REMAJA

Merdeka, Hanya dengan Islam Guys!

Ayo ! Ayo ! Tarik yang kuat ! Lari yang cepat ! Horeee….!! Menang!. Guys, bener gak sih pekan ini hampir diseluruh pelosok negri ini. Dari kota hingga pojok RT euforia perlombaan riuh dengan rancaknya. Mulai dari tingkat balita hingga manula tanpa terkecuali. Mulai dari perlombaan yang soft hingga yang sifatnya hard guys. Lomba perseorangan ataupu lomba perkelompok. Semuanya tertuju untuk memperingati kemerdekaan. Geliat kebebasan dalam euforia menyambut dan memperingati kemerdekaan menjadi rutinitas tahunan. Perilaku yang seolah menembus akal batas manusia sudah hal biasa. Lomba-lomba yang katanya seru, heboh, keren dan sebagainya. Tak sadarkah guys, bahwa sesungguhnya ini bukanlah kemerdekaan yang sebenarnya. Tapi kita ini dijajah pemikiran sehingga membenarkan dalam benak kita. Guys, kalo arti merdeka sendiri menurut KBBI adalah 1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb).

Bebas dari penghambaan dan penjajahan. Emang benar sih kita sudah tidak dijajah lagi dengan fisik. Tank- tank penjajah tak ada disekitar kita guys, layaknya yang ada dalam dokumenter sejarah. Tak ada lagi kerja rodi dan romusa seperti yang kita pelajari dalam mapel sejarah di sekolah. Sungguh guys! kita harus cerdas menelaah fakta penjajahan gaya baru yang terjadi sekarang. Bahwa, kita umat Islam sebenarnya nyata dalam penjajahan pemikiran oleh barat dengan apa yang disebut neoliberalisme.

Sebagai remaja yang cerdas berfikir, pastinya kita faham betul apa neoliberalisme (neo: baru, liberal: bebas). Pemikiran yang lahir dari penerapan Ideologi sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Sehingga darinya muncul aturan kehidupan yang datangnya dari manusia. Maka dengan kekuasanya manusia bebas mengatur segalanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Guys! Merdeka hakiki itu abadi, bukan sesaat pas perlombaan saja. Tapi usai perlombaan kembali lagi merasakan hidup dalam jeratan neoliberalisme dalam semua aspek. Gimana tidak guys, sekolah mahal, bapak-ibu kita untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari aja susahnya minta ampun, bikin ngelus dada.

Kesehatan masyaallah mahalnya, ibarat pepatah orang miskin tak boleh sakit. Sekalipun pakai jaminan kesehatan prosedutnya rumit luar biasa. Yang paling kerasa banget, jiwa mud terkekang. Bagaimana tidak terkekang, remaja adalah masanya mencari jati diri sangat dibatasi. Saatnya para remaja mencari kebenaran arti hidup dengan mengikuti kajian-kajian intensif keislaman baik di sekolah, rumah ataupun kampus dicap radikal. Sangat berbanding terbalik perlakuannya manakala yang menjadi dasar aktifitasnya bukan Islam. Akan diapresiasi dan dibiarkan, contoh LGBT merambah bebas dalam segala aktifitas. Masih dibilang merdeka guys!! Pastinya bukan dong!

Sejatinya dengan Islamlah kemerdekaan tercapai, bukan yang lain. Dengan penerapan Islam semua aspirasi sesuai dengan fitrah remaja akan terpenuhi. Bebas menjalankan aktifitas kewajibanya tanpa tekanan dari sistem. Wallahu’alam.

Silvi Ummu Zahiyan
(Pemerhati Remaja, Komunitas Belajar Nulis)

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

Close
Close