang Selatan. Angka itu belum termasuk mereka yang luput dari pendataan swadaya oleh masyarakat.

Jangan membayangkan bahwa kehidupan mereka penuh kemewahan. Sebaliknya kehidupan mereka terbilang memprihatinkan. Berbanding lurus dengan gegap gempita euforia dan seremonial HUT RI, 17 Agustus 2018, yang ke-73.

Sebagian besar veteran tersebut justru harus menghadapi kerasnya jalan meniti kehidupan. Tak sedikit pula dari mereka harus banting tulang dengan tubuh yang kian menua. Semata mata untuk mencukupi kebutuhan hidup yang kian melambung tinggi.

Berdasarkan data yang dihimpun, veteran maupun sesepuh pejuang kebudayaan di Kota Tangsel banyak yang terpaksa mencukupi kebutuhan hidup dari bertani. Ada juga yang menjadi pengojek sepeda motor, berdagang kecil-kecilan, hingga menjadi guru silat (detik.com, 17/8/2018).

Besarnya tunjangan dari pemerintah ternyata tak cukup membuat mereka hidup nyaman di hari tua. Sedih mengingat bagaimana perjuangan mereka di garda terdepan menghadapi bengisnya penjajahan Belanda.

H. Satibi dan kawan-kawan hanyalah setitik gambaran dari ribuan veteran di Indonesia yang hidup dalam bayang-bayang kemiskinan. Jasad boleh terbebas dari belenggu penjajahan. Tapi kehidupan masih jauh dari kata sejahtera, bahkan bagi para pejuang kemerdekaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka memiliki arti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Sedangkan kemerdekaan adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan.

Dari makna tersebut sudahkah kita benar-benar merdeka?

Berbicara tentang kemerdekaan tidak terlepas dari penjajahan. Sebab suatu bangsa disebut merdeka bila terlepas dari penjajahan. Baik secara jasadi maupun secara ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan, serta pemikiran.

Penjajahan pada intinya merupakan politik suatu bangsa/negara untuk menguasai bangsa/negara lain demi memenuhi kepentingan kaum penjajah. Penjajahan tak jauh beda dengan perbudakan. Sebab sama-sama sebagai upaya mengeksploitasi negeri jajahan secara zalim.

Kapitalisme telah menjadikan penjajahan sebagai metode baku negara-negara kapitalis khususnya negara Barat, terutama AS, untuk menguasai dan menyebarluaskan ideologinya (An-Nabhani, Mafahim Siyasi, 2005).

Dahulu kekuatan militer digunakan untuk menduduki suatu negeri/wilayah. Serta mendirikan pemerintahan kolonial di negeri/wilayah jajahan. Kini penjajahan gaya lama ini telah lama ditinggalkan. Pasalnya, penjajahan secara militer terbukti begitu mudah membangkitkan perlawanan dari penduduk di negeri/wilayah jajahan. Sebab rakyatlah yang secara langsung merasakan penindasan dan pengeksploitasian.

Kemudian ditempuhlah model penjajahan gaya baru dimana pihak terjajah tak sadar bahwa negeri/wilayahnya tengah dijajah. Penjajahan gaya baru ini sama berbahaya dengan penjajahan gaya lama. Bahkan boleh jadi lebih berbahaya. Sebab penduduk negeri/wilayah jajahan tak mudah merasa/sadar bahwa negeri/wilayahnya tengah dijajah.

Penjajahan gaya baru mengambil kontrol atas ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum dan hankam, serta pemikiran di negeri jajahan. Mirisnya, semuanya itu dilegalkan lewat undang-undang. Sebab banyak keputusan politik, khususnya dalam bentuk undang-undang berada dalam kontrol asing.

Inilah cerita Indonesia hari ini. Berada dalam cengkeraman penjajahan gaya baru ala Barat. Di bidang ekonomi, hutang makin melejit tinggi sebab dalam jeratan ekonomi neoliberalisme ala IMF dan Bank Dunia. Dua raksasa lembaga keuangan internasional yang menjadi alat penjajahan global.

Sementara negara berlindung di balik undang-undang neolib, menjual bebas aset negara. Tambang emas, minyak, gas dan banyak sumber daya alam lainnya di negeri ini telah lama dikuasai dan diekploitasi oleh PT Freeport, Exxon Mobile, Newmont, dan banyak perusahaan asing lainnya.

Sementara di bidang sosial, 25,95 juta rakyat berada di garis kemiskinan. Bertarung di rimba kapitalisme untuk bertahan hidup. Sebab dibayang-bayangi mimpi buruk naiknya sembako, BBM dan TDL. Jargon “Rakyat Miskin Dilarang Sakit” pun kian nyata. Terbukti dengan adanya komersialisasi pelayanan kesehatan yang makin menjadi.

Lost generation pun mengancam negeri ini. Tren pergaulan bebas meningkatkan angka aborsi dan pembuangan bayi. Tercatat 178 bayi dibuang sepanjang tahun 2017 (tribunnews.com, 1/1/2018). Angka pembunuhan pun tak kalah tinggi, sebab dipicu maraknya kasus KDRT, perselingkuhan dan prostitusi.

Alhasil bangsa dan negeri ini, sebetulnya belum benar-benar merdeka. Belum benar benar terbebas dari penjajahan. Secara jasadi kita boleh saja merdeka. Tapi secara ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, hankam dan pemikiran sejatinya kita masih terjajah.

Islam memandang kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya. Sebaliknya mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah Ta’ala saja. Itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki.

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia terukir indah dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syubah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash ra.

Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rib’i bin ‘Amir yang di utus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia.

Jenderal Rustum bertanya kepada Rib’i bin ‘Amir, “Apa yang kalian bawa?”

Rib’i bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam”

Maka merdeka hakiki, merdeka bersama Islam saja. Ketika hamba terlepas dari penghambaan kepada sesama/hukum manusia. Sebaliknya tunduk dan patuh pada hukum Allah Ta’ala saja. Serta menjadikan Islam sebagai satu-satunya syariat yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Solusi problematika yang menimpa negeri ini selama 73 tahun lamanya. Wallahu’alam bishshawwab.

Ummu Naflah
Penulis Bela Islam, Member Akademi Menulis Kreatif

ARTIKEL TERKAIT

Close